USWAH
KH. Ali Masyhuri, seorang kyai besar dari bumi sholawat Tulangan Sidoarjo Jawa Timur, hari ini menyelenggarakan walimatul ursy kedua putra putrinya. Undangan yang hadir sekitar 10.000 orang, sebagai undangan kehormatan antara lain KH. Mustofa Bisri dari Rembang, KH. Said Agil Shirot, Cak Muhaimin Iskandar, dan masih banyak Kyai-kyai lain serta pejabat pemerintah.
Hal menarik bagi saya melihat perhelatan akbar tersebut adalah bukan banyaknya undangan dan meriahnya acara, tetapi pada souvenir yang diberikan kepada setiap tamu, yaitu satu set sedotan yang terbuat dari aluminium. Satu set itu berisi dua sedotan dengan bentuk yang berbeda plus satu alat pembersihnya.
Sebagai salah satu undangan saya tertarik untuk menulis hal ini, sebab saat ini Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar, di antaranya berasal dari sedotan.
Ternyata, beliau sebagai salah satu Kyai kharismatik NU juga mempunyai kepedulian lingkungan yang tinggi. Beliau secara tidak langsung juga mengajarkan dan memberi contoh untuk meminimalisir sampah plastik dari sedotan.
Sedotan dengan bahan alumunium dapat dicuci dan digunakan ulang, dengan demikian anggap saja 10.000 tamunya dapat istiqomah menggunakan sedotan alumunium dari souvenir yang diberikan, maka dapat dihitung sedikitnya 10.000 sampah sedotan plastik dapat berkurang.
Mengapa kesadaran mengurangi sampah plastik harus dibudayakan? Plastik adalah bahan anorganik yang nonbiodegradable atau tidak mudah terurai di alam secara alami selama masa yang panjang, yaitu sekitar 17 tahun.
Selama di dalam tanah plastik yang belum terurai akan menjadi polutan (penyebab polusi) bagi tanah. Keberadaannya dapat membuat sifat fisik dan kimia tanah menjadi rusak.
Sifat fisik tanah dapat rusak karena banyaknya sampah plastik di dalamnya, sedangkan sifat kimia tanah dapat rusak karena bakteri-bakteri pengurai di dalam tanah tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah menjadi berkurang.
Apabila hal itu terjadi, tanah yang mestinya subur untuk tempat tumbuh dan kembang makhluk hidup menjadi kehilangan fungsinya, maka dengan demikian rantai makanan akan rusak dan ekosistem bumi akan semakin tidak seimbang dan kekacauan kehidupan akan terjadi.
Betapa pentingnya kesadaran untuk mengurangi sampah plastik pada lingkungan, hal itu sudah dicontohkan secara tidak langsung oleh KH. Ali Masyhuri melalui souvenir sedotan alumunium dalam rangkaian acara walimatul ursy putra putrinya.
Save Our Eart
Sidoarjo, 10 Nopember 2019
KH. Ali Masyhuri, seorang kyai besar dari bumi sholawat Tulangan Sidoarjo Jawa Timur, hari ini menyelenggarakan walimatul ursy kedua putra putrinya. Undangan yang hadir sekitar 10.000 orang, sebagai undangan kehormatan antara lain KH. Mustofa Bisri dari Rembang, KH. Said Agil Shirot, Cak Muhaimin Iskandar, dan masih banyak Kyai-kyai lain serta pejabat pemerintah.
Hal menarik bagi saya melihat perhelatan akbar tersebut adalah bukan banyaknya undangan dan meriahnya acara, tetapi pada souvenir yang diberikan kepada setiap tamu, yaitu satu set sedotan yang terbuat dari aluminium. Satu set itu berisi dua sedotan dengan bentuk yang berbeda plus satu alat pembersihnya.
Sebagai salah satu undangan saya tertarik untuk menulis hal ini, sebab saat ini Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar, di antaranya berasal dari sedotan.
Ternyata, beliau sebagai salah satu Kyai kharismatik NU juga mempunyai kepedulian lingkungan yang tinggi. Beliau secara tidak langsung juga mengajarkan dan memberi contoh untuk meminimalisir sampah plastik dari sedotan.
Sedotan dengan bahan alumunium dapat dicuci dan digunakan ulang, dengan demikian anggap saja 10.000 tamunya dapat istiqomah menggunakan sedotan alumunium dari souvenir yang diberikan, maka dapat dihitung sedikitnya 10.000 sampah sedotan plastik dapat berkurang.
Souvenir cantik sedotan alumunium
Mengapa kesadaran mengurangi sampah plastik harus dibudayakan? Plastik adalah bahan anorganik yang nonbiodegradable atau tidak mudah terurai di alam secara alami selama masa yang panjang, yaitu sekitar 17 tahun.
Selama di dalam tanah plastik yang belum terurai akan menjadi polutan (penyebab polusi) bagi tanah. Keberadaannya dapat membuat sifat fisik dan kimia tanah menjadi rusak.
Sifat fisik tanah dapat rusak karena banyaknya sampah plastik di dalamnya, sedangkan sifat kimia tanah dapat rusak karena bakteri-bakteri pengurai di dalam tanah tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah menjadi berkurang.
Apabila hal itu terjadi, tanah yang mestinya subur untuk tempat tumbuh dan kembang makhluk hidup menjadi kehilangan fungsinya, maka dengan demikian rantai makanan akan rusak dan ekosistem bumi akan semakin tidak seimbang dan kekacauan kehidupan akan terjadi.
Betapa pentingnya kesadaran untuk mengurangi sampah plastik pada lingkungan, hal itu sudah dicontohkan secara tidak langsung oleh KH. Ali Masyhuri melalui souvenir sedotan alumunium dalam rangkaian acara walimatul ursy putra putrinya.
Save Our Eart
Sidoarjo, 10 Nopember 2019


Unik dan inspiratif. Upaya Kyai patut ditiru nich.
BalasHapusSalam zero waste! 😊
Yups..
HapusSalkenju...
Ya mbak.. sampah emang jadi perhatian masyarskat dunia. Saya jadi ingat iklan terkait tampon yang ternyata juga kasih sumbangan sampah yang gak bisa di daur ulang, hingga dibuatlah produk baru yang lebih ramah lingkungan atau 'tampon' yang bisa dipakai berulang kali. Anyway, sampah emang PR buat kita semua..
BalasHapusYes
HapusMemberikan contoh yg patut ditiru..
BalasHapusTidak sekedar bicara, namun memberikan tindakan nyata..
Matur sembah nuwun, mbah yai....
Begitulah,, patut kita tiru
BalasHapus