Hari kedua berkemah di kaki gunung Klotok Kediri, tepat jam dua belas malam, tenda tempatku beristirahat bersama teman-teman dikejutkan oleh suara peluit yang ditiup kakak senior untuk membangunkan kami. Tengah malam ini saatnya 'mabit' yaitu malam bina dan taqwa dalam bentuk renungan malam. Aku dan teman-teman digiring ke tepi hutan yang mengitari gunung Klotok. Hawa dingin dan hembusan angin yang aneh langsung menyergap tubuhku. Gelapnya malam dan hanya diterangi beberapa lilin saja, semakin membuat nyaliku menciut. Pucuk-pucuk daun pepohonan di mataku nampak seperti rambut raksasa yang melambai-lambai.
Salah satu kakak senior memimpin acara, dia mulai berbicara tentang fakta-fakta penciptaan Alloh yang maha dahsyat. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan hadirnya sosok perempuan berkisar 17 tahun. Wajahnya penuh luka sayatan yang mengeluarkan anyir darah, rambut panjangnya awut-awutan, dan kepala yang hampir hancur itu membuat isi perutku mau keluar. Ia merintih dalam tangis yang menghiba meminta pertolongan. Aku sangat ketakutan, reflek kakiku ingin segera berlari sejauh mungkin dari perempuan yang menyeramkan itu, tapi sedikitpun badanku tak mampu aku gerakkan.
Tangan perempuan yang mengerikan itu menggapai-gapai hendak menyentuhku, suaranya parau meminta pertolonganku, dia bilang telah diperkosa oleh kekasihnya lalu dibuang di hutan, di kaki gunung Klotok ini. Ketika perempuan itu semakin dekat denganku, dengan satu gerakan seketika ia melepaskan kepalanya. Ia acungkan kepala yang nyaris hancur dan telah lepas itu ke arah mukaku. Sontak aku berteriak ngeri sekuat tenaga. Tangan Renata menepuk-nepuk pipiku, netraku terbuka. Rupanya aku tertidur dan bermimpi, mimpi yang buruk sekali di saat renungan malam pada malam bina dan taqwa.
Komentar
Posting Komentar