JUDUL : BELAJAR MENULIS
PENULIS : WAKHID SYAMSUDIN
DIULAS OLEH : ANIS HIDAYATI
UNSUR INTRINSIK:
TEMA
Cerita anak yang berjudul belajar menulis ini mengisahkan hubungan anak dengan ayahnya. Sebuah kisah sederhana dan seringkali ada di sekitar kita, bahkan kita sendiri mungkin juga mengalaminya. Haikal adalah seorang anak yang menginginkan mempunyai permainan seperti milik temannya Barka, yaitu sebuah mainan robot-robotan. Sebagaimana anak kecil lainnya, Haikal maunya segera dibelikan mainan tersebut. Akan tetapi ayahnya tidak mengabulkannya, ayahnya hanya memberi nasehat supaya Haikal menabung supaya dapat membeli mainan robot-robotan. Haikal merajuk kepada ayahnya karena ia melihat Barka tidak perlu menabung untuk memiliki mainan. Ayahnya kembali menasehati supaya Haikal tidak pernah memiliki sikap iri. Tema tentang sikap seorang ayah dalam menghadapi anaknya ini sangat bagus untuk menjadi pembelajaran bagi semua, baik anak maupun orang tua.
ALUR
Alur cerita dalam cerita anak belajar menulis ini menggunakan alur maju dengan tempo sedang, sehingga mudah dicerna dan difahami anak-anak.
LATAR
Cerita anak ini menggunakan latar yang sederhana, yaitu di sebuah rumah dengan menonjolkan ruang kerja ayah yang dilengkapi fasilitas komputer. Semua peristiwa yang digambarkan dalam cerita sebagian besar berada di ruang kerja ayah, adapun sesekali menampilkan kantor pos, itu hanya sebagai pelengkap cerita.
TOKOH DAN PERWATAKAN
Tokoh yang dimunculkan dalam cerita anak ini sangat minim, hanya tiga orang saja yaitu ayah, anak, dan Barka. Sebagai tokoh sentral adalah ayah dan anak yang masing-masing mempunyai perwatakan yang khas. Ayah digambarkan sebagai seorang bapak yang bijak dan sabar, ia sangat telaten memberi arahan kepada Haikal anaknya, ia juga sangat pandai memanfaatkan situasi untuk memberi pelajaran kepada anaknya. Adapun haikal digambarkan sebagai anak yang mempunyai sifat iri dan ingin memiliki sebagaimana anak-anak pada umumnya. Sedangkan Barka digambarkan sebagai anak yang sering gonta- ganti mainan tanpa perlu bersusah payah karena selalu dituruti orangtuanya. Penggambaran tokoh sudah lugas dan jelas sehingga tidak perlu lagi dikomentari.
POV
Point of view (POV) yang digunakan sudah cukup pas dengan menggunakan POV 3 dan menampilkan Haikal sebagai tokoh utama. Dengan pemilihan POV 3, penulis bisa sangat lentur dan leluasa memaparkan cerita yang terjadi antara haikal dan ayahnya.
EBI
Penulis sudah menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang baik dan benar dalam menuturkan cerita, tidak ada salah tulis maupun tanda baca. Meskipun sebenarnya cerita ini sangat sederhana, akan tetapi melalui pemilihan diksi yang tepat dan minim kesalahan tulis sehingga cerita ini ringan dan mengalir begitu saja.
UNSUR EKSTRINSIK
Secara keseluruhan cerita anak ini sudah baik dan tema yang diusung sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski ceritanya diambil dari tema yang sederhana, akan tetapi sangat sarat dengan makna. Tentang bagaimana si ayah yang dengan bijak mengarahkan Haikal supaya menjadi anak yang tidak mudah iri dengan terhadap milik orang lain, bahkan si ayah mampu mengarahkan anaknya untuk menggali bakat yang tersimpan pada Haikal. Sedikit kekurangan dari cerita ini adalah plot yang monoton, hanya menggambarkan Haikal dan ayahnya saja, padahal menurut saya cerita ini akan lebih menarik ketika dapat digambarkan juga bagaiman emosi Haikal ketika tidak langsung dibelikan mainan, dan ketika tulisan Haikal yang pertama tidak segera dimuat.
Akan tetapi sedikit kekurangan tersebut tidak mengurangi isi dan amanat cerita sehingga pesan positifnya tetap dapat diterima pembaca.
PENULIS : WAKHID SYAMSUDIN
DIULAS OLEH : ANIS HIDAYATI
UNSUR INTRINSIK:
TEMA
Cerita anak yang berjudul belajar menulis ini mengisahkan hubungan anak dengan ayahnya. Sebuah kisah sederhana dan seringkali ada di sekitar kita, bahkan kita sendiri mungkin juga mengalaminya. Haikal adalah seorang anak yang menginginkan mempunyai permainan seperti milik temannya Barka, yaitu sebuah mainan robot-robotan. Sebagaimana anak kecil lainnya, Haikal maunya segera dibelikan mainan tersebut. Akan tetapi ayahnya tidak mengabulkannya, ayahnya hanya memberi nasehat supaya Haikal menabung supaya dapat membeli mainan robot-robotan. Haikal merajuk kepada ayahnya karena ia melihat Barka tidak perlu menabung untuk memiliki mainan. Ayahnya kembali menasehati supaya Haikal tidak pernah memiliki sikap iri. Tema tentang sikap seorang ayah dalam menghadapi anaknya ini sangat bagus untuk menjadi pembelajaran bagi semua, baik anak maupun orang tua.
ALUR
Alur cerita dalam cerita anak belajar menulis ini menggunakan alur maju dengan tempo sedang, sehingga mudah dicerna dan difahami anak-anak.
LATAR
Cerita anak ini menggunakan latar yang sederhana, yaitu di sebuah rumah dengan menonjolkan ruang kerja ayah yang dilengkapi fasilitas komputer. Semua peristiwa yang digambarkan dalam cerita sebagian besar berada di ruang kerja ayah, adapun sesekali menampilkan kantor pos, itu hanya sebagai pelengkap cerita.
TOKOH DAN PERWATAKAN
Tokoh yang dimunculkan dalam cerita anak ini sangat minim, hanya tiga orang saja yaitu ayah, anak, dan Barka. Sebagai tokoh sentral adalah ayah dan anak yang masing-masing mempunyai perwatakan yang khas. Ayah digambarkan sebagai seorang bapak yang bijak dan sabar, ia sangat telaten memberi arahan kepada Haikal anaknya, ia juga sangat pandai memanfaatkan situasi untuk memberi pelajaran kepada anaknya. Adapun haikal digambarkan sebagai anak yang mempunyai sifat iri dan ingin memiliki sebagaimana anak-anak pada umumnya. Sedangkan Barka digambarkan sebagai anak yang sering gonta- ganti mainan tanpa perlu bersusah payah karena selalu dituruti orangtuanya. Penggambaran tokoh sudah lugas dan jelas sehingga tidak perlu lagi dikomentari.
POV
Point of view (POV) yang digunakan sudah cukup pas dengan menggunakan POV 3 dan menampilkan Haikal sebagai tokoh utama. Dengan pemilihan POV 3, penulis bisa sangat lentur dan leluasa memaparkan cerita yang terjadi antara haikal dan ayahnya.
EBI
Penulis sudah menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang baik dan benar dalam menuturkan cerita, tidak ada salah tulis maupun tanda baca. Meskipun sebenarnya cerita ini sangat sederhana, akan tetapi melalui pemilihan diksi yang tepat dan minim kesalahan tulis sehingga cerita ini ringan dan mengalir begitu saja.
UNSUR EKSTRINSIK
Secara keseluruhan cerita anak ini sudah baik dan tema yang diusung sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski ceritanya diambil dari tema yang sederhana, akan tetapi sangat sarat dengan makna. Tentang bagaimana si ayah yang dengan bijak mengarahkan Haikal supaya menjadi anak yang tidak mudah iri dengan terhadap milik orang lain, bahkan si ayah mampu mengarahkan anaknya untuk menggali bakat yang tersimpan pada Haikal. Sedikit kekurangan dari cerita ini adalah plot yang monoton, hanya menggambarkan Haikal dan ayahnya saja, padahal menurut saya cerita ini akan lebih menarik ketika dapat digambarkan juga bagaiman emosi Haikal ketika tidak langsung dibelikan mainan, dan ketika tulisan Haikal yang pertama tidak segera dimuat.
Akan tetapi sedikit kekurangan tersebut tidak mengurangi isi dan amanat cerita sehingga pesan positifnya tetap dapat diterima pembaca.

Komentar
Posting Komentar