Eva hanya mengaduk-ngaduk makanan di piringnya, matanya kosong menatap ke depan. Sesekali makanan itu dimasukkan ke mulutnya tanpa ia menikmatinya, hanya dikunyah dengan pelan dan tetap dengan pandangan yang kosong, satu persatu bulir bening menetes dari matanya. Suasana buka bersama yang ramai di masjid hunian sementara tidak mampu meramaikan hatinya. Hanya sekitar lima sendok makanan yang mampu ia telan.
"Eva, kakak tau apa yang sedang kamu pikirkan dan rasakan, bukan hanya kamu yang kehilangan. Semua yang ada di sini juga telah kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Lihatlah itu! Abi, Haikal, Lala, Opik, dan yang lain, anak-anak kecil itu masih bisa tertawa riang meski orangtua dan keluarga mereka juga telah tiada." Dengan lembut Vina mengusap punggung tangan Eva, memberinya kekuatan.
"Eva tidak bisa melupakan itu, Kak. Ayah tenggelam di lumpur tepat di depan mata, dan aku tidak bisa menolongnya." Ucap Eva lirih.
"Iya, Kakak tahu. Itu bukan salahmu, semua itu sudah diatur olehNya. Tugas kita hanya berusaha dan menerima setiap ketetapanNya dengan sabar. Ayo kita ambil wudu dan jamaah Maghrib." Ajak Vina, sukarelawan yang berprofesi sebagai psikiater.
Eva mengalami trauma yang hebat dari peristiwa gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Palu beberapa bulan yang lalu.
Saat itu, menjelang maghrib, seperti biasa Eva dan kedua orangtuanya bersiap menuju masjid dekat rumahnya. Tiba-tiba gempa dengan kekuatan besar mengguncang kecamatan Biromaru. Bumi seolah di bolak balik dari dalam. Sebagian tanah terlihat menggelembung ke atas, sebagian tanah yang lain pecah merekah. Bangunan-bangunan bergemeretak dan beberapa membelah. Eva dan kedua orang tuanya terguling-guling di tanah, setiap mencoba berdiri saat itu pula tanah yang dipijak seperti dibalik sehingga membuat mereka terjerembab. Begitu berulang kali.
Tidak lama kemudian lampu ikut padam. Aliran listrik terputus di mana-mana. Dalam gulita jerit tangis ketakutan dan kesakitan akibat tertimpa reruntuhan bangunan terdengar di segala penjuru. Semua orang kebingungan, syok, dan ketakutan. Berlarian ke sana kemari mencari selamat dengan tidak membawa apa-apa.
Ada yang hanya memakai sarung saja, ada yang hanya mengenakan daster kumal, dan banyak dari mereka yang berlarian tanpa alas kaki.
"Lari ke masjid, cepat!" Teriak Pak Ridwan ayah Eva. Dengan sisa-sisa keberanian dan dalam remang malam yang mulai turun, Eva dan Ibunya berlari ke masjid menyusul Pak Ridwan yang sudah tiba terlebih dahulu.
Dihalaman masjid, sudah berkumpul beberapa orang yang selamat. Sekitar sepuluh menit gempa itu terjadi. Tetapi mampu meluluhlantakkan hampir semua bangunan kecuali masjid dan madrasah yang biasa digunakan keluarga Eva dan warga sekitar berjamaah.
"Saudara-saudara sekalian, puji syukur kepada Alloh karena kita telah diberi keselamatan. Mari kita segera salat maghrib mumpung masih ada sedikit waktu, dan malam ini kita tidak usah kembali ke rumah masing-masing. Untuk sementara kita menginap di halaman masjid ini sampai keadaan dinyatakan aman. Bapak-bapak setelah salat nanti bisa ke rumah masing-masing untuk mengambil perbekalan secukupnya, untuk mengantisipasi hal-hal yang kita tidak tahu setelah ini." Ustadz Ali memberi pengarahan pada orang-orang yang berhasil selamat di halaman masjid.
Setelah salat, Pak Ridwan pamit pada istrinya dan Eva untuk mengambil alas tidur serta beberapa bahan makanan. Baru sekitar enam langkah ayah Eva berjalan, gempa dengan kekuatan yang lebih besar terjadi lagi.
"Allohu akbar! Allohu akbar! Allohu akbar! Ya Alloh, tolong kami... tolong kami." Teriak orang-orang dengan panik dan ketakutan.
"Allooooh!!" Tolong...tolong..."
Terdengar teriakan Pak Ridwan. Ia terjatuh. Kakinya terjebak pada tanah yang tiba-tiba pecah. Ia merasakan seperti dihisap oleh arus lumpur yang sangat kuat dari bawah tanah. "Apakah ini kiamat?" pikir Pak Ridwan. Tangannya menggapai-gapai meminta pertolongan.
Eva yang melihat ayahnya tenggelam pada rekahan tanah, berlari hendak menolongnya. Tetapi, baru satu langkah ia beranjak, tanah yang dipijaknya seolah bergerak dan menjadi lumpur, Eva menghentikan langkahnya, ia mencoba berjalan pada sisi yang lain. Sama, semua tanah didepannya menjadi lumpur yang bergerak. Di sisi lain Pak Ridwan semakin lemah bertahan untuk tidak semakin tenggelam pada lumpur dengan berpegangan pada batu besar yang kebetulan ada di dekatnya.
"Stop, Eva! Jangan lanjutkan langkahmu. Berbahaya. Karena semua sudah menjadi lumpur yang bergerak." Perintah Pak Ridwan.
" Tidak, Ayah. Aku harus menolongmu. Bertahanlah Ayah, aku akan sampai di sana dan menarik Ayah."
Eva mencoba maju dengan perlahan. Tapi langsung saja ia menarik kakinya kembali. Tanah di depannya benar-benar menjadi lumpur yang bergerak dan seperti mempunyai daya hisap yang kuat.
"Ayah! Aku takut, aku mau menolong Ayah." Eva menangis ketakutan.
"Sudah, Nak. Ayah sepertinya sudah tidak mampu bertahan. Selamatkan dirimu, Ayah sangat menyayangimu.
Setengah berteriak Pak Ridwan menyuruh Eva berhanti, kemudian lirih berbisik mengucap dua kalimat syahadat. Hening...tidak ada suara. Tangan Pak Ridwan sudah tidak terlihat lagi, tubuhnya tenggelam ditelan lumpur.
"Ayaaaaah! Ayaaaaaah!
Eva sayang Ayah, maafkan aku tidak bisa menolongmu, Yah...."
------
Tubuh Eva berguncang, keringat dingin membanjiri keningnya. Air matanya menetes satu persatu.
Vina mengusap lembut punggung tangan Eva lalu dipeluknya dengan lembut. Vina sangat faham dengan apa yang terjadi pada Eva. Pasti dia sedang teringat kejadian malam itu. Malam sabtu tanggal 28 September 2019. Bencana alam gempa dan likuifaksi telah merenggut nyawa ibu serta ayahnya yang tenggelam pada lumpur tepat di depan mata Eva.
Sebagai seorang psikiater yang bertugas memberi trauma healing, Vina dengan sabar merawat dan menemani Eva.
Ramadhan ini, adalah untuk pertama kalinya Eva harus berbuka puasa tanpa kedua orang tuanya. Meskipun pemerintah kota Palu selalu menyiapkan buka bersama dengan menu makanan yang enak-enak di hunian sementara para pengungsi, namun makanan itu tetap terasa hambar di mulut Eva, sebab baginya buka puasa yang paling nikmat adalah ketika berbuka bersama dengan kedua orangtuanya.
"Kamu harus kuat melalui semua ujian ini, Eva. Percayalah, bersama kesulitan pasti ada kemudahan, itu janji Alloh." Ucap Vina penuh sayang pada Eva.
Komentar
Posting Komentar