Review Tokoh Novel Samita
Majapahit pada masa kepemimpinan Prabu Wikramawardhana mengalami masa yang suram karena banyak pemberontakan dan perang saudara.
Pada masa itu pula, Kaisar Ming mengirimkan bala tentaranya ke Majapahit untuk menyebarkan kedamaian dan persahabatan. Pasukan besar itu dipimpin oleh seorang muslim asli Tionghoa yang sangat bijak dan memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi, ia adalah Laksamana Cheng Ho.
Dalam misi perdamaian itu, Cheng Ho selalu didampingi oleh murid kesayangannya yang bernama Hui sing.
Hui Sing mempunyai mata jernih seperti bintang, berkulit putih khas gadis Tionghoa dan mempunyai rambut lurus yang hitam legam, adalah gadis yatim piatu yang sejak kecil diasuh Cheng Ho.
Hui sing tidak saja dididik sebagai muslim yang taat, tetapi ia juga dilatih kanuragan oleh Cheng Ho sehingga menjadi pendekar muslim yang digdaya.
Sabuk kulit adalah senjata andalannya yang mempunyai kilau biru serta mampu menghancurkan batu dalam sekali gebrak, selain itu ia juga memiliki ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam yang cukup tinggi.
Dalam perjalanan misi perdamaian tersebut, Cheng Ho kehilangan kitab pusaka yang berisi ilmu kutub beku, sebuah ilmu kanuragan yang tiada tanding.
Sebagai murid yang sangat dekat dengan Cheng Ho, Hui Shing diam-diam juga melakukan penyelidikan. Tanpa diduga, Hui Shing menemukan sebuah konspirasi yang jahat antara murid Cheng Ho yang lain dan Putri Anindita yang saat itu menjadi calon isteri Respati, seorang Rakryan Majapahit yang disegani.
Sebelum Hui Sing menemukan konspirasi jahat antara kakak seperguruannya dengan Putri Anindita, ia berkawan dengan Rakryan Respati dan Anindita. Tetapi ada yang aneh sikap Respati terhadap Hui Sing, demikian juga yang dirasakan Hui Sing.
Pernikahan Respati dan Anindita, membuat Hui Sing harus menahan hatinya, apalagi ketika ia menemukan kejahatan yang disembunyikan oleh Anindita. Karena hal itu pula yang menyebabkan Hui Sing meminta untuk tinggal di Majapahit dan berpisah dari gurunya.
Selama dua tahun sejak Hui Sing mengembara seorang diri, pembunuhan demi pembunuhan sadis terjadi. Salah satunya terjadi pada mantan Rakryan Majapahit, yaitu ayah sahabat karibnya yang bernama Ramya.
Karena kematian ayahnya, Ramya hendak menuntut balas pada Raja Majapahit, terapi hal itu justru menghancurkan hidupnya. sejak saat itu Hui Sing kehilangan sahabat baiknya.
Dalam pencarian untuk menemukan Ramya, Hui sing juga nyaris tewas. Sepasang pendekar dari kalangan hitam yang bernama Kolo Ireng dan Kolo Ijo berhasil mengalahkan Hui Sing dan membuat ia terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam.
Rupanya Hui Sing berhasil menyelamatkan diri, dengan berbekal ilmu pengobatan dan bertahan hidup yang diajarkan Cheng Ho, Hui Sing kembali pulih dari lukanya yang parah. Ia juga mempelajari Kitab Kutub Beku pemberian gurunya yang sempat dicuri oleh kakak seperguruannya.
Hui Sing kembali meneruskan misinya, mencari Ramya dan menemui Respati untuk menyampaikan kebenaran tentang siapa isterinya yang bernama Anindita itu.
Selama perjalanannya, Hui Sing banyak menemui kesulitan dan beberapa kali membahayakan nyawanya, tangis, darah, dan berbagai rintangan hidup dilaluinya, semua itu membuat Hui Sing semakin matang dan tangguh di dunia persilatan.
Akhirnya kedok Anindita terbongkar oleh Nyi Rumi, sahabat di perjalanan Hui Sing yang sudah ia anggap sebagai ibu.
Mengetahui kelicikan Anindita, akhirnya Respati memilih menceraikan Anindita dan meninggalkan kerajaan Majapahit dengan segala jabatan dan kemegahannya. Respati mengembara ke Tuban pada seorang guru yang bernama Kesawa. Pada Ki Kesawa, Respati masuk Islam dan mempelajari agama tersebut.
Berkat seorang pendekar tua yang aneh, Respati akhirnya tahu bahwa Hui Sing yang telah berganti nama Samita mengikuti perjalanannya. Si Kakek juga memberitahu kalau Samita sebenarnya juga mencintai Respati, demikian juga Respati yang akhirnya menyadari kalau ia juga mencintai Hui Sing alias Samita.
Respati segera menyusul Samita yang saat itu hendak ikut kembali ke Tiongkok bersama gurunya Cheng Ho. Setelah berhasil mengejar rombongan Cheng Ho, Respati mengatakan kesungguhannya untuk memperisteri Samita kepada Cheng Ho.
Atas izinnya sang Laksamana, Respati dan Samita akhirnya menikah. Mereka kemudian mendirikan sebuah padepokan yang mengajarkan Islam, pertanian, dan bela diri. Respati dan Hui Sing hidup bahagia di tanah Jawa.
Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang memiliki kanuragan tinggi dan memporak porandakan padepokan Respati dan Hui Sing. Saat Respati sedang bertarung dengan penyerang itu, Hui Sing tidak dapat membantu suaminya dengan maksimal karena baru saja melahirkan anak pertamanya, bayi laki-laki yang di beri nama Soma.
Melihat suaminya yang semakin terdesak, Hui Sing menguatkan hatinya dan menahan segenap rasa sakit pasca melahirkan. Saat terdesak Respati mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu Hanacaraka.
Tetapi jurus itu malah membuat Respati lemah karena harus mengeluarkan tenaga dalam yang banyak. Meskipun para komplotan itu banyak yang terjengkang, tetapi seorang perempuan yang menjadi pemimpinnya dapat merobohkan Respati.
Respati tewas tepat di depan Samita. Samita yang sangat lemah karena sakit pasca melahirkan dan tenaganya terkuras karena sempat mambantu suaminya bertarung, dalam kondisi yang sangat lemah tersebut, Samita merangkak menuju Respati, Respati tersungkur tepat di pangkuan Samita. Ia menutup mata untuk selamanya.
Dalam keadaan lemah, Samita dan jasad Respati di bawa ke padepokan. Hal lain yang membuat Samita lebih terguncang adalah bayi yang baru dilahirkannya hilang, di ambil oleh perempuan jahat yang pernah menjadi isteri Respati, Anindita.
Sejak saat itu, Samita bertekad untuk menghabiskan sisa umurnya demi mencari Soma anaknya, dan meminta pertanggungjawaban pada raja Majapahit.
Tokoh Samita dalam novel ini menggambarkan seorang pendekar muslimah yang digdaya tetapi mempunyai hati yang lembut, taat beribadah, serta sangat tabah, sayangnya di penghujung kisahnya Samita harus kehilangan suami dan anak yang sangat dicintainya.

Komentar
Posting Komentar