Panas yang terik membuat peluh Bu Jamilah bercucuran, ia menyeka dengan ujung lengan bajunya yang sudah kusam. Sandal jepit yang sudah tipis menjadi pelindung kakinya yang keriput. Dengan sebatang tongkat, Bu Jamilah menyusuri jalan di salah satu kawasan perumahan elit kota Surabaya.
Mata Bu Jamilah hanya satu yang berfungsi, itupun sudah sedikit rabun termakan usia yang semakin senja. Sejenak ia berhenti di depan rumah mewah bernomor 22. Bu Jamilah merogoh secarik kertas yang ia simpan di tas lusuhnya.
"Sepertinya aku tidak salah, jalan Letjend Panjaitan no: 22, betul ... tidak salah lagi, ini rumah Irvan anakku." Ujar Bu Jamilah lirih.
Rumah itu berlantai dua, tiang-tiangnya kokoh bercat putih, tirai di jendela menjuntai indah, halaman yang luas penuh dengan bunga dan pohon-pohon bonsai, di sudut kanan ada kolam ikan Koi, dan di bagian tengah ada patung kecil yang mengalirkan air mancur lengkap dengan beberapa lampu taman. Di garasi terparkir satu honda jazz merah dan satu pajero sport putih.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Alloh, Engkau telah menjaga anakku dan telah memberinya banyak kenikmatan." Dengan takjub Bu Jamilah memandangi rumah itu sembari jari-jari keriputnya memegang pagar besi yang tertutup rapat.
Dari dalam rumah, berlari seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 7 tahun. Ia menendang bola plastik dengan semangat.
"Papaaaaa!" Anak laki-laki itu menjerit ketakutan ketika melihat Bu Jamilah di depan pagar besi rumah mereka.
"Ada apa, Nak?" Tanya Irvan begitu sampai di halaman rumah.
" Itu, Pa ... ada nenek yang buta di depan rumah, usir dia Pa, aku jijik. Bajunya lusuh, bau lagi."
Irvan sangat terkejut melihat siapa nenek-nenek itu. Ia masih sangat bisa mengenali kalau perempuan tua itu adalah ibunya.
Tetapi, karena si Ian anaknya terus berteriak-teriak minta nenek itu diusir, Irvan segera mendekati Bu Jamilah sebelum istrinya yang anak seorang pengusaha itu tahu. Sebab dulu Irvan mengaku sudah tidak mempunyai ibu.
"Maaf, Bu. Lebih baik Ibu segera pergi dari sini, kasihan anak saya ketakutan." Ucap Irvan terbata sambil menyisipkan selembar uang seratus ribu rupiah.
" Irvan, ini Ibumu, Nak."
" Maaf, saya tidak mengenalimu. Tolong tinggalkan kami, dan ini ada sedikit uang untuk keperluanmu."
" Irvan, anakkku. Ibu kangen, sudah berpuluh-puluh tahun kamu tidak pulang. Kebetulan Dafa sahabatmu bertemu Ibu dan memberikan alamat rumahmu."
"Maaf, tapi saya tidak mengenalimu."
Bu Jamilah akhirnya meninggalkan Irvan dan anaknya. Hatinya sangat terluka. Irvan, satu-satunya harta paling berharga bagi hidupnya dengan tega mengusir dan tidak mengakui bahwa ia adalah ibunya. Sepanjang perjalanan, Bu Jamilah hanya menangis dengan segenap lukanya.
------
Kartu undangan reuni berwarna ungu dari SMP Tunas Bangsa diletakkan pembantu Irvan di ruang kerjanya. Irvan bingung antara datang atau tidak, akhirnya ia memutuskan untuk menghadiri reuni tersebut. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia menyimpan rindu pada kampung halamannya terlebih pada Ibunya.
Kepada istrinya ia pamit akan menemui rekan kerjanya, ia berbohong supaya istrinya tidak menyertai perjalanannya. Karena Irvan berencana usai reuni akan menyempatkan menengok rumah Ibunya yang satu desa dengan SMP Tunas Bangsa.
------
Acara demi acara reuni SMP Tunas Bangsa sudah selesai. Irvan segera memacu mobilnya menuju pinggir desa. Setelah melewati persawahan, sampailah ia pada tujuannya. Pajero sport kesayangannya di parkir agak jauh dari gubuk tua yang nampak di depannya.
Ada perih yang menelusup di hati Irvan, gubuk berdinding bambu itu sudah miring ke kiri, gentengnya sudah banyak yang berjatuhan. Di gubuk itulah ia pernah tinggal menjalani masa anak-anaknya.
Beberapa kali Irvan mengucapkan salam sesampainya di depan gubuk. Namun tidak ada jawaban. Irvan memberanikan diri memasukinya. Tiap bagian dari gubuk itu diamatinya. Tidak banyak yang berubah sejak puluhan tahun yang lalu ia tinggalkan. Irvan gelisah, ia tidak menjumpai Ibunya.
Di atas dipan bambu yang terletak pada sudut ruangan, Irvan melihat selimut kumal. Selimut itulah yang yang selalu ditutupkan Ibunya ke tubuh kecilnya jika malam mendekap.
Perlahan ia meraih selimut itu. Irvan terkejut, dibawahnya terdapat secarik kertas yang digulung dan diikat dengan benang putih.
------
"Irvan, anakku. Ibu sangat menyayangimu, melebihi sayang pada diri ibu sendiri. Kaulah harta satu-satunya yang berharga bagi Ibu. Sore itu, di saat kamu berlari mengejar bola mainanmu, tiba-tiba ada motor yang melaju kencang dan menabrakmu. Tubuh ringkihmu terpelanting dan kepalamu membentur aspal. Akibatnya syaraf matamu rusak sehingga menjadi buta.
Ibu sangat sedih, apapun ingin Ibu lakukan agar kau tetap bisa melihat dunia. Dokter menjelaskan, satu-satunya cara adalah dengan pencangkokan mata dari keluarga dekatnya.
Ibu sangat senang mendengar penjelasan itu. Tanpa pikir panjang ibu meminta dokter untuk mendonorkan mata kiri Ibu untukmu.
Anakku, maafkan Ibu. Belum bisa membahagiakanmu, Ibu sering tidak dapat memenuhi keinginanmu.
Bahkan Ibu hanya bisa membuatmu malu ketika Ibu berjualan es lilin di sekolahmu, lalu kamu diolok-olok temanmu sebagai anak orang yang buta. Maafkan Ibu, Nak.
Ibu juga minta maaf, karena sempat membuat anakmu ketakutan melihatku di depan rumahmu. Saat itu, Ibu sungguh sangat merindukanmu. Ibu ingin bertemu denganmu, karena semenjak engkau pamit ke kota untuk bekerja, Ibu tidak lagi bisa bertemu denganmu, Ibu hanya mampu memelukmu melalui do'a-do'a.
Irvan, anakku sayang....
Mungkin ketika kau menemukan surat ini, Ibumu sudah tidak bisa kau temui lagi. Sebab Ibu mungkin sudah tenang di sisiNya. Ibu juga sudah lega bisa melihatmu bahagia dan hidup serba berkecukupan. Tugas Ibu mengantarmu menjadi sukskes sudah selesai. Sepulang dari rumahmu, Ibu asmanya kambuh lagi, dan sebelum semuanya berakhir Ibu menyempatkan menulis surat ini, Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa Ibu sangat menyayangimu."
Maafkan aku
Ibumu
-------
Irvan menangis sejadi-jadinya. Tangis penyesalan yang teramat dalam. Semua sudah terlambat. Selimut lusuh itu ia dekap erat beserta surat dari Ibunya. Seluruh persendiannya terasa lemas sehingga tubuhnya merosot meringkuk di lantai tanah gubuknya. Perlahan ia sentuh mata yang kiri, dan itu adalah mata kiri Ibunya. Tangis yang memilukan itu tiada berguna lagi.
Komentar
Posting Komentar