Pipi kanannya bertato, telinga kiri dan kanannya penuh lubang bekas tindikan, demikian juga di bagian tengah ujung hidung, ada tiga lubang bekas tindikan, di leher masih terlihat tato bergambar kalajengking, di tangan kiri tato bergambar naga, berwajah tirus dan rambutnya dicat merah.
Dio namanya, ia adalah anak tunggal dari salah satu pengusaha besar di Jakarta. Kehidupan metropolis, kurangnya perhatian orang tua, dan cintanya yang di tolak oleh Susan mengantarkan Dio pada kehidupan punk. Hidup bebas di jalanan dan menenggak minuman keras seperti vodka, beer, wine, rum, tequila, dan whiskey pernah ia coba semua.
-----
Tapi semua itu adalah masa lalunya, sekarang ia sedang mendalami ilmu agama setelah hidayah Alloh menyentuh hatinya.
Bersama santri-santri yang lain, hari ini ia khusyu' mendengarkan tausyiah Ustadz Ahmad. Ia tidak memperdulikan tatapan-tatapan aneh dari santri yang lain, baginya mencari kesejatian cinta itu lebih penting. Sebab selama ini hidupnya sangat gersang dari cinta dan kasih sayang.
" Alloh menciptakan manusia dengan cinta. Dari cinta yang dianugerahkan kepada Adam dan Hawa lahirlah manusia untuk menjadi kholifah di bumi ini. Dengan cintaNya pula, Ia akan mengampuni dosa-dosa hamba yang memohon ampunanNya, meski dosa itu sebanyak buih di lautan."
Dio menundukkan mukanya dalam-dalam, mencerna setiap kalimat yang dituturkan Ustadz Ahmad.
"Kegalauan yang sering dialami manusia itu karena penempatan cinta yang salah. Orang tua yang melupakan kewajiban kepada anaknya karena lebih mencintai karirnya, manusia yang mencintai pasangannya tidak karena Alloh, suatu saat akan menangis karena pasti akan ditinggalkannya, tetapi jika manusia lebih mencintai penciptanya maka ia tidak akan pernah ditinggalkan.
Anak-anakku sekalian, cinta hakiki itu adalah Alloh. Ketika Alloh tidak memberikan apa yang diinginkan manusia, sering kali itu disebut musibah, padahal itu adalah salah satu wujud cinta Alloh kepada manusia, sebab sejatinya Alloh sedang merangkul manusia tersebut dengan tidak membiarkan melupakanNya, sebab bisa jadi manusia terlena jika keinginannya dikabulkan, Alloh sedang tidak mau melepaskan pelukNya, lalu apakah manusia masih memilih mencintai makhluk dari pada memilih sedang dicintai Sang Kholiq.
Penghalang untuk bisa mencintai Alloh adalah kata ana yang berarti saya, itu adalah sikap egois kita manusia.
Hakikat cinta adalah memaafkan orang-orang yang menyakiti, meski kamu mampu untuk membalasnya, itulah akhlaq yang mulia.
Ikhlas adalah murni, mengeluarkan nafsu dari jiwa kita, selanjutnya menjadi ridlo yg berarti tunduk pada yang Alloh inginkan maka Alloh akan ada pada dirimu dan berarti pertolongan Alloh itu sangat dekat."
Uraian Ustadz Ahmad tentang cinta Ilahi begitu mendalam.
Dio semakin menundukkan wajahnya, setiap kalimat yang dituturkan Ustadz Ahmad mampu menguliti segala ego dan kesalahan yang ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa merasakan cintaNya, jika hatiku penuh marah pada orang tua yang kurang memperhatikanku. Aku tidak bisa mensyukuri nikmat lain yang Alloh berikan kepadaku. Dan mengapa aku harus marah atas penolakan cintaku pada Susan, jika sebenarnya sang pemberi cinta sedang memelukku?" Mata Dio semakin berkaca-kaca.
-----
Dari balik jendela kamarnya, Dio menatap langit. Ada rasa lega tergambar di wajahnya. Sekarang ia tahu kemana tujuan hidupnya, hatinya yang selama ini gersang, sekarang sudah ada kedamaian. Ia sudah memaafkan kekurangan orang tuanya, dan sekarang ia tahu bahwa Alloh sedang memeluknya dengan tidak dihadirkan Susan ke dalam hatinya.
Sejurus kemudian, Dio mengambil buku hariannya. Ia tuliskan kerinduan kepada Ilahi, cinta sejatinya.
KEPADA CINTAKU
Betapa hati risau di sudut nestapa
Berharap cemas untuk bisa bersua
Aku yang selalu mendamba
Kepada Engkau yang aku cinta
Ada bimbang dalam tanya
Apakah Engkau satu-satunya yang ku puja
Sedang Engkau adalah sebuah niscaya
Aku saja yang sering berpaling muka
Membagi cinta dan tertipu dunia
Sungguh tak sanggup kutengadahkan wajah
Mengingat diri penuh dengan jelaga dosa
Namun hatiku masih terus berharap
Untuk selalu Kau hujani dengan cinta
Wahai Engkau Sang Maha cinta
Dengan malu aku beranikan diri meminta
Jangan Kau berpaling dariku
Karena Kaulah satu-satunya tujuanku
Harus kemana lagi aku menuju
Jika tidak kepadaMU
Tetap peluk aku dengan cintaMU
Tetap rangkul aku dengan kasih sayangMU
Ampuni aku dengan tanpa batas maghfirohMU
Komentar
Posting Komentar