"Ping." Notifikasi gawaiku berbunyi. Pesan masuk dari Nadya, Istriku.
"Ayah sudah mengajukan cuti pa belum, sepertinya beberapa hari lagi aku akan melahirkan," isi chat dari Nadya.
"Iya, Sayang. Segera aku usahakan mengurus izin cutiku." Balasku
Terbayang olehku, wajah istriku yang cemas menghadapi kehamilan pertamanya seorang diri.
Aku adalah pegawai PT. KAI, sebagai sekretaris di kantor pusat yang sehari-harinya bertugas di Bandung dan Jakarta. Tidak jarang aku juga harus pergi ke beberapa penjuru Indonesia menyertai Direkturku. Sedangkan istriku menempati rumah kami di Surabaya. Kami menjalani hidup secara LDR¹ dan kadang aku menyempatkan pulang ke Surabaya di akhir pekan jika tidak ada Dinas Luar.
Setelah pernikahanku enam tahun yang lalu, istriku belum menunjukkan tanda-tanda kehamilannya, sebagai pasangan baru, tentu kami mendambakan anak sebagai buah hati kami. Berbagai upaya telah kami tempuh, tapi sayangnya Tuhan belum memberikan anak kepada kami.
Setelah hampir enam tahun kami memaksimalkan ikhtiar, doa tiap malam kami panjatkan, akhirnya Tuhan mempercayakan janin tumbuh sehat di rahim istriku. Berdasarkan perhitungannya, anakku akan lahir di penghujung ramadhan ini. Hanya saja aku sampai saat ini belum mendapat izin cuti dari atasanku.
" Bim! Tolong dipersiapkan, besok kita harus ke Jambi selama kurang lebih dua hari untuk mengecek persiapan mudik tahun ini. Setelah itu kita juga harus mengecek persiapan kereta bandara di Palembang." Perintah atasanku.
"Siap, Pak." Jawabku. Jauh di lubuk hati, sebagai suami aku ingin sekali cepat-cepat bisa mendampingi istriku menunggu kelahiran anak pertama kami. Tapi apa mau dikata, pengabdianku pada negara sudah menjadi ikrar yang harus dipertanggungjawabkan.
Aku adalah pegawai BUMN² yang bergerak di bidang transportasi, adalah menjadi prioritas untuk dapat memberikan pelayanan yang aman, lancar, dan memuaskan bagi masyarakat, terutama hari-hari arus mudik dan arus balik menjelang hari raya idul fitri seperti ini. Seringkali aku merasa bersalah karena kerap kali aku tidak ada di saat istriku membutuhkanku.
Semua keperluan untuk ke Jambi dan Palembang sudah aku persiapkan dengan baik. Akan tetapi tidak dapat kupungkiri, aku sangat gelisah. Nadya baru saja mengabarkan perutnya sudah merasa kram, itu berarti saat persalinan sudah semakin dekat.
"Kamu kenapa gelisah sekali, Bima? Dari tadi saya perhatikan kamu sangat tegang." Tanya pimpinanku.
"Ah, tidak ada apa-apa, Pak. InsyaAlloh semuanya akan baik-baik saja."
"Bima, kamu tidak usah bohong pada Bapak, saya faham kamu itu orang yang disiplin, perfect, dan dapat diandalkan di lapangan. Kalau kamu sampai gelisah seperti itu pasti ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranmu, ayolah cerita ke saya." Desak Pak Jonan pimpinanku.
"Eeeemmm ... begini, Pak. Sebenarnya istri saya di Surabaya saat ini sedang bersiap menghadapi kelahiran anak pertama kami, sedangkan ia di sana sendirian di rumah."
"Apa! Gila kamu. Istri mau melahirkan kenapa tidak minta cuti terlebih dahulu, bukankah sudah bertahun-tahun kamu sudah menunggu hadirnya momongan?"
"I..iya, Pak. Cuma saya berpikir masih ada waktu satu minggu, jadi saya bisa menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu."
"Kalau begitu, mana tiket pesawatku ke Jambi?"
"Ini, Pak."
"Oke, terimakasih, Bima. Sekarang aku perintahkan kamu untuk segera pulang ke Surabaya, dampingi istrimu, saat ini tentunya dia sangat membutuhkan kehadiranmu. Sementara saya bisa ke Jambi sendiri. Oh, ia... ini ambil sebagai hadiah dari saya." Pak Jonan menepuk pundak saya sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Terimakasih, Pak. Semoga perjalanan dan pekerjaan Bapak selalu dimudahkanNya, saya permisi dulu."
-----
Tiket pesawat ke Surabaya sudah ada ditanganku. Terakhir Nadya mengabari telah mengalami kontraksi pertama sekitar lima belas menit yang lalu. Berarti ada waktu kurang lebih enam belas jam dari sekarang anakku lahir.
"Nadya, sayang...kamu ngga usah panik ya, pesawat sebentar lagi berangkat. Pak Jonan mengizinkanku cuti lebih awal setelah tahu kamu akan melahirkan. InsyaAlloh tiga jam lagi aku tiba di Surabaya." Pesan wathsup kukirim.
"Syukurlah, Mas. Tapi aku takut sekali." Balas Nadya
"Oke, sekarang lebih baik kamu ke rumah sakit dulu dengan Mbok Nah. Nanti saya langsun menuju rumah sakit."
"Iya, Mas."
-----
"Begini, Bu Nadya. Setelah saya periksa saat ini Ibu sudah masuk tahap persalinan awal yang memang maju lebih awal dari Hari perkiraan lahirnya. Pada fase ini Ibu akan mengalami kontraksi ringan selama 30-90 detik dan akan semakin teratur tiap lima menit sekali. Jika lancar dalam waktu sekitar 6-12 jam akan terjadi pembukaan 4-6 cm.
Setelah itu leher rahim akan melebar lebih cepat. Kontraksi dapat terjadi 6-9 kali dengan lebih kuat dan sering. Fase ini selama kurang lebih 4-8 jam.
Usai fase ini, leher rahim akan membuka 10 cm, bayi akan turun dan ketuban mulai pecah. Nanti Ibu tidak usah panik, dan ikuti aba-aba dari saya kapan saatnya mendorong." Dokter Nisa memberi penjelasan pada Nadya.
------
Tiba-tiba lampu darurat pada pesawat yang aku tumpangi menyala, suara pramugari mengingatkan penumpang untuk segera mengenakan sabuk pengaman. Pesawat terasa terbang tidak stabil. Kadang menukik terlalu ke bawah, naik lagi, dan sesekali terasa oleng. Semua penumpang nampak cemas, tidak terkecuali aku.
"Ya Alloh, selamatkan aku dan seluruh penumpang pesawat ini, beri aku kesempatan menunggui dan melihat anakku lahir." Mulutku komat kamit tidak berhenti berdo'a.
Alhamdulillah, pesawat akhirnya bisa mendarat darurat di bandar udara Yogyakarta. Aku segera mencari taksi untuk menuju stasiun.
Aku panik, karena kereta api jurusan Surabaya baru berangkat dua jam kemudian. Waktuku tersisa sedikit lagi. Pasti Nadya saat ini sedang kesakitan berjuang sendiri dalam persalinan. Aku hanya mondar mandir di ruang tunggu. Nadya sudah tidak bisa aku hubungi. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Hanya do'a yang mampu menjadi penghibur dan harapanku.
Kereta api Mutiara Timur sudah tiba, segera aku melompat mencari tempat dudukku. Waktuku tersisa delapan jam lagi. Selambatnya aku harus sudah tiba di rumah sakit pukul 03 dini hari nanti.
Tepat pukul 03:15 WIB aku tiba di rumah sakit. Dengan berlari aku menuju ruang persalinan. Alhamdulillah, aku melihat Nadya sudah sangat kelelahan. Ia menyembunyikan rasa sakitnya dengan tersenyum kepadaku.
Tiba-tiba dokter yang menangani persalinan istriku memanggilku.
"Pak Bima, ada masalah dengan persalinan istri Bapak."
"Ada masalah apa, Dok?
"Istri Bapak sebenarnya sudah pembukaan 10 sejak beberapa menit yang lalu. Seharusnya bayinya sudah turun dan bisa persalinan normal. Tetapi, detak jantung bayi Bapak tidak dapat kami deteksi."
"Ya Alloh, apa lagi ini? Lalu bagaimana, Dok? Tolong selamatkan istri dan anak saya, lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, tolong kami, Dok... Kami sudah enam tahun menunggu hadirnya anak kami. Sekali lagi saya minta tolong, selamatkan istri dan anak saya."
"Akan kami usahakan, Pak Bima. Satu-satunya jalan harus melalui operasi caesar. Jika Bapak setuju, kami akan langsung melakukan operasi."
"Iya, Dok. Tolong lakukan yang terbaik."
"Baik, Pak Bima. Jangan lupa berdoa ya. Kita berserah kepada Alloh."
-----
Dengan ketabahan yang luar biasa aku melihat Nadya istriku dibius secara epidural. Setelah ia berjuang kesakitan selama proses pembukaan normal tadi, sekarang harus merasakan sakitnya jarum suntik yang cukup besar itu menusuk punggungnya yang diposisikan setengah melingkar. Air mataku tak kuasa bertahan, bulir-bulir bening itu mengalir di pipi bersama dengan do'a-do'a keselamatan untuk orang-orang yang kucintai.
Sekitar tiga puluh menit operasi berlangsung. Bersamaan dengan suara adzan subuh, terdengar tangisan anakku yang telah hadir menyapa semesta ini. Rasa syukur dan bahagia yang membuncah mengantarkan keningku menyentuh lantai. Sujud syukur ke hadiratNya, atas segala karunia nikmat selama penantian panjang ini. Selamat datang Kenzie, semoga kelak Engkau akan mampu membawa perubahan kepada kebaikan di dunia dan untuk akhiratmu nanti.
Komentar
Posting Komentar