Langsung ke konten utama

Misteri di Desa Kacangan

Setelah satu minggu berkutat dengan Ujian Akhir Semester, saat yang ditunggu-tunggu tiba, ya... liburan!.
Libur panjang kali ini aku tidak pulang ke rumah, tetapi ingin ikut liburan ke rumah teman sekamarku di Al Aziziyah, Yuni namanya.

Aku sangat penasaran dengan Alas Purwo yang melegenda kealamian dan mistisnya, itulah alasanku ingin liburan di rumah Yuni, yang tidak jauh dari Alas Purwo Banyuwangi.

Dengan semangat empat lima pagi ini aku dan Yuni bersiap-siap, satu tas ransel besar sudah siap kuangkat. Tidak lama kemudian Ayah Yuni datang menjemput dengan mobil jeep. Hatiku melonjak senang, penjelajahan ke Alas Purwo yang kurencanakan dengan Yuni sudah di depan mata. Setelah berpamitan dengan Bu Nyai, kami segera menuju mobil.

Sekitar tiga jam perjalanan dari Jember ke Tegaldlimo Banyuwangi. Dengan rute Jember-gunung Gumitir-Krikilan-Genteng-Benculuk-Purwoharjo-Tegaldlimo. Tepat jam sebelas siang kami tiba di rumah Yuni.

"Assalamu'alaikum"

"Wa alaikum salam," Ibunya Yuni dengan ramah menyambut kami.

"Ini pasti Nisa ya?" sapanya kepadaku dengan hangat setelah ia memeluk rindu Yuni putri tunggalnya.

"Iya, tante." Kucium tangannya dengan takdzim.

"Mari-mari silahkan masuk, tante sudah nunggu dari tadi. Yuni! ajak Nisa ke kamarmu terus langsung ke meja makan, Mama sudah menyiapkan kepiting saos pedas dan pecel kesukaanmu."

"Siap, Ma!"

"Besok kalian jadi menjelajah ke alas Purwo?" tanya Pak Zainal, ayahnya Yuni.
"Jadilah, Yah. Tolong dianterin ya?" rajuk Yuni.
"Iya, Nduk. Tapi Ayah tidak bisa menemani sampai ke alasnya. Nanti kalian akan Ayah antar ke kenalan Ayah sesepuh di desa Kacangan. Pak Taslim namanya. Selama di sana kalian boleh nginap di rumahnya."

"Horeee! terimakasih, Ayah."
--------
Berbekal pakaian secukupnya, botol minuman, diary, serta kamera, aku dan Yuni di antar Om Zainal ke rumah Pak Taslim di desa Kacangan.

Untuk sampai di desa Kacangan kami harus menempuh hutan belantara. Meskipun jalannya sudah beraspal, tetapi suasananya sangat sepi dan lengang. Setelah beberapa menit menyusuri jalan beraspal, mobil jeep Om Zainal memasuki hutan bambu dan jalanan mulai berlumpur karena tidak lagi beraspal. Tidak lama kemudian aku melihat rumah-rumah warga yang berjajar, semua terbuat dari bambu dan tidak ada listrik.

Ada satu rumah yang mencuri perhatianku, rumah itu agak terpisah dengan rumah penduduk karena sudah sangat dekat dengan bibir pantai Plengkung. Dindingnya juga tidak terbuat dari bambu, tetapi dari tembok dan sudah penuh dengan lumut. Jelas sekali rumah itu tidak terawat meski kelihatan paling bagus di antara rumah-rumah lainnya. Rumput-rumput liar nyaris menutup halamannya, beberapa pohon trembesi yang sangat besar mengelilingi rumah itu dan  hampir menutupi seluruh atapnya, sempurna sekali rumah itu tersembunyi.

"Kita sudah sampai nih, untuk ke rumah Pak Taslim kita harus jalan kaki karena mobil tidak bisa lewat." Teriak Om Zainal membuyarkan lamunanku terhadap rumah yang menurutku aneh itu.
Aku dan Yuni segera turun, di ujung gang seseorang melambai memanggil Om Zainal.

"Hai, Taslim...Assalamu'alaikum,"

"Wa alaikum salam, akhirnya kita bertemu lagi, Yuni yang mana Nal? aku pangling."

"Yang memakai jilbab kuning itu Yuni, anakku. Dan yang memakai jilbab biru itu Nisa, temannya Yuni di Al Aziziyah."

"Ayo kalian ke gubukku."

"Eemmm...begini Lim, mohon maaf sekali aku tidak bisa sampai ke rumahmu, karena harus segera setor laporan kantor di Kabupaten. Besok saja kalau pas jemput anak-anak kita ngobrol lagi, aku titip anak-anakku ini ya, jewer saja kalau mereka tidak nurut."

"Baiklah kalau begitu, tapi janji ya nanti kalau pas menjemput anakmu kamu harus mampir, kalau tidak Yuni dan Nisa tidak kuperkenankan pulang."

"Iya iya, InsyaAlloh. Assalamu'alaikum."

"Wa alaikum salam."
Mari anak-anak ke rumah Bapak.
------
Kulirik jam tanganku, baru juga pukul 19:30 WIB, tapi desa Kacangan ini sudah sangat sepi saperti kuburan, Aku, Yuni, dan Pak Taslim berkumpul di ruang tengah. Pak Taslim menceritakan asal muasal desa ini. Suatu saat para nelayan mendapatkan hasil tangkapan ikan jenis Kacangan yang melimpah, kemudian mendirikan gubuk-gubuk bambu di sini untuk istirahat beberapa hari. Lama-lama banyak dibuat rumah semi permanen dan mereka mulai menetap, jumlahnya hanya enam KK saja, tapi sekarang sudah mulai banyak.

"Terus, rumah yang dundingnya berlumut tertutup rumput dan pohon trembesi itu rumah siapa, Pak?"

Pak Taslim kelihatan kebingungan mendengar pertanyaan Nisa.

"Jangan bicarakan rumah itu, pantangan." Setengah berbisik Pak Taslim menjawab.

"Memangnya kenapa, Pak?"

"Dulu rumah itu tempat penimbangan hasil tangkapan ikan nelayan, tapi kalau malam tidak ada yang menempati. Tiba-tiba suatu sore para nelayan dihebohkan adanya mayat perempuan dan dimutilasi. Diduga pelakunya adalah penyamun yang sering beroperasi di jalanan alas Purwo. Sejak penemuan mayat itu, rumah tersebut menjadi angker. Beberapa warga sering melihat bayangan hitam berkelebat dan menghilang di rumah tersebut, bukan itu saja, kadang ada bau kemenyan, sering ada suara perempuan menyanyi dan suara alunan musik yang aneh. Sudah-sudah, kalian tidur saja sekarang, besok Bapak antar menyusuri alas Purwo."

Yuni sudah tertidur pulas, tetapi aku belum mampu memejamkan mata. Karena suntuk di dalam kamar, aku keluar untuk mencari angin segar. Cahaya bulan cukup menerangi kampung Kacangan.

Sreeeet!...
Aku dikagetkan oleh tiga bayangan hitam yang menyelinap di rumah itu. Tidak lama kemudian aku mendengar suara musik mengalun lembut tapi sangat jelas. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Keringat dingin mulai bercucuran, dengan gemetar aku segera masuk ke rumah Pak Taslim.

Pagi-pagi sekali aku mengajak Yuni jalan-jalan ke rumah itu.

"Nggak ah, aku takut Nis. Kamu lupa cerita Pak Taslim semalam?"

"Justru itu Yun, sewaktu kamu tidur pulas aku nggak bisa tidur, terus aku iseng keluar. Saat itulah aku melihat ada tiga bayangan hitam menyelinap rumah aneh itu, tidak lama kemudian terdengar musik mengalun lembut."

"Tuh, kan...bener yang diomongin Pak Taslim, rumah itu memang sarang setan. Hi... takut ah, kamu aja sendirian ke sana."

"Gini, Yun. Awalnya aku juga takut dan gemetaran, tapi setelah aku tenang, aku merasakan ada yang janggal."

"Apaan tuh?"

"Setelah kuingat-ingat, bayangan yang kulihat semalam itu ketiganya seperti membawa tas, coba pikir, mana ada setan yang membawa tas. Kedua, musik yang mengalun lembut itu mirip musik instrumen yang cocok untuk meditasi, itu lo... yang penciptanya berambut gondrong dari Negara Jepang."

"Kitaro?" teriak Yuni.

"Yups...aku yakin, tadi malam itu musik Kitaro yang kudengar. Nah, nggak mungkin juga setan ngerti musik Kitaro."

"Terus mau kamu apa Nis?"

"Kita harus menyelidiki ke sana, aku penasaran banget. Feelingku mengatakan ada yang tidak beres di rumah itu."

"Idiih... sok detektif kamu Nis!"

"Nggak gitu juga kali, ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, aku akan ke sana sendiri." Nisa langsung berjalan meninggalkan Yuni.

"Tunggu! aku ikut."

"Ayo cepetan, mumpung matahari belum tinggi dan Pak Taslim tidak usah kita beritahu dulu."

Begitu sampai di rumah aneh itu, Nisa mengendap-endap mengintai ke dalam rumah melalui lubang kunci. Kosong, tidak ada jejak manusia. Perlahan Nisa mencoba membuka pintu, ternyata tidak terkunci.

"Yun, kita masuk ya?"

"Gila kamu Nis, ntar di dalam kita disergap setan gimana?"

"Hahaha, mana ada setan pagi-pagi berani muncul, yang ada setannya lari melihat kita. Ya sudah, aku masuk sendiri saja."

Nisa langsung masuk, Yuni mengikutinya dengan ketakutan. Bau aneh menguar di ruangan itu, karena masih gelap Nisa menyalakan lampu senter dari handphonenya. Tidak ada perabotan rumah, hanya ada beberapa rak kayu dari bambu. Di pojok ruangan nampak tumpukan kardus.

"Yun, coba kamu lihat dekat tumpukan kardus itu," perintah Nisa dengan nada penuh selidik.

"It...ittu kan tape recorder?" teriak Yuni kaget.

"Betul, aku tadi juga heran melihatnya, mari kita periksa."

Nisa menekan tombol eject pada tape recorder tersebut, dan mereka menemukan kaset Kitaro! Nisa dan Yuni semakin penasaran.

"Sekarang kita coba lihat isi kardus ini Yun,"

Pelan-pelan Yuni membuka salah satu kardus, tangannya menyentuh sesuatu, daun! dikeluarkannya beberapa lembar daun dari kardus itu.

"Lihat ini, Nis!"

"Coba kuamati."
Dengan berbekal cahaya dari HP, Nisa dengan teliti mengamati daun itu.

"Daun ini majemuk menjari, helainnya selalu ganjil antara 5,7, dan 9. Bagian pinggir bergerigi dan ujungnya lancip, sedikit lengket dan berminyak. "Yes! ini pasti ganja, Cannabis sativa." Teriak Nisa puas dengan penemuannya.

"Yun, dugaanku, rumah ini adalah tempat penyimpanan ganja sebelum didistribusikan. Dan orang-orang yang kulihat semalam bukan setan, tapi para pelaku kejahatan, dan suara musik atau perempuan bernyanyi yang sering terdengar warga pada malam hari, berasal dari tape recorder ini. Mereka sengaja melakukan itu untuk membuat suasana rumah menjadi seram, sehingga warga takut mendatangi rumah ini, dan endingnya penyimpanan barang terlarang ini tidak tercium aparat. Jelas Nisa dengan puas.

"Daebak!" Yuni bertepuk tangan.
"Lalu sekarang apa yang kita lakukan, Nis?"

"Pertama, kita foto semua yang ada di sini, kedua segera telpon ayahmu, ceritakan penemuan kita, tapi bilang juga ke Ayahmu tidak perlu cerita siapa-siapa kecuali lapor ke kantor Polisi." Nisa memberi intruksi.

"Ayo cepat kita kembali ke rumah Pak Taslim, sebelum Bapak itu mencari kita, dan ingat kita harus merahasiakan penemuan ini."

"Siap!" jawab Yuni sambil tangannya memberi hormat kepada Nisa.

Sampai di rumah Pak Taslim keduanya sudah ditunggu untuk sarapan dengan penyet tempe, selesai sarapan Pak Taslim mengajak Nisa dan Yuni bersiap-siap menjelajah alas Purwo.
-----
Matahari sudah mulai membiaskan warna jingga di ufuk barat ketika Nisa dan Yuni kembali dari penjelajahannya.

"Yun, kita malam nanti tidak boleh lengah, kita harus segera mengabari Ayahmu jika ada bayangan hitam di rumah itu."

"Siap!"
"Huuss, jangan keras-keras, nanti Pak Taslim mendengar."

Malam mulai turun, gelap mulai menyergap kampung Kacangan. Dengan gelisah Yuni dan Nisa bergantian mengamati rumah aneh itu dari balik jendela kamar.

"Nis, kesini cepat!  lihat bayangan hitam itu muncul, sepertinya ada empat orang."

"Cepat kabari Ayahmu."

Sekitar lima belas menit kemudian, tampak beberapa orang berjaket hitam dengan gerakan yang sigap menuju rumah itu, diantaranya adalah Om Zainal, Ayah Yuni.

Suasana kampung Kacangan yang biasanya sepi, malam ini menjadi ramai. Warga heboh karena ada penyergapan komplotan pengedar ganja di rumah yang selama ini dianggap angker oleh warga Kacangan. Tidak ketinggalan, Nisa dan Yuni segera ikut membaur dengan warga untuk melihat penangkapan itu.

Melihat Yuni dan Nisa datang, Om Zaenal memberi tanda jempol kepada keduanya.

Belum sempat Yuni membalas tanda jempol Ayahnya, ia dikejutkan dengan pemandangan kalau di antara orang-orang yang disergap Polisi itu ada Pak Taslim.

Pak Zaenal tidak mampu berkata-kata ketika matanya berpapasan dengan Pak Taslim sahabatnya, sedangkan Pak Taslim dengan tangan terborgol hanya bisa menunduk malu.
-----

Esok harinya dalam perjalanan pulang Om Zaenal memberi tahu, bahwa tidak jauh dari rumah aneh itu juga terdapat ladang ganja yang tersamar dengan banyaknya ilalang. Warga tidak pernah curiga karena mereka tidak mengetahui ciri-ciri ganja dan mereka tidak ada yang berani mendekati rumah itu sebab diisukan angker oleh Pak Taslim.

"Liburan yang sungguh mengesankan." Ucap Nisa dan Yuni hampir bersamaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...