Dua belas bulan dalam satu tahun, satu diantaranya adalah bulan yang paling mulia dibandingkan dengan sebelas bulan lainnya yaitu bulan ramadhan, sebab di dalamnya terdapat kemuliaan dan keistimewaan, Lailatul Qodar namanya. Lailatul Qodar menjadi sangat istimewa karena Qodar itu sendiri mempunyai tiga penafsiran.
Pertama, Qodar berarti penetapan. Sebagaimana disebutkan pada surat Ad duhkon ayat ketiga, yaitu malam penetapan Alloh bagi perjalanan hidup manusia. Dalam kitabnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taqdir manusia sudah ditulis dan ditetapkan sejak zaman azali di Lauhil mahfudz. Kemudian setiap tahunnya taqdir manusia tentang rizki, ajal, dan lain-lain akan disampaikan kepada Malaikat secara rinci pada malam Lailatul Qodar, dengan demikian para Malaikat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kedua, Qodar berarti sempit. Karena pada malam itu ruh (Jibril) dan Malikat-malaikat turun ke bumi atas izin Alloh. Hal itu jelas disebutkan dalam surat Al Qodar ayat keempat serta surat Al An'am ayat ke-91.
Ketiga, Qodar berarti kemuliaan. Mulia karena pada malam itu Alloh berkenan menyapa manusia yang sangat kecil. Sapaan Alloh kepada manusia tersebut melalui Al Qur'an yang diturunkan pada malam Lailatul Qodar kepada Nabi Muhammad SAW.
Bumi yang menjadi 'rumah' bagi manusia jika dibandingkan dengan bintang-bintang dan planet lain yang jumlahnya jutaan, ukurannya jauh lebih kecil. Benda-benda angkasa itu ada yang berukuran 6x, 600x, bahkan sampai 6 milyar lebih besar dari ukuran bumi. Jika dalam skala yang sederhana saja, misalkan bumi itu seukuran kacang tanah dibandingkan dengan benda-benda angkasa yang lain, lalu kita sebesar apa? Tidak lain kita bisa lebih kecil dari sebutir debu di hamparan padang pasir.
Dengan 'kemahakecilan' kita yang sedemikian itu, lalu Alloh dengan kemahabesaranNya masih berkenan menyapa kita dengan firman-firmanNya, sebagai bentuk Rohman dan RahimNya agar kita selamat sampai pada Rodliyatan mardliyahNya. Sampai di sini, apakah kita manusia masih lupa bagaimana cara mensyukuri atas segala nikmat yang telah Alloh berikan.
Maka sepatutnyalah kita mengistimewakan malam Lailatul Qodar tidak hanya dengan do'a-do'a yang bersifat duniawi saja, sebab Alloh sudah mencukupi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Akan lebih utama lagi jika menjemput Lailatul Qodar sebagai bentuk rasa syukur tertinggi kita dalam bentuk ketekunan beribadah kepadaNya.
Kelak ketika ruh telah terpisah dari jasad, tidak semua ruh dapat diterima sowan kepada Gusti Alloh, melainkan hanya jiwa-jiwa yang selamat (qolbun salim) yg bisa diterimaNya untuk mendapat 'roodliyatan mardliyyah' ( tempat terindah di sisiNya).
Untuk mencapai "qolbun salim" hati harus penuh dengan keimanan kepadaNya, agar dapat mencapai keimanan dengan baik harus mampu ridlo terhadap semua kehendakNya (baik ataupun buruk), jalan untuk bisa ridlo dibutuhkan ketaqwaan, agar mampu bertaqwa dibutuhkan ketenangan batin, dan untuk bisa mendapat ketenangan batin diperlukan sifat-sifat Alloh yg mulia yaitu sabar dan syukur, sifat-sifat Alloh yang mulia tersebut (sabar dan syukur) akan dibiaskan Alloh kepada hambanya yang selalu berdzikir kepadaNya.
Jadi dengan berdzikir kepada Alloh, maka keimanan dan ketaqwaan dapat ditingkatkan, jika sudah demikian maka Alloh akan menolong dari setiap kesulitan dan akan memberi rizki dr arah yg tidak di sangka-sangka, dengan berdzikir juga dapat menjadi wasilah untuk dapat diterima disisiNya kelak, bukankah Alloh adalah tujuan terakhir kita.
"Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'ii ilaa robbiki roodliyatan mardliyyah, fadkhulii fii 'ibaadii, wadkhulii jannatii."
Inilah puncak tujuan dari segala bentuk ibadah kita, menuju Alloh sebaik-baiknya tempat kembali. Semoga kita menjadi salah satu manusia yang beruntung yang dapat menjemput Lailatul Qodar, dengan menghidupkan malamnya melalui muhasabah, dzikir, dan penuh rasa syukur atas apapun yang telah ditetapkanNya. Jika hati sudah sampai kepada puncak yang demikian, Rodliyatan mardliyah dapat diraih, insyaAlloh.
"Aku hanyalah butiran debu di antara hamparan semesta
Atas nafas dan gerakku, adalah dalam genggamanNya
Aku hanyalah butiran debu
Yang sedang menjalani peran kehidupan dan tak satupun bisa lepas dari catatanNya
Kelak ketika mulut ini dikunci tak dapat berkata
Tangan, kaki, dan setiap sel tubuh akan memberikan kesaksiannya
Semua ada pertanggungjawabannya"
(Muhasabah: di penghujung ramadhan)
Komentar
Posting Komentar