Mataku mulai bergerilya memperhatikan setiap rak buku di sebuah toko buku ternama. Pada rak yang pertama buku-buku Agama, rak berikutnya novel-novel terjemahan seperti karya Dan Brown, RL Stine, dan lain-lain. Selanjutnya novel-novel karya putra putri bangsa seperti Biru Samudera, Ika P. Hertina, Fuka Hana, Dee, dan banyak lagi yang lain. Tapi hari ini aku sedang tidak berburu novel, tetapi aku sedang berburu amplop.
Aku mencari amplop yang bergambar imut dan lucu, untuk wadah uang pecahan yang kemarin aku tukar di bank. Amplop berisi uang pecahan itu akan aku bagikan pada keponakan-keponakanku yang jumlahnya cukup banyak saat hari raya nanti.
Sebuah amplop menarik perhatianku, berwarna ungu lavender, bergambar temaram cahaya bulan di balik pepohonan dan bukit, nampak indah sekali. Segera ku ambil beberapa bungkus di mana setiap bungkusnya ada sepuluh amplop.
Malam harinya usai salat tarawih, aku mulai memasukkan pecahan uang dua puluh ribuan ke amplop tersebut. Tinggal sisa satu bungkus amplop yang belum kuisi uang karena persediaan pecahannya sudah habis. " Ah ... ngga apa-apa, insyaalloh masih cukup untuk keponakan-keponakan tersayangku." Pikirku.
Saat yang ditunggu seluruh umat Islam sedunia akhirnya tiba, setelah tiga puluh hari berpuasa penuh saatnya kini menyambut hari raya idul fitri, hari kemenangan, kemenangan mengendalikan hawa nafsu. Suara takbir terdengar syahdu di setiap surau dan masjid. Semua orang bersuka cita, dengan wajah berseri-seri, baju yang bagus dan wangi, mereka berduyun-duyun menuju masjid untuk melaksanakan salat Ied.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setelah selesai salat Ied aku dan keluarga melakukan sungkeman di rumah orang tuaku, setelah itu kami akan makan bersama dengan menu opor ayam dan ketupat. Selanjutnya saat yang paling ditunggu usai makan bersama adalah pembagian "angpao" lebaran.
Keponakanku yang masih kecil-kecil mulai ribut, menagih "angpao" dariku, sebab setiap tahun memang seperti itu tradisi di keluargaku. Dengan begitu ikatan persaudaraan kami semakin erat, itulah moment istimewa yang selalu kami rindukan.
"Oke, anak-anak, tante sudah menyiapkan sangu untuk kalian, bentar ya tante ambil dulu."
"Hore...! Sorak sorai keponakanku yang lucu-lucu meramaikan ruang keluargaku.
Aku mengambil setumpuk amplop yang sebelumnya telah kuisi pecahan uang dua puluh ribuan.
Setelah semua keponakanku mendapat amplop yang berisi uang, mereka berpamitan bersama ayah ibunya masing-masing. Aku tersenyum bahagia, masih diberi kesempatan bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga tercinta.
Baru saja aku mau selonjoran mengistirahatkan kaki yang sudah terasa pegal, dari luar suara Amel, Odi, Aira, Dafa, Rafa, Kenzie, dan entah siapa lagi sangat ramai memanggil namaku seperti orang mau demo.
"Ada apa ini anak-anak sayang, kok pada ribut?" Tanyaku kepada mereka.
"Te! Gimana sih ini, semua amplop kami kok ngga ada isinya. Tante sengaja atau lupa memasukkan uangnya ya?" Jawab Rafa dengan muka lucunya, mewakili keponakanku yang lain.
"Ah masa sih, kemarin tante sudah mengisi amplop itu dengan uang kok." Aku mulai bingung sendiri.
" Ini, Te... buktinya amplop kami kosong semua." Tanpa dikomando, keponakanku semua menunjukkan amplopnya masing-masing yang benar-benar kosong.
Aku terkejut, sejurus kemudian aku berlari ke kamarku. Oh my God... pantas saja amplop mereka kosong, rupanya yang kubagikan adalah sisa amplop yang belum kuisi uang karena sudah kehabisan, sementara amplop-amplop yang sudah kuisi uang masih tertata manis di meja hiasku. Akhirnya aku nyengir kuda sendiri.
Komentar
Posting Komentar