Gerimis sejak sore tadi tak kunjung reda, malam semakin menunjukkan gelap yang pekat. Asramaku sangat terasa senyap karena banyak yang memilih pulang saat libur puasa. Angin dingin menyapu tengkukku, hiiii... aku bergidik sendiri. Aku sangat benci situasi seperti ini. Mengapa juga mataku tak bisa segera kupejamkan, sedang teman sekamar yang tinggal empat orang sudah lelap semua dalam dekapan mimpi masing-masing.
Byur...byuur... byuur....
Terdengar air yang diguyurkan dari kamar mandi di sebelah kiri kamarku. "Siapa jam segini mandi, apa ngga dingin, jangan-jangan setan," pikirku. Belum juga terjawab penasaranku, aroma bunga kamboja menguar menusuk hidung, persis seperti di kuburan ketika ada yang baru dimakamkan. Tiba-tiba aku ingin pipis. "Sial! Mengapa tidak dari tadi aku pipis bareng Ana." umpatku dalam hati.
Karena tidak sanggup menahan pipis lebih lama lagi, terpaksa kubangunkan Lely untuk menemaniku. Tapi Lely hanya menggeliat saja, terpaksa aku memberanikan diri ke kamar mandi. "Masa bodo dengan setan yang menakutiku, nanti ku kencingi saja kalau sampai berani menggangguku." Perlahan kubuka pintu kamar. Di luar, tepatnya dari arah kamar mandi, Lely berjalan pelan sambil menyeret selimutnya, pandangannya kosong lurus ke depan. Aku kaget, ku tengok ke dalam kamar, nampak Lely masih tertidur dengan seringai yang tidak aku mengerti. Lely sahabatku yang mana? se... se... setaaaaaaaan!!. Gubrak..., kemudian gelap.
Komentar
Posting Komentar