"Mak, sepurane ya, aku riyoyo iki ora iso bali, amergo tahun iki jatahku piket nunggu kantor." Suara parau Parjo menelpon Emaknya di kampung. "Iyo wes le, orapopo, seng ngati-ngati wae yo," pesan Emaknya.
Selesai telpon Emaknya, Parjo duduk di pos jaga sebuah perusahaan besar di Surabaya, kulitnya yang hitam dengan postur tubuh yang tinggi besar sangat mendukung profesinya sebagai satpam.
Dalam duduknya Parjo melamun, ia teringat makanan istimewa sajian Emaknya ketika lebaran, yaitu ketupat dengan lauk opor ayam, sambal goreng kentang, dan kerupuk udang. "Hemmmm, nikmat sekali," saliva Parjo turun naik membayangkan makanan lezat dan istimewa itu. Ketupat dan lauk pelengkapnya sangat istimewa bagi Parjo karena hanya ditemui setiap lebaran saja, di luar itu Emaknya hanya akan memberi lauk sambal terasi dan tempe goreng, sesekali ditambah telur dadar. "Hei! Nglamun wae, mikirne sopo hayo?" suara Surti si pemilik warung kopi di sebelah pos jaga membuyarkan lamunan Parjo. "Ah, kowe Sur, ngagetne wae. Aku cuma membayangkan ketupat masakan istimewa Emak setiap hari raya , tapi sayangnya aku lebaran iki ora iso bali." "Ora usah sedih, Jo. Besok tak kirimi ketupat bikinanku, yo wes tak ke warung disek, iki pesenan kopimu."
Takbir kemenangan bersahut-sahutan terdengar dari masjid, pertanda hari raya telah tiba. Untuk membunuh sedihnya Parjo berkeliling perusahaan, dengan teliti ia memeriksa setiap bagiannya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam delapan malam lebih, Parjo segera kembali ke pos jaga. Ia terkejut begitu sampai di pos, kerena Surti sudah menunggunya dengan nampan yang berisi ketupat, opor ayam, dan sambal goreng kentang. Anehnya Surti hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat menjawab terimakasih Parjo. Karena sudah lapar dan melihat makanan kesukaannya Parjo langsung saja hendak memakan ketupat tersebut. Baru saja satu sendok akan dimasukkan mulutnya, tiba-tiba ada suara perempuan meringkik tertawa mengerikan di atas pohon trembesi dekat pos jaganya. Parjo lebih terkejut lagi ketika melihat ketupat yang disendoknya berubah menjadi belatung.
-End-
Komentar
Posting Komentar