"Reno, Ian, Ina, Opik! ayo segera persiapkan baju-bajumu, besok habis subuh kita harus segera ke stasiun, karena kita ikut kereta pemberangkatan yang pertama." Perintahku.
Seketika anak-anakku sibuk sendiri, mereka menyiapkan tas punggung masing-masing. Lemari baju di acak-acak untuk dipilih baju yang mereka suka.
"Ma! mobil-mobilanku saya bawa ya?" tanya Opik anak bungsuku.
"Aku bawa tembak-tembakan ya, Ma?" suara Ian ikut berteriak.
"Kalau yang lain boleh membawa mainannya, Ina juga boleh bawa boneka kan, Ma?" tanya ina, satu-satunya anak perempuanku sambil memelas.
"Opik, Ian, Ina... dengar Mama! kita mudik ini bukan untuk piknik atau berlibur sayang, tapi kita mau berlebaran di rumah Eyang barang dua atau tiga hari saja, nanti di sana kita juga akan berkeliling silaturrahim ke rumah saudara-saudara yang lain, jadi ngga sempat main."
"Yaaaah, Mama...plis Ma, boleh ya kita bawa mainan satuuu saja. Rengek anak-anakku serempak.
"Oke, tapi satu saja ya, dan kalian harus bisa menjaga mainan masing-masing, Mama tidak mau tahu."
"Siap, Ma....
Anak-anakku mulai memasukkan baju dan mainannya, kecuali si sulung Reno. Hampir jam sepuluh malam mereka selesai berkemas dan langsung tidur.
Adzan subuh berkumandang, aku segera membangunkan anak-anak. Mereka berebut mandi karena kamar mandi di rumahku cuma ada dua.
Aku sendiri sibuk menyiapkan bekal sarapan sekedarnya dan menyiapkan oleh-oleh untuk orang tuaku.
Waktu berjalan sangat cepat, aku harus bergegas, sebab kereta kami berangkat jam 06:00 WIB.
"Ian, Ina, dan Opik cepat masukkan barang kalian ke mobil!
Reno, tolong periksa semua jendela dan pintu, pastikan semua terkunci dengan benar!" intruksiku pada anak-anak.
Segera aku keluarkan mobil dan kupanasi sebentar. Peluh mengalir dari keningku setelah dari subuh tadi berjibaku di dapur, setengah berlari ke sana kemari menyiapkan semua keperluan mudik, agar nyaman di perjalanan dan di rumah Eyangnya anak-anakku nanti.
Sampai di stasiun kereta api tepat pukul 05:45, ada waktu lima belas menit untuk boarding pass. Segera mobil kuparkir dan dititipkan pada penjaga parkir yang kukenal. Sebab tidak mungkin bagiku menyetir sendiri dari Jakarta ke Banyuwangi, sehingga lebih memilih perjalanan dengan kereta api.
Sambil berlari-lari aku dan anak-anak segera masuk ke ruang tunggu. Kereta api Ronggolawe sudah siap berangkat di jalur dua. Sampai di pintu masuk, seorang petugas jaga menghentikanku.
"Maaf, Ibu. Kami periksa dulu tiketnya, berapa orang?"
"Lima orang, Pak. Kereta Ronggolawe gerbong 3 lima seat, jurusan Banyuwangi."
Tanganku sibuk mencari tiket yang semalam sudah kupersiapkan. Peluit sudah dibunyikan, pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Tapi tiket itu belum kutemukan.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh. Kutumpahkan semua isi tas, tetapi tiket itu tetap tidak ada.
Dan, aku baru ingat....
" Ya ampuuuun! bukannya tiket kereta kutaruh di tas yang silver, bukan tas hitam yang sekarang aku bawa!" rutukku kesal.
Aku lemas, mimpi untuk bisa segera mudik di kampung sirna, kereta Ronggolawe melaju pelan, meninggalkanku dalam mimpi yang harus dikubur mentah-mentah. Tanpa disadari, aku dan anak-anak menangis meraung-raung melepaskan kepergian kereta ronggolawe yang meninggalkan segala rencana indah mudikku tahun ini
Komentar
Posting Komentar