Mawar adalah mahasiswi sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Ia termasuk mahasiswa yang aktif pada kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Termasuk hari ini, ia bersama Melati temannya ingin mengikuti Stadium General dengan tema teladan akhlak Rasulullah Muhammad SAW.
"Mel, belakangan kita lihat di media sosial orang saling hujat, saling fitnah dengan berita hoax." Bagaimana menurutmu, tanya Mawar.
"Itulah, padahal mereka yang menyebar hoax itu tidak tahu
dengan mata kepala mereka sendiri."
"Seperti isu yang sekarang ramai di kampus kita, mulai isu mahasiswi yang jadi simpanan, isu tentang perebutan jabatan, haah! bikin nyesek aja." Ucap Mawar kesal.
"Mudah-mudahan materi yang disampaikan Prof. Zarkasi nanti mampu memberi pencerahan dan bahan renungan kepada kita sehingga menjadi pribadi yang lebih baik." Harap Melati.
"Aamiin, ayo kita segera masuk ke ruang auditorium, rupanya acara mau segera dimulai." Ajak Mawar.
Tidak berapa lama setelah Mawar dan Melati sampai di ruang auditorium, acara dimulai.
MC sudah naik ke atas podium dan membuka acara, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Al-qur'an. Semua yang hadir nampak hikmad mendangarkan.
"Hadirin yang berbahagia, selanjutnya marilah kita ikuti bersama, kajian islam dengan tema itba' akhlak Rasulullah yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. H. Zarkasi, kepada beliau dipersilahkan." Suara MC menggema di atas podium.
Prof. Zarkasi memulai ceramahnya, dengan lugas beliau menceritakan bagaimana akhlak Rasul yang mulia. Bagaimana kesabaran beliau ketika dilempari batu, diludahi, dan sangat menyayangi fakir miskin dan anak yatim.
Saking sayangnya terhadap fakir miskin, Rasul pernah berdo'a kepada Alloh untuk tetap dijadikan miskin dan mati dalam keadaan miskin.
Rasul yang jelas-jelas dimuliakan Alloh, dimuliakan penduduk langit, dan penduduk bumi, tidak pernah sedikitpun ada kesombongan pada diri beliau.
Jauh sekali dengan sikap manusia di abad milenial saat ini, sedikit saja punya jabatan, punya harta, banyak yang lupa diri. Lupa dari mana berasal dan kemana akan kembali.
Prof. Zarkasi juga menyampaikan salah satu pesan Rasul untuk menjaga hati dari sifat-sifat tercela seperti namimah, fitnah, dan sombong.
"Mengenai fitnah, ada satu riwayat yang patut menjadi bahan renungan kita bersama.
Alkisah, ada seorang yang sowan kepada Kyai alim, ia bercerita pada Kyai tersebut pernah menyebarkan hal yang tidak baik tentang seseorang, kemudian ia menyesal. Ia bertanya apakah yang bisa dilakukannya untuk menebus dosa.
Kyai menjawab tidak ada, dan menyuruhnya pulang tetapi harus kembali esok hari.
Esoknya ia segera datang lagi ke rumah Kyai, untuk menanyakan hal yg sama, dan Kyai tersebut tetap memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya, orang tersebut semakin bingung.
Ia berkata kepada Kyai tentang penyesalannya karena tidak tahu berita yang ia sebarkan benar atau salah sebab ia tidak melihatnya langsung, hanya mendengar secara sefihak, sekarang ia tidak bisa meminta maaf kepada orang yang pernah ia fitnah itu karena orang tersebut sudah tidak ada, ia takut di akhirat nanti yang dilakukannya itu menjadi pemberat dosa.
Ia meminta tolong pada Kyai, apa yang harus ia lakukan untuk menghapus kesalahannya.
Kyai itu terdiam sejenak lalu menyuruhnya pulang dan kembali lagi besok dengan membawa kemocing atau sulak dari bulu ayam, selama dalam perjalanan ke rumah Kyai ia diminta membuang satu persatu bulu ayam pada kemocing tesebut, meski ia belum memahami maksud sang Kyai orang tersebut esoknya datang ke rumah Kyai dengan membawa kemocing yang ia buang satu persatu bulunya, sampai di rumah Kyai kemocing itu hanya tinggal pegangannya saja.
Kemudian ia menagih janji Kyai yang akan memberinya petunjuk. Tetapi ternyata sang Kyai belum memberinya petunjuk, Kyai malah menyuruhnya mengambil bulu-bulu kemocing yang telah dibuangnya dan diminta membawa kepada Kyai.
Dalam perjalanan pulang, ia melongok ke sana kemari mencari bulu ayam kemocing yang telah dibuangnya, namun ia tak bisa menemukan melainkan sangat sedikit sekali. Esoknya ia tidak sabar segera menghadap Kyai sambil membawa sedikit bulu ayam yang berhasil ia temukan, dan menagih janji Kyai untuk memberinya petunjuk tentang cara menghapus kesalahannya.
Sang Kyai lalu menjelaskan bahwa bulu ayam dari kemocing yang telah ia buang dan hilang terbawa angin ke mana mana tanpa bisa ia cegah, seperti itulah berita tentang keburukan seseorang yang telah ia sebarkan, berita itu telah jauh sampai ke mana-mana dari mulut ke mulut, hebatnya lagi berita yang tersebar itu bisa menjadi dilebih-lebihkan, seperti itulah dampaknya.
Meskipun berita itu benar bukankah kewajiban muslim adalah menjaga aib saudara muslimnya supaya aibnya sendiri dijaga Alloh, apa lagi jika berita yang disebar itu salah karena tidak mengetahui sendiri kebenarannya maka itu akan menjadi fitnah yang keji dan bisa menjadi dosa jariyah.
Kemudian Kyai menyuruh orang tersebut salat taubat, memperbanyak istighfar agar diampuni Alloh dan berdoa supaya orang yang difitnah sudah memaafkan, sehingga tidak menjadi pemberat dosa.
Hampir semua hadirin tertunduk mendengarkan kisah yang disampaikan Prof. Zarkasi. Kisah sederhana itu mampu menyentuh siapapun yang mendengarnya, karena hal itu sangat sering terjadi.
Tidak terkecuali Mawar, ia sampai menangis sesenggukan, karena ia ingat pernah ikut menyebarkan keburukan temannya di media sosial padahal ia tidak tahu kebenarannya, ia hanya mendengar dari satu fihak saja saat itu. Ia sangat takut apa yang pernah dilakukannya menjadi pemberat dosa di akhirat nanti.
"Astaghfirulullohal 'adziem." Mawar berbisik lirih.
Komentar
Posting Komentar