PUTRI YEHONALA
(Kisah fiksi berlatar belakang kekaisaran China tahun 1800)Perayaan pernikahan kaisar Hsien Feng dengan Putri Yehonala berlangsung sangat meriah, pesta besar-besaran digelar selama tujuh hari tujuh malam. Hadiah emas, gaun sutra terbaik, pundi-pundi uang dikirimkan kaisar Feng pada keluarga Yehonala.
------
"Untuk membayar hutang-hutang ibumu, kamu harus menikah dengan anakku, kalian tinggal dan makan minum di sini tidak gratis, aku juga butuh hidup!"
Paman Shun berbicara dengan kasar pada ibu Yehonala, tidak ada pilihan bagi Yehonala dan ibunya selain diam. Sejak ayahnya meninggal, ia dan keluarganya diusir oleh Kaisar, sebagai seorang an te hai, ayah Yehonala tidak mempunyai jatah rumah untuk tinggal di istana kaisar.
Untuk melanjutkan hidup sambil mencari pekerjaan, Yehonala, ibu, dan adiknya terpaksa menumpang hidup pada paman Shun. Tanpa diduga, Paman Shun tega memaksa Yehonala untuk menjadi istri anaknya yang idiot dengan dalih untuk membayar hutang.
Yehonala menatap dengan hampa ke depan, di tengah meriahnya pesta yang berlangsung, ia tidak mengerti apakah harus bahagia ketika beruntung dipilih Kaisar sebagai salah satu selirnya.
Di saat Paman Shun bersiap menikahkan Yehonala dengan anaknya yang idiot, prajurit istana mengumumkan titah kaisar untuk membuka lowongan gadis-gadis cantik Munchu untuk dijadikan selirnya.
Beruntung, dari ratusan yang mendaftar, Yehonala yang diam-diam juga ikut mendaftar ternyata dipilih oleh para Kasim istana, dan saat ini pesta pernikahannya sedang berlangsung.
Yehonala tidak dapat merasakan kebahagiaan meski terpilih sebagai selir, setelah pesta pernikahan usai, ia harus tinggal di istana dan sama sekali tidak boleh bertemu ibunya di desa. Ia nekat memilih menjadi selir, baginya lebih terhormat dari pada menjadi isteri anak pamannya yang idiot.
Masing-masing selir diberi tempat tinggal puri yang cantik dan beberapa Kasim, setiap hari para selir harus berhias dan selalu siap menerima kunjungan Kaisar, para selir harus bersabar menerima gilirannya.
Tiga bulan sudah berlalu, Tidak ada tanda-tanda Kaisar akan mengunjungi Yehonala. Bosan, kesepian, dan nyaris saja Yehonala depresi dengan kondisi seperti itu. Rasa rindu pada ibu dan adiknya membuat Yehonala semakin terpuruk.
"Maaf, Tuan Putri! Saya membawa pesan dari Maha Tuan Kaisar Feng." Seorang Kasim terburu-buru menemui Putri Yehonala. Ia tersinyum simpul, satu pekan lagi Sang Kaisar akan mengunjunginya.
Yehonala mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, ia mengingat-ingat cara memuaskan lelaki di atas ranjang yang diajarkan seorang pelacur temannya di manchu.
Ternyata Kaisar sangat menikmati pelayanan yehonala, Sang Kaisar puas. Bahkan sampai berhari-hari Kaisar menginap di Puri Yehonala.
Satu bulan setelah itu Yehonala hamil, ia langsung dianugerahi gelar permaisuri dua, sedangkan permaisuri sebelumnya Putri Nu Haroo belum bisa memberi keturunan.
Yehonala selain pandai memuaskan Kaisar, ia juga sangat cerdas dan banyak membantu tugas kekaisaran yang saat itu sedang mengalami masa runyam karena banyak pemberontakan-pemberontakan.
----
Ketika Tung Chih anak Yehonala dengan Kaisar Feng lahir, kesehatan Kaisar berangsur memburuk dan akhirnya Sang Kaisar wafat.
Permaisuri Nu Haroo dibantu Yehonala mengambil alih tugas Kaisar sampai saatnya Pangeran Tung Chih siap menggantikan ayahnya.
Yehonala merasa kesepian dan tersiksa, Ia harus memendam rindu pada anak kandungnya yang tidak pernah ia asuh sejak lahir.
Sesuai adat istana, Pangeran Tung Chih, anak Yehonala harus diasuh oleh Permaisuri Nu Haroo, dan kepada Yehonala Sang Pangeran diajarkan menyebut Bibi.
Di istana kecilnya, Yehonala menerima seorang prajurit penjaga baru bernama Kung, badannya kekar, mata yang sipit namun sangat tajam, hidung kecil dan mancung nampak serasi dengan bibirnya yang mungil, sikapnya yang berbeda dengan prajurit yang lain membuat Yehonala terpikat.
Di mata Kung, Yehonala adalah putri yang sangat cantik, cerdas, dan mudah akrab dengan siapa pun. Kesepian yang terus mendera Yehonala akhirnya mengantarkan pada sebuah rasa yang tak tertahankan pada prajurit Kung.
Cinta terlarang antara keduanya berlangsung begitu saja, prajurit Kung dan Putri Yehonala sering merajut kasih pada malam-malam yang panjang di istana kecilnya.
Pangeran Tung Chih mulai beranjak remaja, ia dinobatkan sebagai pengganti Kaisar dan harus mengerjakan tugas-tugas kekaisaran.
Asmara yang terjalin antara Yehonala dan prajurit Kung, akhirnya tercium oleh Kaisar. Kaisar Muda sangat murka, sebab hal itu menodai kesucian istana dan kekaisaran. Tidak ada pilihan lain, hukuman bagi Yehonala adalah hukuman pancung.
Upacara untuk pemancungan Yehonala sudah disiapkan, Kaisar Tung Chih sendiri yang akan melakukan hukum pancung.
Gong di tempat upacara sudah ditabuh, pertanda Kaisar Tung akan tiba. Yehonala tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya menangis dalam hati, dengan sudut matanya ia melirik anak satu-satunya yang tidak pernah ia asuh.
Crass!!
Pedang panjang telah dibabatkan Kaisar Tung pada leher jenjang Yehonala yang sudah ditutup sutra kuning. Seorang An te hai yang sudah tua menangis sesenggukan di belakang barisan prajurit yang mengawal upacara pemancungan tersebut.
Kaisar Tung segera turun dari altar pemancungan setelah menyelesaikan tugasnya.
"Kaisar! Maafkan hamba, hamba ingin berbicara sedikit pada Tuan, meski setelah ini hamba juga harus dihukum pancung."
An te hai tua itu berbicara tegas sambil melakukan kwotow. Prajurit pengawal Kaisar bergegas menariknya, tetapi dengan isyrat tangan, Kaisar Tung mencegah.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu sampaikan!"
An te hai tua itu mencium kaki Kaisar.
"Ampuni hamba, Tuan. Hamba adalah An te hai yang paling dekat dengan Putri Yehonala. Beliau adalah bukan Bibi Tuan, melainkan ibu kandung, selama ini kami para kasim disuruh merahasiakan ini, Permaisuri Nu Haroo adalah isteri pertama Kaisar Feng, sedangkan putri Yehonala adalah seorang selir, karena Permaisuri Nu Haroo tidak mempunyai anak, maka akhirnya anak putri Yehonala yaitu Yang Mulia Kaisar Tung harus diasuh oleh isteri pertama Kaisar."
An te hai tua itu segera melakukan kwotwo lagi setelah berbicara.
Kaisar Tung tubuhnya menegang, sesaat kemudian kakinya seolah tidak bertulang dan tubuhnya melorot ke tanah. Ia meraung-raung menangis, memukul- mukul tangannya sendiri yang baru saja memancung ibu kandungnya.
Note:
1. Kasim : Pelayan
2. An te hai : Abdi dalam istana
3. Kwotow : Menghormat dengan cara menyentuhkan kening ke lantai
alhamdulillah ,,, akhirnya selesai jugaaaa ...
BalasHapus