Ranti memacu motor bebek bututnya dengan kencang, wajahnya berbinar penuh semangat. Amplop yang berisi THR Rp. 1.500.000 dari majikannya sudah ia terima. Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan anak-anaknya mengenakan mukena baru yang diimpikannya sejak beberapa bulan yang lalu. Suami Ranti sudah lima tahun tiada kabar berita semenjak pamit bekerja ke Arab Saudi. Praktis selama itu pula Ranti harus rela menjadi karyawan pabrik dengan gaji yang pas-pasan.
"Nak, THR Emak sudah cair, nanti sore kita ke toko Mawarid ya, beli mukena dan kue lebaran, sisanya untuk beli buku kalian." Ucap Ranti penuh binar pada dua anak gadisnya, Rina dan Rani. " Beneran, Mak? Hore... alhamdulillah." Jawab mereka berbarengan. Di saat mereka tengah berdiskusi tentang warna mukena dan jenis kue lebaran yang akan dibeli, terdengar pintu rumah yang diketuk. Ternyata Bu Halimah yang datang dengan wajah panik dan menangis. Ia mau pinjam uang untuk Ilham anaknya yang terserempet motor saat pulang sekolah, dan harus segera dioperasi kakinya yang patah tulang.
Setelah beberapa saat berpikir, Ranti memilih meminjamkan uang THR kepada Bu Halimah, keselamatan Ilham lebih penting dari pada mukena baru bagi Rina dan Rani, dan anak-anak Ranti mau memahami keputusannya. Sore harinya, ketika Ranti dan anak-anaknya sibuk mempersiapkan menu berbuka, pintu rumahnya ada yang mengetuk lagi. Rina berlari membukakannya. "Bapak! Benarkah? Apakah ini bukan mimpi?" Rina berteriak tidak percaya. Ranti dan Rani segera menyusulnya. Dan ternyata benar, Abdullah suaminya yang telah lama tiada kabar datang dengan membawa banyak oleh-oleh, diantaranya mukena baru yang sangat indah.
Komentar
Posting Komentar