Langsung ke konten utama

Harta Sejatiku

Kultum sebelum salat taraweh sudah dimulai, seperti biasa kotak berukuran 60 cm x 40 cm dan terbuat dari kayu itu diedarkan dari tangan satu ke tangan yang lain para jamaah. Sebuah kotak amal yang terkunci rapat dan hanya terdapat lubang kecil di atasnya. Di antara para jamaah ada yang memasukkan koin limaratusan, ada yang seribu, dan sebagian besar mengisinya dengan dua ribu rupiah. 

Pada baris jamaah yang kedua dan paling kiri, Mbok Darmi, penjual gorengan yang tiap sore menjajakan dagangannya di dekat masjid nampak khusyu' mendengarkan kultum. Ketika kotak amal sampai kepada dirinya, ia mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dompet kecilnya. Aku yang sering duduk di dekatnya selalu melihat Mbok Darmi memasukkan uangnya yang sepuluh ribu ke kotak amal. Padahal dalam hitunganku, pendapatan dari jual gorengan itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah setiap sorenya.

Untuk menuntaskan penasaranku, aku memberanikan diri bertanya kepada Mbok Darmi, perihal kebiasaannya memasukkan uang sepuluh ribu pada kotak amal sementara kebanyakan orang lain yang kulihat hanya memasukkan uang receh saja. "Setiap sore, jualanku gorengan rata-rata mendapat 25.000-30.000 rupiah. Uang itu aku bagi tiga, sepuluh ribu untuk modal lagi, lima ribu untuk biaya makanku, dan sepuluh ribu untuk tabunganku di akhirat yang kititipkan di kotak amal itu. Sebab hartaku yang sesungguhnya adalah harta yang kuinfaqkan di jalan Alloh, sedangkan harta yang aku makan hanya sebagai bekal untuk hidup dan tidak akan dapat kubawa di akhirat nanti." Binar bahagia nampak jelas di mata Mbok Darmi ketika menceritakan itu kepadaku. Dan aku, merasa jauh lebih miskin di bandingkan Mbok Darmi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...