Al Qur'an adalah salah satu mukjizat yang diberikan kepada Nabi akhir zaman Muhammad SAW. Isi Al qur'an tidak begitu saja diturunkan secara bersamaan, tetapi diturunkan secara bertahap dan beriringan dengan peristiwa yang menyertainya.
Ayat pertama yang diturunkan adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Saat itu Nabi Muhammad mendekati usia 40 tahun dan merasa tidak nyaman menghadapi kemusyrikan di sekitarnya, lalu beliau meminta izin kepada istrinya Khadijah untuk melakukan khalwat atau menyendiri di gua Hira, sebuah gua dengan panjang 4 hasta dan lebar 1,75 hasta yang terletak di jabal Nur.
Selama satu bulan penuh di bulan ramadhan Nabi bertafakkur, beribadah, dan memohon petunjuk kepada Alloh, beliau hanya sesekali pulang ketika bekal yang dibawakan Khadijah sudah habis, lalu kembali lagi ke gua Hira untuk melanjutkan Khalwatnya.
Tepat di usia 40 tahun, pada malam 17 ramadhan Jibril menemui Nabi di gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang pertama. Jibril datang dan mendekap Nabi sampai beliau merasa payah, lalu Jibril berkata "iqro" (bacalah), Nabi menjawab "aku tidak bisa membaca". Jibril mendekap Nabi lagi dan berkata "iqro", hal itu berulang sampai tiga kali. Baru kemudian Nabi mengikuti yang disampaikan Jibril sehingga turun surat Al Alaq ayat 1-5.
Setelah kejadian itu, Nabi pulang dalam keadaan menggigil ketakutan. Ia meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Setelah Khadijah menyelimuti Nabi, beliau menjadi tenang. Selanjutnya Jibril datang lagi dengan membawa surat Al Mudatsir ayat 1-7.
Al Qur'an diturunkan dengan berangsur-angsur sesuai peristiwa yang menyertai, secara keseluruhan Al Qur'an diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Ayat terakhir adalah surat Al Maidah ayat 3 yang diturunkan menjelang Nabi wafat yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H atau 27 Oktober 632 M.
Akan tetapi Nuzulul Qur'an atau peristiwa diturunkannya Al Qur'an diperingati setiap tanggal 17 ramadhan sesuai dengan tanggal diturunkannya ayat yang pertama.
Ayat-ayat Al Qur'an yang disampaikan Jibril kepada Nabi kemudian diteruskan beliau untuk disampaikan kepada sahabat-sahabatnya. Ayat-ayat tersebut ada yang ditulis pada lembaran atau mushaf dan ada yang dihafalkan.
Penyusunan Al Qur'an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Siddiq. Saat itu terjadi perang Yamamah. Pada peperangan itu banyak sahabat yang hafal Al Qur'an wafat. Atas peristiwa tersebut sahabat Umar Bin Khattab khawatir dengan keutuhan Al Qur'an, lalu Umar mengusulkan kepada Abu Bakar untuk membukukan Al Qur'an. Akan tetapi Abu Bakar tidak serta merta menerima usulan Umar, sebab Nabi sendiri tidak pernah mewasiatkan hal tersebut. Namun akhirnya setelah beberapa kali mempertimbangkannya, akhirnya Abu bakar menyetujui usul Umar untuk membukukan Al Qur'an.
Untuk melakukan tugas besar tersebut, ditunjuklah Zaid Bin Tsabit sebagai ketua panitia penulisan Al Qur'an, Zaid ditunjuk karena termasuk sahabat yang paling banyak dan baik hafalannya. Setelah dengan usaha yang sangat keras akhirnya mushaf-mushaf Al Qur'an berhasil dikumpulkan oleh Zaid. Akan tetapi, sebelum sempat mushaf-mushaf tersebut dibukukan, Khalifah Abu Bakar wafat.
Misi kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab, kumpulan mushaf tersebut diserahkannya kepada Hafsah istri Usman Bin Affan yang juga puteri Nabi. Untuk menjaga keutuhan isi dan mufhaf Al Qur'an, lalu Usman menyuruh kembali Zaid Bin Tsabit untuk menulis ulang mushaf-mushaf tersebut. Selain Zaid Bin Tsabit, sahabat yang terlibat dalam penulisan adalah Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Zubair, Ibnu Abbas, Abdullah Bin Haris. Setelah mushaf tersebut ditulis ulang dengan baik, tersusunlah Al Qur'an dalam sebuah kitab yang kemudian dikenal dengan Mushaf Usmani.
Sampai saat ini, keaslian Al Qur'an masih terjaga dan setiap tanggal 17 ramadhan selalu diperingati Nuzulul Qur'an. Sebenarnya, essensi dari peringatan Nuzulul Qur'an bukan hanya memperingati peristiwa turunnya Al Qur'an saja, akan tetapi yang lebih dari itu adalah memaknai bahwa Al Qur'an diturunkan sebagai pedoman utama bagi umat islam dan sebagai pembeda hal yang baik dan dan buruk.
Pada peristiwa Nuzulul Qur'an, diawali dengan surat Al Alaq yang berbunyi 'iqro' (bacalah) mempunyai beberapa makna, yaitu:
1. How to read. Yaitu bagaimana cara membaca Al Qur'an yang baik dan benar, sebab meskipun tidak mengetahui arti bacaan, membacanya adalah dihitung sebagai ibadah.
2. How to learn. Adalah bagaimana mempelajari isi kandungan Al Qur'an supaya menjadi petunjuk hal yang baik dan yang benar.
3. How to understand. Adalah bagaimana memahami Al Qur'an secara emosional dan spiritual. Sebagai upaya untuk menambah keimanan.
4. Mengkasyafahkan atau menyingkap tabir-tabir yang ada dalam Al Qur'an terkait dengan fakta-fakta penciptaanNya di muka bumi ini.
Dengan demikian, peringatan Nuzulul Qur'an bukan hanya peringatan yang bersifat euforia saja, tetapi sebagai media untuk mengetahui sejarah turunnya Al Qur'an dan untuk lebih memahami hikmah-hikmah yang terkandung di dalam Al Qur'an.
Komentar
Posting Komentar