Mataku mulai bergerilya memperhatikan setiap rak buku di sebuah toko buku ternama. Pada rak yang pertama buku-buku Agama, rak berikutnya novel-novel terjemahan seperti karya Dan Brown, RL Stine, dan lain-lain. Selanjutnya novel-novel karya putra putri bangsa seperti Biru Samudera, Ika P. Hertina, Fuka Hana, Dee, dan banyak lagi yang lain. Tapi hari ini aku sedang tidak berburu novel, tetapi aku sedang berburu amplop. Aku mencari amplop yang bergambar imut dan lucu, untuk wadah uang pecahan yang kemarin aku tukar di bank. Amplop berisi uang pecahan itu akan aku bagikan pada keponakan-keponakanku yang jumlahnya cukup banyak saat hari raya nanti. Sebuah amplop menarik perhatianku, berwarna ungu lavender, bergambar temaram cahaya bulan di balik pepohonan dan bukit, nampak indah sekali. Segera ku ambil beberapa bungkus di mana setiap bungkusnya ada sepuluh amplop. Malam harinya usai salat tarawih, aku mulai memasukkan pecahan uang dua puluh ribuan ke amplop tersebut. Tinggal sisa sa...