Rokaat kedua sudah berlangsung, imam sedang membaca surat Al Insyiroh, di saat aku sedang berusaha meresapi arti surat bacaan imam, tiba-tiba konsentrasiku terganggu dengan aroma busuk menguar di dekat hidungku. Tidak lama kemudian Parjo yang ada di sebelah kiriku menghentikan salatnya dan ia keluar dari shaf salat.
Salat Isya' sudah selesai dilaksanakan, tapi aku belum melihat Parjo kembali. Sampai saatnya taraweh dimulai. "Mungkin Parjo pulang," pikirku. Rokaat demi rokaat taraweh sudah dilaksanakan, hingga imam mengakhiri salat Isya' dan taraweh malam ini dengan do'a.
Semua jamaah sudah pulang, tinggal aku yang terakhir. Tetapi di sebelah sandalku aku melihat sandalnya Parjo. Aku melengok kanan kiri, masjid sudah sepi, lampu masjid sudah dimatikan sebagian, tapi aku tidak melihat Parjo. Saat Pak Imron, takmir masjid mematikan lampu toilet masjid, tiba-tiba ada teriakan dari sana. Aku dan Pak Imron segera berlari menuju toilet masjid, di depan pintu kamar mandi aku melihat Parjo berdiri ketakutan, meringis-ringis memegangi perutnya sambil menyincingkan sarung. "Maaf, tolong temani aku dan lampunya jangan dimatikan dulu, aku masih belum tuntas, dari tadi perutku sakit." Parjo menghiba. Akhirnya dengan terpaksa aku di duduk manis di depan toilet masjid, menunggui Parjo yang sedang menuntaskan hajatnya.
Komentar
Posting Komentar