Kultum sebelum salat taraweh sudah dimulai, seperti biasa kotak berukuran 60 cm x 40 cm dan terbuat dari kayu itu diedarkan dari tangan satu ke tangan yang lain para jamaah. Sebuah kotak amal yang terkunci rapat dan hanya terdapat lubang kecil di atasnya. Di antara para jamaah ada yang memasukkan koin limaratusan, ada yang seribu, dan sebagian besar mengisinya dengan dua ribu rupiah.
Pada baris jamaah yang kedua dan paling kiri, Mbok Darmi, penjual gorengan yang tiap sore menjajakan dagangannya di dekat masjid nampak khusyu' mendengarkan kultum. Ketika kotak amal sampai kepada dirinya, ia mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dompet kecilnya. Aku yang sering duduk di dekatnya selalu melihat Mbok Darmi memasukkan uangnya yang sepuluh ribu ke kotak amal. Padahal dalam hitunganku, pendapatan dari jual gorengan itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah setiap sorenya.
Untuk menuntaskan penasaranku, aku memberanikan diri bertanya kepada Mbok Darmi, perihal kebiasaannya memasukkan uang sepuluh ribu pada kotak amal sementara kebanyakan orang lain yang kulihat hanya memasukkan uang receh saja. "Setiap sore, jualanku gorengan rata-rata mendapat 25.000-30.000 rupiah. Uang itu aku bagi tiga, sepuluh ribu untuk modal lagi, lima ribu untuk biaya makanku, dan sepuluh ribu untuk tabunganku di akhirat yang kititipkan di kotak amal itu. Sebab hartaku yang sesungguhnya adalah harta yang kuinfaqkan di jalan Alloh, sedangkan harta yang aku makan hanya sebagai bekal untuk hidup dan tidak akan dapat kubawa di akhirat nanti." Binar bahagia nampak jelas di mata Mbok Darmi ketika menceritakan itu kepadaku. Dan aku, merasa jauh lebih miskin di bandingkan Mbok Darmi.
Komentar
Posting Komentar