Setiap hari minggu Panti Asuhan Harapan Kita yang terletak di pinggiran kota Batu Malang terlihat ramai, semua penghuninya saling bekerja sama untuk membersihkan dan merapikan panti.
"Azka, tolong kamu rapikan buku-buku di rak itu ya," pinta Nayla pada bocah kecil yang berumur sekitar 7 tahun.
"Baik, Kak." Jawab Azka.
"Eeemm, Ema dan Aisy bantu Kakak menyapu dan mengepel ruangan ya."
"Siap, Kak Nayla."
Semua penghuni panti terlihat sibuk. Ada yang menjemur bantal, merapikan mainan, dan ada yang membersihkan kamar mandi.
"Kak Nay, ada Mas Azmi datang!" teriak Azka.
"Tolong suruh masuk dan langsung ke ruangan Bu Yasmin."
"Iya, Kak."
Azmi bukannya langsung ke ruangan Bu Yasmin, tapi dari ruang tamu ia memperhatikan Nayla. Gadis yang sangat sabar, cantik, penyayang, dan mandiri. Begitulah Azmi menilainya.
Merasa diperhatikan, Nayla menjadi salah tingkah, pipinya memerah. Lalu ia menyusul Azka yang masih belum selesai merapikan buku-buku.
"Eeeh... ada Nak Azmi, sudah lama? kok tidak langsung ke ruangan Ibu?"
Tergopoh Bu Yasmin melihat Azmi sendirian di ruang tamu.
"Baru kok, Bu. Ini, mau ngantarkan titipan Ayah, untuk adik-adik di sini."
"Terimakasih banyak lo, Ayahmu itu dermawan sekali. Beliau donatur tetap di panti ini. Eeng...ngomong-ngomong Nak Azmi sedang liburan juga?"
"Ia, Bu. Minggu depan saya wisuda."
"Alhamdulillah, berarti sebentar lagi sudah jadi Master ya, Master of Sains. Nilmada Azmi, M. Si. Waaah, keren sekali Nak."
"Ah, Bu Yasmin bisa saja. Mohon do'a restunya Bu, supaya ilmu saya bermanfaat."
"Tentu, Nak Azmi. Kamu itu sudah pinter, ganteng, ramah, dan sopan. Seandainya Ibu punya anak gadis pasti kamu sudah saya jadikan menantu." Ucap Bu Yasmin bersemangat.
"Ah, Bu Yasmin terlalu berlebihan."
"Oh, ya...setelah wisuda nanti Nak Azmi apa masih mau nerusin S-3 lagi?"
"Belum dulu Bu, karena saya sudah diminta menjadi dosen di kampus saya."
"MasyaAlloh, hebat kamu Nak, semoga Alloh selalu memudahkanmu dan keluarga kalian selalu dilindungi dan diberi kebaikan olehNya."
"Aamiin, terimakasih Bu do'anya, saya mohon pamit, sekalian tolong sampaikan salam saya pada Nayla."
"Salam pada Nayla?, Ii..iya, nanti saya sampaikan," tergagap Bu Yasmin karena terkejut.
------
"Azmi, kamu kan sudah selesai S-2 nya, juga sudah punya pekerjaan tetap sebagai dosen, kapan Ibumu ini dikenalkan dengan calon mantuku?" tanya Bu Farida.
"Betul itu, Az. Ayah sudah sepuh, sudah pingin main bareng cucu."
"Ada sih Yah. Anaknya cantik, penyayang, mandiri lagi." Dengan semangat Azmi menerangkan kriteria gadis pujaannya.
"Oh, ya ... bagus itu, rumahnya mana dan nama orang tuanya siapa?."
"Ma, gadis pujaanku itu tidak punya rumah, orangtuanya entah masih ada atau tidak aku tidak tahu."
"Piye to, Le awakmu iki, milih calon istri kok ngga jelas bibit, bobot, lan bebete!"
"Tapi aku yakin, Ma. Gadis itu sangat baik dan akan mampu mendampingiku selamanya, percaya Ma, ia akan menjadi menantu Mama yang baik."
"Siapa gadis itu, Az?" Pak Dahlan, Ayah Azmi ikut bertanya.
"Gadis itu bernama Nayla, ia sejak kecil tinggal di Panti Asuhan Harapan Kita, ia anak kesayangan Bu Yasmin."
"Azmi, meskipun Nayla itu anak baik, tapi ia tidak cocok dengan keluarga kita?. Suara Bu Farida meninggi.
"Ma, yang mau menikah itu aku, bukan keluarga kita."
"Sudah-sudah jangan berdebat, Ayah akan istikhoroh dulu. Ma!, Lusa Ayah libur, kita main ke Panti untuk melihat Nayla lebih dekat."
------
Sholat isya' baru saja usai, tapi para penghuni panti masih berkumpul di musholla. Mereka masih ada kegiatan yaitu pembacaan Sholawat.
"Shollallohu 'alaa Muhammad marhaban
Shollallohu 'alaihi wa sallam marhaban
Thola'al badru 'alaina
Min tsani yaadil wadaa'
Wa jaba syukru alaina
Ma daa'a lillaahi daa'."
"Yah, Ma, yang sedang membaca Sholawat dan berjilbab ungu itu adalah Nayla." Kata Azmi bagitu tiba di depan musholla panti.
Pak Adnan dan Bu Farida seketika langkahnya terhenti. Mereka tercekat tak mampu berkata-kata ketika melihat Nayla dengan merdu mengalunkan Sholawat Nabi, diikuti anak-anak panti yang lain. Nayla nampak begitu menjiwai makna dari bacaan Sholawat yang dilantunkannya. Di balik jilbab ungu lavendernya, Nayla begitu kelihatan cantik dan anggun.
"Ayo kita ke ruangan Bu Yasmin, keburu malam nanti," ajak Pak Adnan membuyarkan keasyikan Bu Farida melihat Nayla bersholawat.
------
"Begini, Bu Yasmin. Ternyata anak saya Azmi sudah lama mengamati Nayla. Makanya dia sering ke sini ketika liburan. Singkatnya si Azmi menyukai anak asuh Ibu. Tapi mohon maaf sebelumnya, saya selaku ayahnya ingin tahu riwayat dan asal usul Nayla. Karena saya harus tahu keluarga calon mantu saya nanti."
"Pak Adnan, selaku ibu asuhnya, saya sangat tersanjung anak saya akan dipinang keluarga terhormat seperti bapak, apalagi Nak Azmi itu sangat baik dan mempunyai karir yang bagus, apakah ini pantas untuk kami?" Bu Yasmin bertanya ragu.
"Awalnya saya memang tidak setuju Azmi akan mempersunting Nayla, tetapi tiba-tiba saya berubah pikiran, hati saya menjadi mantab setelah melihat Nayla langsung sewaktu membaca Sholawat di musholla tadi." Jelas Bu Farida.
"Pak, Bu, Nak Azmi... sebenarnya Nayla itu masih punya ayah, tetapi ia sedang sakit keras di rumah sakit. Saya juga baru tahu beberapa minggu ini. Kalau ibunya Nayla sudah lama meninggal, tidak lama setelah menitipkan Nayla di sini. Waktu itu Ibunya Nayla tidak sanggup mengasuh Nayla seorang diri karena harus berjuang dengan kanker rahimnya, sementara ayahnya saat itu tidak ada kabarnya setelah pamit bekerja di ibu kota. Kebetulan, teman saya adalah temannya ayah Nayla dan secara tidak sengaja bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Ayahnya Nayla sakit jantung, dan ia berpesan kepada saya untuk tidak memberitahu keberadaannya, ia khawatir Nayla menjadi sedih atau bahkan tidak menerimanya sebagai ayah."
"Kalau boleh tahu, ayahnya Nayla dirawat di rumah sakit mana, Bu? Kami akan menjenguknya, percayalah, kami akan membicarakab ini baik-baik. Bagaimanapun keadaan ayahnya Nayla, selama beliau masih ada maka yang akan menjadi wali nikahnya beliau juga kan, Bu?"
"Betul juga, Pak. Baiklah, akan saya beritahu dimana beliau dirawat, dan pelan-pelan saya akan bicara dengan Nayla perihal rencana lamaran Azmi dan tentang ayahnya yang selama ini tidak pernah dilihatnya."
" Terimakasih, Bu Yasmin. Kalau begitu kami pamit, saya tunggu kabar dari Ibu."
-------
Azmi dan orangtuanya bergegas menuju panti untuk menjemput Nayla. Mereka sudah bersepakat akan ke rumah sakit hari ini.
"Nayla, aku tahu kamu gugup. Mungkin karena rencana lamaran saya kepadamu yang mendadak dan kamu akan bertemu ayahmu yang selama ini tidak pernah kamu lihat." Ucap Azmi di dalam mobil.
"Iya, Mas Azmi. Saya benar-benar gugup, rasanya seperti mimpi. Tiba-tiba Mas Azmi akan melamar saya, dan... dan sa saya akan bertemu ayah kandungku." Nayla terisak tak mampu menutupi segenap rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Ini tissue, silahkan digunakan. Maaf, aku tidak bisa menghapuskan air matamu dengan tanganku sendiri saat ini Nay, karena aku hanya akan menyentuh kulitmu dan mencium keningmu nanti setelah kita akad nikah. Aku akan mencium kepalamu lama, lamaa sekali sambil kulafalkan doa, semoga kau menjadi istri untuk dunia sampai akhiratku."
"Terimakasih, ya Alloh. Kau anugerahkan kepadaku dua hal sekaligus. Calon suami yang sholih dan aku akan bertemu dengan ayah kandungku." Bisik Nayla sambil memejamkan matanya.
Kamar dahlia no 5 tampak sepi. Ketika Nayla, Pak Adnan dan keluarganya masuk, tampak seorang laki-laki yang kurus dengan alat-alat medis yang menempel ditubuhnya. Pelan-pelan Pak Adnan mendekatinya, sementara yang lain menunggu di dekat pintu.
Sekitar limabelas menit, terlihat percakapan antara Pak Adnan dan Pak Fauzi, ayah Nayla. Sementara Azmi, Nayla, dan Bu Farida sangat cemas menunggu di luar.
Tiba-tiba mesin pemantau detak jantung berbunyi, Pak Adnan segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak berapa lama dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan dan memeriksa dengan cermat kondisi Pak Fauzi.
"Cepat letakkan alat pacu jantungnya, dan kamu lihat denyut nadinya!" Suara dokter sibuk memberi intruksi pada perawat yang mendampinginya. Setelah beberapa saat dokter menangani dengan cermat, kondisi Pak Fauzi stabil kembali.
"Bapak keluarga Pak Fauzi?" tanya dokter pada Pak Adnan.
"Iya, saya keluarganya." Jawab Pak Adnan.
"Begini, Pak. Meskipun saat ini pasien masih bisa tertolong, tapi secara medis jika hal seperti tadi terjadi lagi, saya tidak yakin bisa membaik seperti sekarang. Mohon maaf saya harus memberitahukan hal terburuknya, yaitu pasien mungkin tidak dapat tertolong lagi.
Pasien saat ini tertidur, efek obatnya akan hilang sekitar satu jam lagi dari sekarang, setelah itu pasien akan terbangun."
"Terimakasih, Dok infonya, saya mohon Dokter melakukan yang terbaik untuk saudara saya."
"InsyaAlloh, Pak. Jangan lupa berdo'a ya." Kata Dokter sambil berlalu menuju ruangannya.
-------
"Ma, tolong telpon Bu Yasmin supaya segera ke sini. Mengingat kondisi Pak Fauzi seperti yang dikatakan dokter tadi, menurut saya baiknya Azmi dan Nayla kita nikahkan sekarang, selagi Pak Fauzi masih bisa menjadi walinya. Tadi ayah sudah sempat berbicara dengan Pak Fauzi kalau anaknya Nayla ada di luar dan akan kita ambil sebagai menantu. Pak Fauzi setuju, bahkan ia senang sekali."
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru, Yah, kita tidak membawa persiapan apa-apa, untuk mahar saya juga belum siap." Jawab Azmi gugup.
"Iya juga ya, tapi ayah khawatir nanti kondisi Pak Fauzi lebih buruk lagi, sebab kata dokter tadi kemungkinan sembuh Pak Fauzi sudah sangat tipis."
"Om Adnan, kalau ini memang yang terbaik, saya bersedia dinikahkan di sini oleh ayah saya. Mengenai mahar cukup Mas Azmi membacakan Sholawat dan surat Ar Rohman untuk saya."
"Kamu serius, Nay?" Azmi setengah berteriak tidak percaya.
"Iya, Mas, aku serius. Karena mendengar perkataan Mas di mobil tadi, Nayla yakin Mas Azmi adalah laki-laki yang sholih dan bisa menjadi imam yang baik untuk Nayla."
Bu Farida langsung memeluk Nayla dengan kasih sayang.
"Baiklah, kalau semua sudah setuju, saya akan konsultasikan dulu dengan dokter."
Persiapan pernikahan Azmi dan Nayla segera dilakukan, beberapa perawat ikut membantunya. Tidak lama kemudian Bu Yasmin datang bersama seorang Kyai.
"Baiklah, bapak ibu yang ada di sini, karena semua sudah siap, saya akan memimpin acara pernikahan Ananda Nilmada Azmi dengan Ananda Nayla Fadila."
Pak Fauzi memegang tangan Nayla dengan kuat setelah ia memasrahkan kepada Kyai Hamid untuk menjadi walinya, karena Pak Fauzi sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Kyai Hamid segera menjabat tangan Azmi dengan erat.
"Saya nikahkan dan kawinkan anak saya ananda Nilmada Azmi, M. Si bin Adnan Fauzan dengan ananda Nayla Fadila binti Fauzi dengan mas kawin bacaan Sholawat dan surat Ar Rohman."
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Fadila binti Fauzi dengan maskawin bacaan Sholawat dan Surat Ar Rohman." Dengan tegas Azmi mengucapkan akad nikah.
"Bagaimana saksi, syah?" tanya Kyai Hamid.
"Syah," jawab saksi dari keduanya.
"Sekarang Nak Azmi silahkan membaca Sholawat dan Surat Ar Rohman sebagai maharnya." Bisik Kyai Hamid.
" Bismillaahirrohmaanirrihiim,
Allohumma sholli 'alaa Muhammad
Wa 'alaa sayyidina Muhammad.
Ar Rohmaan, 'allamal Qur'an..."
Dengan tartil dan merdu Azmi melafalkan sholawat dan surat Ar Rohman. Semua yang hadir di ruangan itu tidak mampu menahan air matanya, rumah sakit kamar dahlia nomor lima menjadi saksi pernikahan Azmi dan Nayla.
Usai melafalkan sholawat dan surat Ar Rohman, Azmi mencium tangan Pak Fauzi memohon restunya. Pak Fauzi hanya mengedipkan mata sebagai tanda memberi restu, air matanya juga mengalir di pipinya. Setelah itu Azmi merengkuh kepala Nayla. Seperti janjinya, ia lalu mencium kepala Nayla sambil membacakan do'a untuk kelanggengan keluarga barunya. Tangis bahagia Nayla tumpah ruah tak terbendung lagi.
Tit, tit, tit, tiiiiiiiiiiiiit.
Semua yang hadir dikagetkan oleh alat monitor jantung. Garis lurus!
Dokter yang juga ada di ruangan itu segera memeriksa dengan teliti.
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun, maaf, saya sudah tidak bisa menolong Pak Fauzi lagi, Alloh lebih sayang kepadanya dan sudah mengambilnya kembali, Permisi."
Sontak Nayla memeluk erat ayah yang baru beberapa jam ia temui. Tangisnya pecah, semua yang hadir kembali menangis haru.
"Sudahlah, Nak Nayla, ikhlaskan ayahmu, kita do'akan saja semoga Alloh menerima semua amal baik ayahmu." Hibur bu Yasmin sambil memeluk Nayla.
-----
Seminggu kemudian....
"Nayla sayaang, coba pejamkan mata dulu," ucap Azmi tiba-tiba kepada Nayla.
"Ada apa mas?"
"Sudah, ikuti dulu napa sih...." jawab Nayla sambil memejamkan matanya.
"Nah, sekarang silahkan dibuka matanya Nay."
"Apaan ini Mas?"
"Buka saja sayang, itu adalah satu set perhiasan emas dan mutiara, sebagai hadiah untukmu, karena saat itu Mas tidak sempat menyiapkan mahar dan hadiah yang istimewa untukmu."
Nayla tersenyum bahagia, dengan lembut Nayla memeluk Azmi dan Azmi mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada Nayla.
Komentar
Posting Komentar