Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Angpaoku Hilang

Mataku mulai bergerilya memperhatikan setiap rak buku di sebuah toko buku ternama. Pada rak yang pertama buku-buku Agama, rak berikutnya novel-novel terjemahan seperti karya Dan Brown, RL Stine, dan lain-lain. Selanjutnya novel-novel karya putra putri bangsa seperti Biru Samudera, Ika P. Hertina, Fuka Hana, Dee, dan banyak lagi yang lain. Tapi hari ini aku sedang tidak berburu novel,  tetapi aku sedang berburu amplop. Aku mencari amplop yang bergambar imut dan lucu, untuk wadah uang pecahan yang kemarin aku tukar di bank. Amplop berisi uang pecahan itu akan aku bagikan pada keponakan-keponakanku yang jumlahnya cukup banyak saat hari raya nanti. Sebuah amplop menarik perhatianku, berwarna ungu lavender, bergambar temaram cahaya bulan di balik pepohonan dan bukit, nampak indah sekali. Segera ku ambil beberapa bungkus di mana setiap bungkusnya ada sepuluh amplop. Malam harinya usai salat tarawih, aku mulai memasukkan pecahan uang dua puluh ribuan ke amplop tersebut. Tinggal sisa sa...

I Have A Dream

Aku adalah ibu dari tiga orang anak, kegiatan sehari-hari adalah sebagai seorang pengajar Biologi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). selain sebagai seorang guru ada beberapa tugas tambahan di sekolah. Kegiatan yang seabrek tersebut semua harus kuselesaikan dengan baik, meskipun aku sebagai single parents. Dunia literasi sebenarnya bukan sesuatu yang murni baru bagi diriku, karena sejak SD dulu aku sudah sangat suka membaca dan menulis, hanya saja saat itu aku tidak mengetahui jika itu termasuk bagian dari literasi. Di era yang serba canggih ini, aku mengenal facebook sebagai salah satu media sosial online yang sangat diminati semua kalangan. Kecanggihan fitur facebook benar-benar menjadi pusat informasi yang sangat dinamis, dampak yang ditimbulkannya sangat beragam, bisa positif dan negarif tergantung penggunanya. Dari sinilah aku berpikir ingin memaksimalkan akun facebook tidak saja  sebagai sarana berinteraksi dengan orang lain tetapi juga sebagai media untuk menhembangkan hal-ha...

Surat Terakhir

Panas yang terik membuat peluh Bu Jamilah bercucuran, ia menyeka dengan ujung lengan bajunya yang sudah kusam. Sandal jepit yang sudah tipis menjadi pelindung kakinya yang keriput. Dengan sebatang tongkat, Bu Jamilah menyusuri jalan di salah satu kawasan perumahan elit kota Surabaya. Mata Bu Jamilah hanya satu yang berfungsi, itupun sudah sedikit rabun termakan usia yang semakin senja. Sejenak ia berhenti di depan rumah mewah bernomor 22. Bu Jamilah merogoh secarik kertas yang ia simpan di tas lusuhnya. "Sepertinya aku tidak salah, jalan Letjend Panjaitan no: 22, betul ... tidak salah lagi, ini rumah Irvan anakku." Ujar Bu Jamilah lirih. Rumah itu berlantai dua, tiang-tiangnya kokoh bercat putih, tirai di jendela menjuntai indah, halaman yang luas penuh dengan bunga dan pohon-pohon bonsai, di sudut kanan ada kolam ikan Koi, dan di bagian tengah ada patung kecil yang mengalirkan air mancur lengkap dengan beberapa lampu taman. Di garasi terparkir satu honda jazz merah dan sa...

Serendipity

Ranti memacu motor bebek bututnya dengan kencang, wajahnya berbinar penuh semangat. Amplop yang berisi THR Rp. 1.500.000 dari majikannya sudah ia terima. Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan anak-anaknya mengenakan mukena baru yang diimpikannya sejak beberapa bulan yang lalu. Suami Ranti sudah lima tahun tiada kabar berita semenjak pamit bekerja ke Arab Saudi. Praktis selama itu pula Ranti harus rela menjadi karyawan pabrik dengan gaji yang pas-pasan. "Nak, THR Emak sudah cair, nanti sore kita ke toko Mawarid ya, beli mukena dan kue lebaran, sisanya untuk beli buku kalian." Ucap Ranti penuh binar pada dua anak gadisnya, Rina dan Rani. " Beneran, Mak? Hore... alhamdulillah." Jawab mereka berbarengan. Di saat mereka tengah berdiskusi tentang warna mukena dan jenis kue lebaran yang akan dibeli, terdengar pintu rumah yang diketuk. Ternyata Bu Halimah yang datang dengan wajah panik dan menangis. Ia mau pinjam uang untuk Ilham anaknya yang terserempet motor saat pula...

Tangis Menyambut Fajar

"Ping." Notifikasi gawaiku berbunyi. Pesan masuk dari Nadya, Istriku. "Ayah sudah mengajukan cuti pa belum, sepertinya beberapa hari lagi aku akan melahirkan," isi chat dari Nadya. "Iya, Sayang. Segera aku usahakan mengurus izin cutiku." Balasku Terbayang olehku, wajah istriku yang cemas menghadapi kehamilan pertamanya seorang diri. Aku adalah pegawai PT. KAI, sebagai sekretaris di kantor pusat yang sehari-harinya bertugas di Bandung dan Jakarta. Tidak jarang aku juga harus pergi ke beberapa penjuru Indonesia menyertai Direkturku. Sedangkan istriku menempati rumah kami di Surabaya. Kami menjalani hidup secara LDR¹ dan kadang aku menyempatkan pulang ke Surabaya di akhir pekan jika tidak ada Dinas Luar. Setelah pernikahanku enam tahun yang lalu, istriku belum menunjukkan tanda-tanda kehamilannya, sebagai pasangan baru, tentu kami mendambakan anak sebagai buah hati kami. Berbagai upaya telah kami tempuh, tapi sayangnya Tuhan belum memberikan anak kepada ...

Malam Seribu Kemuliaan

Dua belas bulan dalam satu tahun, satu diantaranya adalah bulan yang paling mulia dibandingkan dengan sebelas bulan lainnya yaitu bulan ramadhan, sebab di dalamnya terdapat kemuliaan dan keistimewaan, Lailatul Qodar namanya. Lailatul Qodar menjadi sangat istimewa karena Qodar itu sendiri mempunyai tiga penafsiran. Pertama, Qodar berarti penetapan. Sebagaimana disebutkan pada surat Ad duhkon ayat ketiga, yaitu malam penetapan Alloh bagi perjalanan hidup manusia. Dalam kitabnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taqdir manusia sudah ditulis dan ditetapkan sejak zaman azali di Lauhil mahfudz. Kemudian setiap tahunnya taqdir manusia tentang rizki, ajal, dan lain-lain akan disampaikan kepada Malaikat secara rinci pada malam Lailatul Qodar, dengan demikian para Malaikat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Kedua, Qodar berarti sempit.  Karena pada malam itu ruh (Jibril) dan Malikat-malaikat turun ke bumi atas izin Alloh. Hal itu jelas disebutkan dalam surat Al Qodar ayat keempat serta...

Tiket mudik impian

"Reno, Ian, Ina, Opik! ayo segera persiapkan baju-bajumu, besok habis subuh kita harus segera ke stasiun, karena kita ikut kereta pemberangkatan yang pertama." Perintahku. Seketika anak-anakku sibuk sendiri, mereka menyiapkan tas punggung masing-masing. Lemari baju di acak-acak untuk dipilih baju yang mereka suka. "Ma! mobil-mobilanku saya bawa ya?" tanya Opik anak bungsuku. "Aku bawa tembak-tembakan ya, Ma?" suara Ian  ikut berteriak. "Kalau yang lain boleh membawa mainannya, Ina juga boleh bawa boneka kan, Ma?" tanya ina, satu-satunya anak perempuanku sambil memelas. "Opik, Ian, Ina... dengar Mama! kita mudik ini bukan untuk piknik atau berlibur sayang, tapi kita mau berlebaran di rumah Eyang barang dua atau tiga hari saja, nanti di sana kita juga akan berkeliling silaturrahim ke rumah saudara-saudara yang lain, jadi ngga sempat main." "Yaaaah, Mama...plis Ma, boleh ya kita bawa mainan satuuu saja. Rengek anak-anakku seremp...

Tiket Mudik

"Reno, Ian ... ayo cepat, nanti kita ketinggalan kereta! Dengan tergesa kami memasuki stasiun untuk mudik. "Mana tiket Ibu?" tanya penjaga. Kubuka tasku, "Ya ampuuuuunn! tiketku ketinggalan...." Aku lemas, menyesali keteledoranku.

Tolong, selamatkan aku!

Hari kedua berkemah di kaki gunung Klotok Kediri, tepat jam dua belas malam, tenda tempatku beristirahat bersama teman-teman dikejutkan oleh suara peluit yang ditiup kakak senior untuk membangunkan kami. Tengah malam ini saatnya 'mabit' yaitu malam bina dan taqwa dalam bentuk renungan malam. Aku dan teman-teman digiring ke tepi hutan yang mengitari gunung Klotok. Hawa dingin dan hembusan angin yang aneh langsung menyergap tubuhku. Gelapnya malam dan hanya diterangi beberapa lilin saja, semakin membuat nyaliku menciut. Pucuk-pucuk daun pepohonan di mataku nampak seperti rambut raksasa yang melambai-lambai. Salah satu kakak senior memimpin acara, dia mulai berbicara tentang fakta-fakta penciptaan Alloh yang maha dahsyat. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan hadirnya sosok perempuan berkisar 17 tahun. Wajahnya penuh luka sayatan yang mengeluarkan anyir darah, rambut panjangnya awut-awutan, dan kepala yang hampir hancur itu membuat isi perutku mau keluar. Ia merintih dalam tangis yang ...

Toilet Masjid

Rokaat kedua sudah berlangsung, imam sedang membaca surat Al Insyiroh, di saat aku sedang berusaha meresapi arti surat bacaan imam, tiba-tiba konsentrasiku terganggu dengan aroma busuk menguar di dekat hidungku. Tidak lama kemudian Parjo yang ada di sebelah kiriku menghentikan salatnya dan ia keluar dari shaf salat. Salat Isya' sudah selesai dilaksanakan, tapi aku belum melihat Parjo kembali. Sampai saatnya taraweh dimulai. "Mungkin Parjo pulang," pikirku. Rokaat demi rokaat taraweh sudah dilaksanakan, hingga imam mengakhiri salat Isya' dan taraweh malam ini dengan do'a. Semua jamaah sudah pulang, tinggal aku yang terakhir. Tetapi di sebelah sandalku aku melihat sandalnya Parjo. Aku melengok kanan kiri, masjid sudah sepi, lampu masjid sudah dimatikan sebagian, tapi aku tidak melihat Parjo. Saat Pak Imron, takmir masjid mematikan lampu toilet masjid, tiba-tiba ada teriakan dari sana. Aku dan Pak Imron segera berlari menuju toilet masjid, di depan pintu kamar mand...

Harta Sejatiku

Kultum sebelum salat taraweh sudah dimulai, seperti biasa kotak berukuran 60 cm x 40 cm dan terbuat dari kayu itu diedarkan dari tangan satu ke tangan yang lain para jamaah. Sebuah kotak amal yang terkunci rapat dan hanya terdapat lubang kecil di atasnya. Di antara para jamaah ada yang memasukkan koin limaratusan, ada yang seribu, dan sebagian besar mengisinya dengan dua ribu rupiah.  Pada baris jamaah yang kedua dan paling kiri, Mbok Darmi, penjual gorengan yang tiap sore menjajakan dagangannya di dekat masjid nampak khusyu' mendengarkan kultum. Ketika kotak amal sampai kepada dirinya, ia mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dompet kecilnya. Aku yang sering duduk di dekatnya selalu melihat Mbok Darmi memasukkan uangnya yang sepuluh ribu ke kotak amal. Padahal dalam hitunganku, pendapatan dari jual gorengan itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah setiap sorenya. Untuk menuntaskan penasaranku, aku memberanikan diri bertanya kepada Mbok Darmi, perihal kebiasaannya me...

Sajadah Terakhir Di penghujung Senja

Suasana yang semula tenang, malam itu berubah menjadi hiruk pikuk. Ratusan orang melakukan demonstrasi. Suara teriakan di sana-sini. Dengan sigap aparat kepolisian dan TNI mengamankan situasi supaya tidak bertambah rusuh. Akan tetapi situasi semakin memanas. Batu-batu mulai dilemparkan ke arah petugas yang melakukan pengamanan. Aparat kepolisian dan TNI yang bertugas dengan sabar mengahadapi para demonstran dengan hanya bersenjata tongkat dan tameng pengaman. Mereka hanya menangkis lemparan batu para demonstran. Kejadian memanas hingga keesokan harinya. Massa yang melakukan demonstrasi semakin beringas, mereka tidak hanya melempar batu-batu kepada aparat yang bertugas mengamankan, tetapi mereka juga melempari obyek-obyek vital, membakar mobil, membakar ban. Situasi semakin sengit. Massa akhirnya dibubarkan aparat dengan gas airmata. Menjelang sore hari, situasi agak kondusif. Beberapa polisi yang bertugas nampak istirahat di tepi jalan sambil menunggu saatnya berbuka puasa. Tidak ter...

Gua Hira, saksi bisu Nuzulul Qur'an

Al Qur'an adalah salah satu mukjizat yang diberikan kepada Nabi akhir zaman Muhammad SAW. Isi Al qur'an tidak begitu saja diturunkan secara bersamaan, tetapi diturunkan secara bertahap dan beriringan dengan peristiwa yang menyertainya. Ayat pertama yang diturunkan adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Saat itu Nabi Muhammad mendekati usia 40 tahun dan merasa tidak nyaman menghadapi kemusyrikan di sekitarnya, lalu beliau meminta izin kepada istrinya Khadijah untuk melakukan khalwat atau menyendiri di gua Hira, sebuah gua dengan panjang 4 hasta dan lebar 1,75 hasta yang terletak di jabal Nur. Selama satu bulan penuh di bulan ramadhan Nabi bertafakkur, beribadah, dan memohon petunjuk kepada Alloh, beliau hanya sesekali pulang ketika bekal yang dibawakan Khadijah sudah habis, lalu kembali lagi ke gua Hira untuk melanjutkan Khalwatnya. Tepat di usia 40 tahun, pada malam 17 ramadhan Jibril menemui Nabi di gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang pertama. Jibril datang dan mendekap N...

Ketika Semesta Berkata

Eva hanya mengaduk-ngaduk makanan di piringnya, matanya kosong menatap ke depan. Sesekali makanan itu dimasukkan ke mulutnya tanpa ia menikmatinya, hanya dikunyah dengan pelan dan tetap dengan pandangan yang kosong, satu persatu bulir bening menetes dari matanya. Suasana buka bersama yang ramai di masjid hunian sementara tidak mampu meramaikan hatinya. Hanya sekitar lima sendok makanan yang mampu ia telan. "Eva, kakak tau apa yang sedang kamu pikirkan dan rasakan, bukan hanya kamu yang kehilangan. Semua yang ada di sini juga telah kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Lihatlah itu! Abi, Haikal, Lala, Opik, dan yang lain, anak-anak kecil itu masih bisa tertawa riang meski orangtua dan keluarga mereka juga telah tiada." Dengan lembut Vina mengusap punggung tangan Eva, memberinya kekuatan. "Eva tidak bisa melupakan itu, Kak. Ayah tenggelam di lumpur tepat di depan mata, dan aku tidak bisa menolongnya." Ucap Eva lirih. "Iya, Kakak tahu. Itu bukan salahmu, ...

Ketupat Istimewa Surti

"Mak, sepurane ya, aku riyoyo iki ora iso bali, amergo tahun iki jatahku piket nunggu kantor." Suara parau Parjo menelpon Emaknya di kampung. "Iyo wes le, orapopo, seng ngati-ngati wae yo," pesan Emaknya. Selesai telpon Emaknya, Parjo duduk di pos jaga sebuah perusahaan besar di Surabaya, kulitnya yang hitam dengan postur tubuh yang tinggi besar sangat mendukung profesinya sebagai satpam. Dalam duduknya Parjo melamun, ia teringat makanan istimewa sajian Emaknya ketika lebaran, yaitu ketupat dengan lauk opor ayam, sambal goreng kentang, dan kerupuk udang. "Hemmmm, nikmat sekali," saliva Parjo turun naik membayangkan makanan lezat dan istimewa itu. Ketupat dan lauk pelengkapnya sangat istimewa bagi Parjo karena hanya ditemui setiap lebaran saja, di luar itu Emaknya hanya akan memberi lauk sambal terasi dan tempe goreng, sesekali ditambah telur dadar. "Hei! Nglamun wae, mikirne sopo hayo?" suara Surti si pemilik warung kopi di sebelah pos jaga mem...

Keramik masjid

Mbah Winarto berjalan terseok-seok dengan tongkatnya, subuh yang dingin dan gelap tidak menghalangi langkahnya menuju surau Al Ihlas di tepi desa. Tidak lama kemudian suaranya yang parau terdengar dari Toa yang sudah usang mengumandangkan adzan subuh. Lima menit setelah selesai adzan Mbah Winarto duduk bersila di lantai surau yang sudah bolong sana sini. Sambil menunggu jamaah yang lain, Mbah Win sapaan akrabnya, berhayal seandainya surau ini diperbaiki, lantainya diganti keramik yang bagus seperti keramik masjid di televisi, mungkin jamaahnya bisa bertambah banyak. Itulah impian Mbah Winarto. Sekitar sepuluh menit menunggu, datanglah Mbah Heru. "Win! wes age ndang dikomati, njur awake jamaah dewe, kowe Imame aku makmume." Ajak Mbah Heru. Mbah Winarto segera iqomah dan menjadi Imam salat subuh. "Her, misale lantai surau diganti dengan yang seperti keramik masjid nang kutho kae, palingno jamaahe tambah akeh yo?". Tanya Winarto." Isoae, sebab orang-orang podo ma...

Teman dari kegelapan

Gerimis sejak sore tadi tak kunjung reda, malam semakin menunjukkan gelap yang pekat. Asramaku sangat terasa senyap karena banyak yang memilih  pulang saat libur puasa. Angin dingin menyapu tengkukku, hiiii... aku bergidik sendiri. Aku sangat benci situasi seperti ini. Mengapa juga mataku tak bisa segera kupejamkan, sedang teman sekamar yang tinggal empat orang sudah lelap semua dalam dekapan mimpi masing-masing. Byur...byuur... byuur.... Terdengar air yang diguyurkan dari kamar mandi di sebelah kiri kamarku. "Siapa jam segini mandi, apa ngga dingin, jangan-jangan setan," pikirku. Belum juga terjawab penasaranku, aroma bunga kamboja menguar menusuk hidung, persis seperti di kuburan ketika ada yang baru dimakamkan. Tiba-tiba aku ingin pipis. "Sial! Mengapa tidak dari tadi aku pipis bareng Ana." umpatku dalam hati. Karena tidak sanggup menahan pipis lebih lama lagi, terpaksa kubangunkan Lely untuk menemaniku. Tapi Lely hanya menggeliat saja, terpaksa aku memberanik...

Kucari Cinta Sejatiku

Pipi kanannya bertato, telinga kiri dan kanannya penuh lubang bekas tindikan, demikian juga di bagian tengah ujung hidung, ada tiga lubang bekas tindikan, di leher masih terlihat tato bergambar kalajengking, di tangan kiri tato bergambar naga, berwajah tirus dan rambutnya dicat merah. Dio namanya, ia adalah anak tunggal dari salah satu pengusaha besar di Jakarta. Kehidupan metropolis, kurangnya perhatian orang tua, dan cintanya yang di tolak oleh Susan mengantarkan Dio pada kehidupan punk . Hidup bebas di jalanan dan menenggak minuman keras seperti vodka, beer, wine, rum, tequila, dan whiskey pernah ia coba semua. ----- Tapi semua itu adalah masa lalunya, sekarang ia sedang mendalami ilmu agama setelah hidayah Alloh menyentuh hatinya. Bersama santri-santri yang lain, hari ini ia khusyu' mendengarkan tausyiah Ustadz Ahmad. Ia tidak memperdulikan tatapan-tatapan aneh dari santri yang lain, baginya mencari kesejatian cinta itu lebih penting. Sebab selama ini hidupnya sangat gers...

Pelangi di kaki semeru

Aku bergegas menuju kantin untuk menemui Natasya setelah mata kuliah Genetika berakhir. Kami sudah bersepakat untuk packing segala keperluan mendaki gunung semeru. Sejak melihat film 5 cm, aku bermimpi suatu saat akan mampu sampai puncaknya bersama sahabat karibku Natasya. "Hai, Natasya! sudah lama menunggu?" "Baru juga lima menit, Al. Mata kuliah dasar akuntansi juga baru kelar kok." "Sudah ada berita dari Kak Candra belum, tentang persiapan pendakian kita ke Semeru nanti?" " Sudah, Alena. Pesan Kak Candra si Ketua MAPALA, kita harus menyiapkan perbekalan pribadi sekarang, sebab besok kita berangkat." "Kalau begitu, ayo ke rumahku, kita packing bersama. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu esok." "Ga sabar pingin mendaki atau ga sabar mau dekat-dekat Kak Candra?" "Yeee, usil kamu, Na! dua-duanya kallliiiii." Hahahahaha. Aku dan Natasya tertawa bersama. ------- Carrier, jaket, sleeping bag, lampu senter, ...

Ghibah menjadi jalan kepada fitnah

Mawar adalah mahasiswi sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Ia termasuk mahasiswa yang aktif pada kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Termasuk hari ini, ia bersama Melati temannya ingin mengikuti Stadium General dengan tema teladan akhlak Rasulullah Muhammad SAW. "Mel, belakangan kita lihat di media sosial orang saling hujat, saling fitnah dengan berita hoax." Bagaimana menurutmu, tanya Mawar. "Itulah, padahal mereka yang menyebar hoax itu tidak tahu dengan mata kepala mereka sendiri." "Seperti isu yang sekarang ramai di kampus kita, mulai isu mahasiswi yang jadi simpanan, isu tentang perebutan jabatan, haah! bikin nyesek aja." Ucap Mawar kesal. "Mudah-mudahan materi yang disampaikan Prof. Zarkasi nanti mampu memberi pencerahan dan bahan renungan kepada kita sehingga menjadi pribadi yang lebih baik." Harap Melati. "Aamiin, ayo kita segera masuk ke ruang auditorium, rupanya acara mau segera dimulai." Ajak Mawar. Tidak berap...

Sholawat membawaku bertemu jodohku

Setiap hari minggu Panti Asuhan Harapan Kita yang terletak di pinggiran kota Batu Malang terlihat ramai, semua penghuninya saling bekerja sama untuk membersihkan dan merapikan panti. "Azka, tolong kamu rapikan buku-buku di rak itu ya," pinta Nayla pada bocah kecil yang berumur sekitar 7 tahun. "Baik, Kak." Jawab Azka. "Eeemm, Ema dan Aisy bantu Kakak menyapu dan mengepel ruangan ya." "Siap, Kak Nayla." Semua penghuni panti terlihat sibuk. Ada yang menjemur bantal, merapikan mainan, dan ada yang membersihkan kamar mandi. "Kak Nay, ada Mas Azmi datang!" teriak Azka. "Tolong suruh masuk dan langsung ke ruangan Bu Yasmin." "Iya, Kak." Azmi bukannya langsung ke ruangan Bu Yasmin, tapi dari ruang tamu ia memperhatikan Nayla. Gadis yang sangat sabar, cantik, penyayang, dan mandiri. Begitulah Azmi menilainya. Merasa diperhatikan, Nayla menjadi salah tingkah, pipinya memerah. Lalu ia menyusul Azka yang masih belum...

Misteri di Desa Kacangan

Setelah satu minggu berkutat dengan Ujian Akhir Semester, saat yang ditunggu-tunggu tiba, ya... liburan!. Libur panjang kali ini aku tidak pulang ke rumah, tetapi ingin ikut liburan ke rumah teman sekamarku di Al Aziziyah, Yuni namanya. Aku sangat penasaran dengan Alas Purwo yang melegenda kealamian dan mistisnya, itulah alasanku ingin liburan di rumah Yuni, yang tidak jauh dari Alas Purwo Banyuwangi. Dengan semangat empat lima pagi ini aku dan Yuni bersiap-siap, satu tas ransel besar sudah siap kuangkat. Tidak lama kemudian Ayah Yuni datang menjemput dengan mobil jeep. Hatiku melonjak senang, penjelajahan ke Alas Purwo yang kurencanakan dengan Yuni sudah di depan mata. Setelah berpamitan dengan Bu Nyai, kami segera menuju mobil. Sekitar tiga jam perjalanan dari Jember ke Tegaldlimo Banyuwangi. Dengan rute Jember-gunung Gumitir-Krikilan-Genteng-Benculuk-Purwoharjo-Tegaldlimo . Tepat jam sebelas siang kami tiba di rumah Yuni. "Assalamu'alaikum" "Wa alaikum salam...