SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI
Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4
--------
Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad tanggal 22 Oktober 1945.
Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat.
Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantren membentuk pribadi santri yang istiqomah memegang prinsip (aqidah), amaliyah (syariah), dan adab.
Keberadaan santri, kyai, dan pesantren yang mempunyai peran penting dalam keberlangsungan bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga kapanpun, maka tak heran jika banyak serangan dari fihak luar yang gencar dan masif melalui berbagai celah dan media.
Serangan-serangan tersebut antara lain melalui lini pergaulan, pemikiran, dan tontonan yang secara halus ingin menyisipkan pesan untuk menjatuhkan tradisi dan jati diri santri.
Tentang adab dalam kitab ta'lim al muta'allim karangan Al- Zarnuji, menurut Habib Zein bin Ibrahim bin Smith " sesungguhnya adab adalah pondasi yang menjadi pedoman, seorang santri tidak akan memperoleh rahasia suatu amalan kecuali dengan adab dan tidak akan sampai pada kedudukan yang tinggi kecuali dengan adab."
Imam Abdullah bin Mubarok mengatakan "sedikit dari adab lebih kami butuhkan dari pada ilmu yang banyak." Imam Hasan Al Bashri bahkan mengatakan "seseorang yang tidak memiliki adab, maka (dianggap) tidak mempunyai ilmu.
Singkatnya, sepintar apapun seseorang jika meninggalkan adab maka akan hilang keberkahan ilmunya, atau bahkan sama sekali tidak ada manfaatnya.
Salah satu pembiasaan 'adab' siswa-siswi MAN 1 Nganjuk
Untuk menghidupkan kembali 'ruh-ruh' santri yang beraqidah dan beradab, sehingga dapat dijadikan benteng moral yang kuat, maka sejak tahun 2015, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih karena pada tanggal tersebut, 74 tahun yang lalu terjadi resolusi jihad santri yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari dalam rangka mencegah kembalinya penjajah Belanda.
Saat ini resolusi jihad para santri digaungkan kembali sebagai salah satu upaya untuk membuat benteng moral dan iman yang kuat, sehingga dapat mencegah segala bentuk tantangan, hambatan, dan ancaman untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selamat Hari Santri Nasional yang ke-4, 22 Oktober 2019
Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4
--------
Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad tanggal 22 Oktober 1945.
Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat.
Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantren membentuk pribadi santri yang istiqomah memegang prinsip (aqidah), amaliyah (syariah), dan adab.
Keberadaan santri, kyai, dan pesantren yang mempunyai peran penting dalam keberlangsungan bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga kapanpun, maka tak heran jika banyak serangan dari fihak luar yang gencar dan masif melalui berbagai celah dan media.
Serangan-serangan tersebut antara lain melalui lini pergaulan, pemikiran, dan tontonan yang secara halus ingin menyisipkan pesan untuk menjatuhkan tradisi dan jati diri santri.
Tentang adab dalam kitab ta'lim al muta'allim karangan Al- Zarnuji, menurut Habib Zein bin Ibrahim bin Smith " sesungguhnya adab adalah pondasi yang menjadi pedoman, seorang santri tidak akan memperoleh rahasia suatu amalan kecuali dengan adab dan tidak akan sampai pada kedudukan yang tinggi kecuali dengan adab."
Imam Abdullah bin Mubarok mengatakan "sedikit dari adab lebih kami butuhkan dari pada ilmu yang banyak." Imam Hasan Al Bashri bahkan mengatakan "seseorang yang tidak memiliki adab, maka (dianggap) tidak mempunyai ilmu.
Singkatnya, sepintar apapun seseorang jika meninggalkan adab maka akan hilang keberkahan ilmunya, atau bahkan sama sekali tidak ada manfaatnya.
Salah satu pembiasaan 'adab' siswa-siswi MAN 1 Nganjuk
Untuk menghidupkan kembali 'ruh-ruh' santri yang beraqidah dan beradab, sehingga dapat dijadikan benteng moral yang kuat, maka sejak tahun 2015, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih karena pada tanggal tersebut, 74 tahun yang lalu terjadi resolusi jihad santri yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari dalam rangka mencegah kembalinya penjajah Belanda.
Saat ini resolusi jihad para santri digaungkan kembali sebagai salah satu upaya untuk membuat benteng moral dan iman yang kuat, sehingga dapat mencegah segala bentuk tantangan, hambatan, dan ancaman untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mars Hari Santri oleh siswa-siswi MAN 1 Nganjuk
Ini adalah santri-santri kerenku:



😣 miris lihat adab generasi muda zaman ini, smoga tetap ada dan banyak pihak yang menyuarakan menjaga adab dan akhlaq🙏
BalasHapusBetul sekali
Hapus👍semoga para santri menyelematkan NKRI
BalasHapusAamiin
Hapus"Kita ini sedang dijajah, nak. Kalau ada santri yang tidak anti penjajahan, maka dia bukan santri." kata kiai Sahal pada ceramahnya.
BalasHapusTegas, sebuah pesan yg harus diwujudkan
Hapus