Suasana yang semula tenang, malam itu berubah menjadi hiruk pikuk. Ratusan orang melakukan demonstrasi. Suara teriakan di sana-sini. Dengan sigap aparat kepolisian dan TNI mengamankan situasi supaya tidak bertambah rusuh. Akan tetapi situasi semakin memanas. Batu-batu mulai dilemparkan ke arah petugas yang melakukan pengamanan. Aparat kepolisian dan TNI yang bertugas dengan sabar mengahadapi para demonstran dengan hanya bersenjata tongkat dan tameng pengaman. Mereka hanya menangkis lemparan batu para demonstran.
Kejadian memanas hingga keesokan harinya. Massa yang melakukan demonstrasi semakin beringas, mereka tidak hanya melempar batu-batu kepada aparat yang bertugas mengamankan, tetapi mereka juga melempari obyek-obyek vital, membakar mobil, membakar ban. Situasi semakin sengit. Massa akhirnya dibubarkan aparat dengan gas airmata.
Menjelang sore hari, situasi agak kondusif. Beberapa polisi yang bertugas nampak istirahat di tepi jalan sambil menunggu saatnya berbuka puasa. Tidak terkecuali Pak Anton, Polisi berpangkat kapten tersebut menggelar sajadahnya di tepi jalan. Bersama sahabatnya ia melakukan salat Ashar secara bergantian.
Adzan maghrib berkumandang, saatnya berbuka puasa. Pak Anton dan teman-temannya segera berbuka dengan nasi bungkus dan air minum kemasan. Mereka rela meninggalkan momen berbuka puasa dengan keluarganya, mereka tetap bersyukur meski berbuka hanya di tepi jalan dan dengan menu seadanya, demi sebuah tugas negara, menjaga keamanan dan stabilitas bangsa dan negara.
Gawai Pak Anton bergetar, sebuah panggilan masuk dari anak semata wayangnya. Sudah hampir satu bulan Pak Anton harus meninggalkan anak dan istrinya, memenuhi panggilan tugas di Jakarta.
Raka, anak Pak Anton yang masih berusia tujuh tahun meminta video call pada ayahnya, untuk menuntaskan rindu pada sang ayah.
"Hallo, Ayah ... Aku kangen. Kapan Ayah pulang?" Nampak Raka merengek di layar Gawai Pak Anton.
"Sabar, Sayang. Nanti kalau tugas Ayah selesai, pasti akan segera pulang. Raka sudah berbuka puasa?"
"Sudah, Ayah. Sama Mama dimasakin ayam goreng kesukaan Raka, Ayah sudah berbuka puasa juga?"
"Sudah. Sekarang Raka makanannya dihabiskan ya, jadi anak yang pinter, dan jagoan ayah ini harus bisa jaga Mama. Da sayang...mmmuuuaach." Video call diakhiri, karena Pak Anton harus segera salat Maghrib.
Kembali sajadah tipis yang selalu dililitkan di lehernya di gelar, untuk menunaikan salat Maghrib. Meski dilakukan di tepi jalan, Pak Anton tetap khusu' melakukan salat. Ia benamkan wajahnya di atas sajadah pada sujud terakhirnya. Ia memohon pada Tuhannya untuk memberi perlindungan dan kedamaian kepada dirinya, keluarganya, serta bangsa Indonesia yang sangat ia cintai.
Tiba-tiba massa demonstran kembali lagi. Semakin banyak. Pak Anton dan kawan-kawannya kembali siaga dengan membuat pagar betis. Berbekal tongkat dan tameng sekedarnya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Para aparat itu tidak melawan para demonstran dengan kekerasan, sebab mereka berfikir siapapun para demonstran itu adalah tetap saudara sebangsa dan se tanah air, juga saudara sesama muslim.
Kericuhan semakin tidak terkendali. Entah siapa yang memulai membakar amarah para demonstran. Tidak hanya batu yang dilemparkan, tetapi botol-botol air mineral, mercon, kembang api, dan apapun yang mereka temui. Suara ledakan terdengar memekakkan telinga, beberapa tempat terbakar. Massa semakin beringas meluapkan tuntutannya dengan amarah. Langit Jakarta menjadi membara oleh api. Asap pekat menyesakkan pernapasan, dalam gelap yang mulai merayap, para demonstran dengan anarkis menyerang aparat yang sebenarnya saudaranya sendiri sesama warga negara Indonesia, mereka juga merusak fasilitas umum yang dibangun dari pajak rakyat, saudara mereka juga. Entah, apa yang ada di pikiran para demonstran itu hingga tega melakukan anarkisme pada saudara-saudaranya sendiri.
Pak Anton terhuyung ke belakang, ia merasa pusing. Lebih dari 24 jam ia bertugas di tengah-tengah para demonstran, sahur dan berbuka seadanya saja dan hanya istirahat ketika tiba waktu salat. Asap hitam yang mengepul semakin menambah sesak pernapasannya. Sekuat tenaga Pak Anton bertahan, demi sebuah tugas mulia, menjaga keamanan bangsa tercinta.
Dari udara helikopter berputar-putar, menyemburkan gas air mata untuk membubarkan massa. Akhirnya massa yang demontrasi sedikit demi sedikit mulai terkendali.
Pak Anton meminta izin pada atasannya, ia ingin menunaikan salat isya' karena sudah hampir jam sembilan malam.
Di atas sajadah tipis yang selalu menemaninya, rakaat demi rakaat dilaksanakan dengan khusyu'. Sampai pada sujud terakhir Pak Anton semakin menempelkan keningnya, ia memohon kepada Alloh untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Ia yang semakin lemah, berpasrah penuh pada penciptanya, seolah kedekatannya dengan sang pencipta sedekat kening dan sajadahnya.
Pak Rico, teman satu timnya merasa curiga, melihat Pak Anton yang tidak bangun-bangun dari sujudnya. Perlahan ia mendekati Pak Anton. Disentuhnya pundak Pak Anton pelan. Tubuh Pak Anton terjatuh, terkulai lemas di atas sajadahnya. Ternyata Ia telah menghadap penciptanya dalam sebuah tugas mulia. Dalam lelah jiwa dan raganya, Pak Anton tetap bertugas demi membela negara, meninggalkan anak dan istrinya.
Satu nyawa telah gugur, mungkin juga ada nyawa-nyawa lain yang ikut melayang pada aksi demonstrasi itu. Mengapa harus ada pertikaian di bumi pertiwi ini, di bulan ramadhan yang semestinya menjadi ajang muhasabah dan memperbaiki diri. Semoga tidak ada lagi korban-korban berjatuhan. Mari berdamai, demi NKRI
Komentar
Posting Komentar