Aku bergegas menuju kantin untuk menemui Natasya setelah mata kuliah Genetika berakhir. Kami sudah bersepakat untuk packing segala keperluan mendaki gunung semeru. Sejak melihat film 5 cm, aku bermimpi suatu saat akan mampu sampai puncaknya bersama sahabat karibku Natasya.
"Hai, Natasya! sudah lama menunggu?"
"Baru juga lima menit, Al. Mata kuliah dasar akuntansi juga baru kelar kok."
"Sudah ada berita dari Kak Candra belum, tentang persiapan pendakian kita ke Semeru nanti?"
" Sudah, Alena. Pesan Kak Candra si Ketua MAPALA, kita harus menyiapkan perbekalan pribadi sekarang, sebab besok kita berangkat."
"Kalau begitu, ayo ke rumahku, kita packing bersama. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu esok."
"Ga sabar pingin mendaki atau ga sabar mau dekat-dekat Kak Candra?"
"Yeee, usil kamu, Na! dua-duanya kallliiiii."
Hahahahaha. Aku dan Natasya tertawa bersama.
-------
Carrier, jaket, sleeping bag, lampu senter, sarung tangan, trekking pole, kaca mata, masker, logistik, alat mandi, dan make up semua sudah kusiapkan.
"Tolong, Na, kamu cek lagi, mungkin ada yang masih ketinggalan." Pintaku pada Natasya.
"Gaiternya mana, Al? nanti kita juga melewati trekking bebatuan dan berpasir lo, kalau ngga pake gaiter ntar sepatu kita bisa kemasukan pasir."
"Oh, iya...lupa aku, makasih, Na. Kamu memang sahabatku yang paling teliti. Miss perfect deh. Malam ini kamu nginap di rumahku saja ya, supaya besok kita mudah berangkat bareng, jangan lupa kabari Budemu, ntar dikira diculik penyamun kalau kamu ngga lapor dulu."
"Siap, Alena. Bawel banget sih!"
-----
Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa yaitu mencapai 3676 m di atas permukaan laut. Terdapat danau yang indah di puncaknya, Olel Jonggring Saloko namanya.
Saat yang kutunggu tiba. Ya! Mendaki Gunung Semeru. Kami melalui rute Malang.
Tujuan kami yang pertama adalah desa Ranu Pani ke Ranu Kumbolo. Medannya masih landai. Setelah itu memasuki Desa Kalimati-tanjakan cinta terus oro-oro ombo.
Mata kami dimanjakan dengan pesona alam yang luar biasa. Padang rumput menghijau nan luas, dihiasi dengan bunga yang menyerupai lavender. Benar-benar lukisan alam yang sempurna.
Sampai di cemoro kandang jalan setapak mulai berdebu dan menanjak. Banyak edelwais di sana. Aku ambil setangkup, kubagi dua dengan Natasya sahabat baikku.
" Na, aku berharap persahabatan kita abadi seperti bunga ini, Edelwais akan selalu hidup dalam segala musim, demikian pula aku dan kamu semoga tetap jadi sahabat dunia hingga di jannahNya nanti."
"Aamiin,"
Tidak lupa, aku dan Natasya foto bersama, ditengah rumpun edelwais dan tumbuhan Cantigi.
Di Kalimati, kami tidak boleh beristirahat terlalu lama jika ingin segera sampai ke puncak semeru.
Pada rute terakhir ini tantangannya paling berat, karena banyak antrian pendaki yang menuju summit attack. Di samping itu,
Trekking yang dilalui berupa bebatuan campur pasir dengan kecuraman tinggi. Ibaratnya setiap satu langkah akan diiringi dengan satu langkah mundur, adrenalin benar-benar diuji. Aku dan Natasya sampai ngos-ngosan, nafas kami seperti mau habis. Dengan kondisi seperti ini banyak pendaki yang gagal mencapai puncak.
"Alena, kamu masih kuat? ini minum dulu." Natasya menyodorkan botol minumannya kepadaku, sementara minumanku sendiri sudah habis.
"Terimakasih, Na. Aku harus mencapai puncak, aku harus bisa, bukankah 5 cm lagi?" kataku meniru dialog film yang bersetting gunung semeru itu.
"Sip, ayo kita lanjut. Kita segera menyusul Kak Candra dan teman-teman yang lain." Ajak Natasya.
Satu jam kemudian rombongan kami sampai ke puncak. Aku langsung sujud syukur, begitu juga teman-teman yang lain.
Kak Candra segera mengibarkan bendera merah putih. Tanpa dikomado, aku, Natasya, Kak Candra, Iwan, dan Romi memberi hormat kepada bendera kebanggaan kami.
Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu, tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan kehadiratmu Tuhan.
Lagu syukur kami nyanyikan, tetes bening mengalir halus di pipi kami. Tangis penuh syukur, diberi kesempatan melihat ciptaanNya yang agung. "Semeru, aku sekarang di puncakmu, menikmati segala keindahan yang luar biasa, bukti kemahaperkasaanNya, bersama sahabatku Natasya dan teman-teman yang lain. Terimakasih, ya Robb."
Setelah kami puas menikmati keindahan dan kebersamaan di puncak semeru, saatnya kami turun.
Jalur untuk turun harus melewati zona maut, yaitu Blank 75. Jurangnya sangat dalam di pinggir Arcopodo, ditambah dengan jalan yang berpasir sehingga harus benar-benar fokus selama melewatinya. Kehilangan konsentrasi sedikit saja, nyawa taruhannya.
------
Perkuliahan di semester dua sudah dimulai. Sejak pendakian di gunung semeru pada liburan kemarin, aku lebih senang duduk di bangku paling belakang ketika di dalam kelas. Jika istirahat tiba aku lebih memilih duduk di gazebo kampus yang asri.
"Na! coba lihat deh, foto-foto hasil jepretan kita, bagus-bagus ya?" tanyaku pada Natasya. Ia hanya tersenyum saja kepadaku.
"Aku paling suka foto yang ini, kita berpelukan di puncak semeru, kamu kelihatan manis sekali, Na." Natasya hanya mengangguk saja.
"Na! maafkan aku ya, demi mimpiku ke puncak semeru bersamamu, kamu memaksakan dirimu yang sebetulnya sakit. Kamu meyakinkan kepadaku kalau baik-baik saja. Kamu adalah sahabat sejatiku. Kamu adalah sahabat yang dikirim Tuhan untuk menemani sepiku sejak meninggalnya Ibuku, kita jadi dekat karena kita sama-sama tidak mempunyai Ibu. Terimakasih sekali lagi ya, Na..." kali ini aku melihat Natasya menangis dalam pelukanku.
------
"Alena... ayo kita pulang, Nak."
Suara Ayahku dan Kak Candra membuyarkan keasyikanku bersama Natasya.
"Bentar, Ayah...aku masih ngobrol dengan Natasya, atau Ayah juga mau lihat foto-foto kami ketika di Semeru?"
"Iya, boleh...sini kameranya Ayah simpan dulu. Nanti sampai di rumah ayah akan melihatnya. Sekarang kamu pulang dulu ya, sayang."
Aku tidak bisa menolak ajakan Ayah pulang, dengan gontai kulangkahkan kakiku menuju mobil, kutinggalkan Natasya dengan senyum manis khasnya. Sampai di rumah, Dokter Arif sudah menungguku. Aku diberinya dua butir kapsul untuk kuminum, dan setelah itu aku tertidur.
-------
"Na! cepat pegang tanganku. Ayo, Na...kamu pasti bisa! kamu jangan menyerah!"
Aku terus mencoba meraih tangan Natasya, berusaha segera menggapai dan menariknya. Sementara Natasya semakin kelelahan berpegangan dengan satu tangan pada seutas akar yang merambat di tepi jurang. Kak Candra dan teman-teman yang lain berusaha mencari bantuan dan sibuk mencari tali untuk menolong Natasya yang tergelincir ke jurang saat kami turun.
Tapi terlambat, tanganku tak mampu meraihnya, bantuan datang terlambat. Dan Natasya, sahabat sejatiku tidak mampu bertahan dalam pegangannya. Tubuhnya meluncur ke jurang tepat di depan mataku!.
" Natasyaaaaaa!!!!"
Tubuhku menggigil, keringat bercucuran. Melihat Natasya telah mati di dasar jurang.
Dokter Arif yang belum pulang berlari mendekatiku.
"Alena, kamu harus belajar menerima ini, berhenti menyalahkanmu, itu bukan salahmu, Nak." Dokter Arif mencoba menenangkanku.
" Iya, Dok. Saya boleh minta tolong, Dok?"
"Minta tolong apa, Al?"
"Tolong bacakan surat saya ini untuk Natasya,"
Dokter Arif membuka selembar kertas, tulisan Alena.
TERUNTUK SAHABAT SEJATIKU, NATASYA.
Sahabat,
Selalu ada tidak untuk sesaat
Sahabat,
Adalah teman yang hebat
Meski kadang ada debat
Tapi bukan untuk menghujat
Melainkan sebentuk cinta atas sebuah rahmat
Sahabat,
Tetaplah ada di dalam hati dan terpahat
Aku-kamu-kita
Dari:
Alena, tunggu aku di surga.
Komentar
Posting Komentar