Langsung ke konten utama

Tiket mudik impian

"Reno, Ian, Ina, Opik! ayo segera persiapkan baju-bajumu, besok habis subuh kita harus segera ke stasiun, karena kita ikut kereta pemberangkatan yang pertama." Perintahku.

Seketika anak-anakku sibuk sendiri, mereka menyiapkan tas punggung masing-masing. Lemari baju di acak-acak untuk dipilih baju yang mereka suka.

"Ma! mobil-mobilanku saya bawa ya?" tanya Opik anak bungsuku.

"Aku bawa tembak-tembakan ya, Ma?" suara Ian  ikut berteriak.

"Kalau yang lain boleh membawa mainannya, Ina juga boleh bawa boneka kan, Ma?" tanya ina, satu-satunya anak perempuanku sambil memelas.

"Opik, Ian, Ina... dengar Mama! kita mudik ini bukan untuk piknik atau berlibur sayang, tapi kita mau berlebaran di rumah Eyang barang dua atau tiga hari saja, nanti di sana kita juga akan berkeliling silaturrahim ke rumah saudara-saudara yang lain, jadi ngga sempat main."

"Yaaaah, Mama...plis Ma, boleh ya kita bawa mainan satuuu saja. Rengek anak-anakku serempak.

"Oke, tapi satu saja ya, dan kalian harus bisa menjaga mainan masing-masing, Mama tidak mau tahu."

"Siap, Ma....

Anak-anakku mulai memasukkan baju dan mainannya, kecuali si sulung Reno. Hampir jam sepuluh malam mereka selesai berkemas dan langsung tidur.

Adzan subuh berkumandang, aku segera membangunkan anak-anak. Mereka berebut mandi karena kamar mandi di rumahku cuma ada dua.

Aku sendiri sibuk menyiapkan bekal sarapan sekedarnya dan menyiapkan oleh-oleh untuk orang tuaku.

Waktu berjalan sangat cepat, aku harus bergegas, sebab kereta kami berangkat jam 06:00 WIB.

"Ian, Ina, dan Opik cepat masukkan barang kalian ke mobil!
Reno, tolong periksa semua jendela dan pintu, pastikan semua terkunci dengan benar!" intruksiku pada anak-anak.

Segera aku keluarkan mobil dan kupanasi sebentar. Peluh mengalir dari keningku setelah dari subuh tadi berjibaku di dapur, setengah berlari ke sana kemari menyiapkan semua keperluan mudik, agar nyaman di perjalanan dan di rumah Eyangnya anak-anakku nanti.

Sampai di stasiun kereta api tepat pukul 05:45, ada waktu lima belas menit untuk boarding pass. Segera mobil kuparkir dan dititipkan pada penjaga parkir yang kukenal. Sebab tidak mungkin bagiku menyetir sendiri dari Jakarta ke Banyuwangi, sehingga lebih memilih perjalanan dengan kereta api.

Sambil berlari-lari aku dan anak-anak segera masuk ke ruang tunggu. Kereta api Ronggolawe sudah siap berangkat di jalur dua. Sampai di pintu masuk, seorang petugas jaga menghentikanku.

"Maaf, Ibu. Kami periksa dulu tiketnya, berapa orang?"

"Lima orang, Pak. Kereta Ronggolawe gerbong 3 lima seat, jurusan Banyuwangi."

Tanganku sibuk mencari tiket yang semalam sudah kupersiapkan. Peluit sudah dibunyikan, pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Tapi tiket itu belum kutemukan.

Keringat dingin mulai membanjiri tubuh. Kutumpahkan semua isi tas, tetapi tiket itu tetap tidak ada.

Dan, aku baru ingat....

" Ya ampuuuun! bukannya tiket kereta kutaruh di tas yang silver, bukan tas hitam yang sekarang aku bawa!" rutukku kesal.

Aku lemas, mimpi untuk bisa segera mudik di kampung sirna, kereta Ronggolawe melaju pelan, meninggalkanku dalam mimpi yang harus dikubur mentah-mentah. Tanpa disadari, aku dan anak-anak menangis meraung-raung melepaskan kepergian kereta ronggolawe yang meninggalkan segala rencana indah mudikku tahun ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...