JUDUL : RARA (Kembalikan Anakku)
PENULIS: Akhyar Mustafa
UNSUR INTRINSIK
1. Tema
Novel ini menceritakan tentang kisah hidup tragis yang dialami oleh Rara dan keluarganya. Berawal dari perebutan kepemilikan pesantren, kemudian konflik berkembang menjadi semakin runyam ketika Rara diketahui hamil ketika di pesantren. Bukannya dicarikan solusi yang terbaik, tetapi demi sebuah kepentingan oleh beberapa fihak, peristiwa yang terjadi pada Rara malah dijadikan kambing hitam.
2. Alur
Novel Rara kembalikan anakku, menggunakan alur campuran, yaitu alur maju kemudian mundur dan maju lagi. Alur campuran ini membuat cerita semakin dinamis, emosi pembaca dapat dibuat berubah-ubah dari tegang, sedih, biasa, dan kadang mencekam.
Konflik pada cerita ini mulai menajam ketika emak mencoba menggugurkan kandungan Rara dengan cara yang sadis. Setelah janin yang dikandung Rara berhasil digugurkan dengan biadab, Rara semakin stres.
Aib yang sedianya akan ditutup emak dengan cara menggugurkan kandungan Rara, justru memicu konflik yang lain sehingga lambat laun emak sendiri juga mengalami depresi. Tidak selesai sampai di sini, Edwin si kakak juga tersandung masalah karena menanam ganja dan mulai kecanduan. Depresi emak dan Rara semakin memuncak ketika Pak Umar, suami emak tewas karena kecelakaan. Konflik mulai menurun ketika satu demi satu tabir terungkap, akan tetapi peristiwa lain yang di luar kendali dan prediksi manusia kembali terjadi.
3. Latar
Carita ini mengambil latar pada sebuah desa yang terdapat di Aceh. Desa tersebut masih sangat menjunjung nilai-nilai relegius dan terdapat sebuah pesantren yang menjadi sentral awal terjadinya konflik.
4. Tokoh/Perwatakan
a. Rara
Sebagai tokoh utama, adalah seorang gadis jelita yang mengalami peristiwa tragis bertubi-tubi dalam hidupnya. Semula Rara adalah gadis cantik yang ceria, tetapi kemudian mengalami goncangan psikologis yang hebat akibat peristiwa hidup yang ia alami di usia yang masih terlalu muda.
b. Emak
Emak Halimah, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya sangat dihormati tetangganya karena dipandang mempunyai ilmu agama yang cukup, sedikit sombong, dan mempunyai sikap temperamental. Karena sifat dasarnya itulah emak menjadi sosok yang kejam bagi kehidupan Rara.
c. Bapak
Bapak atau Pak Umar, adalah sosok bapak yang sabar, disegani masyarakat, dan sangat menyayangi Rara.
d. Edwin
Adalah kakak Rara. Pemuda yang semula sangat baik tetapi kemudian berubah berperangai buruk bahkan kecanduan ganja semenjak ia tidak lagi mau meneruskan kuliahnya.
e. Mizi
Adalah anak dari adiknya Emak Halimah, seorang pemuda yang baik dan rajin menimba ilmu di pesantren. Ia sejak kecil telah dijodohkan oleh Neneknya untuk menikah dengan Rara.
f. Cik Salimah
Adik Emak Halimah yang sangat sabar dan menyayangi Rara.
g. Abah
Adalah ayahnya Mizi, seorang ayah yang sangat bijak dan sabar.
f. Ustadz Adi
Seorang ustadz yang sebenarnya dinilai masyarakat kurang baik perilakunya, tetapi ia masih tetap disegani karena ia mengelola pesantren satu-satunya di desa tersebut.
g. Ismunandar
Adalah kepala desa yang kaya dan salah satu donatur pesantren milik ustadz Adi.
5. POV
Cerita dalam novel Rara menggunakan POV 3, sehingga penulis bisa menuturkan semua karakter dan peristiwa tokoh secara lebih bebas. Akan tetapi karena penyebutan tokoh hanya menggunakan emak, bapak, abah, tanpa diikuti namanya, kadang dapat membingungkan pembaca.
6. EBI
Secara umum penggunaan EBI dalam novel ini sudah cukup baik, akan tetapi sayang sekali masih terdapat beberapa typo dan letak halaman yang sangat mengganggu pembaca. Typo tersebut antara lain terdapat pada:
1. Onomatope, atau suara tiruan anjing memakai grer, grer, grer, sehingga kurang pas. Halaman 14
2. Rizal tewas dalam hitungan menit karena digigit bagong yang membaemwa virus rabies. Ini janggal, sebab virus rabies mempunyai masa inkubasi 2-12 minggu, yang paling cepat adalah 4 hari, itupun jika gigitan tepat mengenai organ vital, jadi hal ini membuat tidak logis. Halaman 15
3. Kepala Dsa. Seharusnya Desa. Halaman 32
4. Beberapa penulisan ustaz (sesuai kata baku), kadang ditulis ustad. Seperti pada hal. 94
5. Setelah halaman 92 langsung halaman 95, kembali halaman 94, lanjut hal 97, hal itu sangat membingungkan pembaca dan membuat cerita jadi tidak urut.
6. Gamis putih dan koplo putih. Kopyah atau koplo?
Halaman 102
7. Paragraf awal pada hal. 110 mengulang pada paragraf awal di halaman 90
8. Beberapa typo pada halaman-halaman lain.
UNSUR EKSTRINSIK
Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini sangat menarik dan mampu memengaruhi emosi pembaca. Karakter seorang emak yang kuat dan temperamental, kondisi Rara yang mengenaskan, pada tokoh yang tidak bijak dalam menghadapi kasus Rara, semua tertuang secara mendalam. Beberapa kesalahan halaman dan typo tidak mengurangi keapikan cerita serta pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini bisa diterima oleh pembaca, yaitu antara lain agar lebih bijak ketika nenghadapi persoalan yang pelik, tidak gila jabatan atau kehormatan, dan harus melibatkan Alloh ketika sedang menghadapi persoalan hidup.
PENULIS: Akhyar Mustafa
UNSUR INTRINSIK
1. Tema
Novel ini menceritakan tentang kisah hidup tragis yang dialami oleh Rara dan keluarganya. Berawal dari perebutan kepemilikan pesantren, kemudian konflik berkembang menjadi semakin runyam ketika Rara diketahui hamil ketika di pesantren. Bukannya dicarikan solusi yang terbaik, tetapi demi sebuah kepentingan oleh beberapa fihak, peristiwa yang terjadi pada Rara malah dijadikan kambing hitam.
2. Alur
Novel Rara kembalikan anakku, menggunakan alur campuran, yaitu alur maju kemudian mundur dan maju lagi. Alur campuran ini membuat cerita semakin dinamis, emosi pembaca dapat dibuat berubah-ubah dari tegang, sedih, biasa, dan kadang mencekam.
Konflik pada cerita ini mulai menajam ketika emak mencoba menggugurkan kandungan Rara dengan cara yang sadis. Setelah janin yang dikandung Rara berhasil digugurkan dengan biadab, Rara semakin stres.
Aib yang sedianya akan ditutup emak dengan cara menggugurkan kandungan Rara, justru memicu konflik yang lain sehingga lambat laun emak sendiri juga mengalami depresi. Tidak selesai sampai di sini, Edwin si kakak juga tersandung masalah karena menanam ganja dan mulai kecanduan. Depresi emak dan Rara semakin memuncak ketika Pak Umar, suami emak tewas karena kecelakaan. Konflik mulai menurun ketika satu demi satu tabir terungkap, akan tetapi peristiwa lain yang di luar kendali dan prediksi manusia kembali terjadi.
3. Latar
Carita ini mengambil latar pada sebuah desa yang terdapat di Aceh. Desa tersebut masih sangat menjunjung nilai-nilai relegius dan terdapat sebuah pesantren yang menjadi sentral awal terjadinya konflik.
4. Tokoh/Perwatakan
a. Rara
Sebagai tokoh utama, adalah seorang gadis jelita yang mengalami peristiwa tragis bertubi-tubi dalam hidupnya. Semula Rara adalah gadis cantik yang ceria, tetapi kemudian mengalami goncangan psikologis yang hebat akibat peristiwa hidup yang ia alami di usia yang masih terlalu muda.
b. Emak
Emak Halimah, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya sangat dihormati tetangganya karena dipandang mempunyai ilmu agama yang cukup, sedikit sombong, dan mempunyai sikap temperamental. Karena sifat dasarnya itulah emak menjadi sosok yang kejam bagi kehidupan Rara.
c. Bapak
Bapak atau Pak Umar, adalah sosok bapak yang sabar, disegani masyarakat, dan sangat menyayangi Rara.
d. Edwin
Adalah kakak Rara. Pemuda yang semula sangat baik tetapi kemudian berubah berperangai buruk bahkan kecanduan ganja semenjak ia tidak lagi mau meneruskan kuliahnya.
e. Mizi
Adalah anak dari adiknya Emak Halimah, seorang pemuda yang baik dan rajin menimba ilmu di pesantren. Ia sejak kecil telah dijodohkan oleh Neneknya untuk menikah dengan Rara.
f. Cik Salimah
Adik Emak Halimah yang sangat sabar dan menyayangi Rara.
g. Abah
Adalah ayahnya Mizi, seorang ayah yang sangat bijak dan sabar.
f. Ustadz Adi
Seorang ustadz yang sebenarnya dinilai masyarakat kurang baik perilakunya, tetapi ia masih tetap disegani karena ia mengelola pesantren satu-satunya di desa tersebut.
g. Ismunandar
Adalah kepala desa yang kaya dan salah satu donatur pesantren milik ustadz Adi.
5. POV
Cerita dalam novel Rara menggunakan POV 3, sehingga penulis bisa menuturkan semua karakter dan peristiwa tokoh secara lebih bebas. Akan tetapi karena penyebutan tokoh hanya menggunakan emak, bapak, abah, tanpa diikuti namanya, kadang dapat membingungkan pembaca.
6. EBI
Secara umum penggunaan EBI dalam novel ini sudah cukup baik, akan tetapi sayang sekali masih terdapat beberapa typo dan letak halaman yang sangat mengganggu pembaca. Typo tersebut antara lain terdapat pada:
1. Onomatope, atau suara tiruan anjing memakai grer, grer, grer, sehingga kurang pas. Halaman 14
2. Rizal tewas dalam hitungan menit karena digigit bagong yang membaemwa virus rabies. Ini janggal, sebab virus rabies mempunyai masa inkubasi 2-12 minggu, yang paling cepat adalah 4 hari, itupun jika gigitan tepat mengenai organ vital, jadi hal ini membuat tidak logis. Halaman 15
3. Kepala Dsa. Seharusnya Desa. Halaman 32
4. Beberapa penulisan ustaz (sesuai kata baku), kadang ditulis ustad. Seperti pada hal. 94
5. Setelah halaman 92 langsung halaman 95, kembali halaman 94, lanjut hal 97, hal itu sangat membingungkan pembaca dan membuat cerita jadi tidak urut.
6. Gamis putih dan koplo putih. Kopyah atau koplo?
Halaman 102
7. Paragraf awal pada hal. 110 mengulang pada paragraf awal di halaman 90
8. Beberapa typo pada halaman-halaman lain.
UNSUR EKSTRINSIK
Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini sangat menarik dan mampu memengaruhi emosi pembaca. Karakter seorang emak yang kuat dan temperamental, kondisi Rara yang mengenaskan, pada tokoh yang tidak bijak dalam menghadapi kasus Rara, semua tertuang secara mendalam. Beberapa kesalahan halaman dan typo tidak mengurangi keapikan cerita serta pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini bisa diterima oleh pembaca, yaitu antara lain agar lebih bijak ketika nenghadapi persoalan yang pelik, tidak gila jabatan atau kehormatan, dan harus melibatkan Alloh ketika sedang menghadapi persoalan hidup.

Komentar
Posting Komentar