TERSESAT DI JALAN YANG BENAR
Memasuki hari ke-34 ODOP, aku ingin keluar dari zona nyaman, selama ini tulisan fiksi lebih banyak mengisi blog, namun saat ini aku ingin menulis tentang diriku sendiri.
Terlahir di kota paling ujung sebelah selatan tenggara Propinsi Jawa Timur yaitu Banyuwangi. Sebuah kabupaten yang mempunyai kecantikan alam eksotik dengan beberapa pantai yang indah, tanah pertanian yang subur, sangat kental dengan kehidupan pesantren, bahkan juga dikenal karena kekuatan magisnya yang tersembunyi yaitu santet.
Di kota gandrung inilah aku tumbuh dan berkembang, mulai belajar mengeja a ba ta, a b c, 1 2 3, dan seterusnya, dalam lingkungan pesantren Kakekku yang masih mempertahankan kesalafannya.
Tepat ketika usiaku mencapai 15 tahun, Abah mendapat tugas sebagai da'i di Palu Sulawesi Tengah. Berawal dari sinilah ceritaku dimulai.
Diriku yang saat itu baru memasuki fase pubertas, harus menghadapi perjalanan hidup seorang diri tanpa pendampingan langsung dari orang tua. Saat itu sengaja aku tidak diajak ke Palu oleh Abah karena masih menghadapi EBTANAS MTs.
Selepas dari MTs di Banyuwangi, aku melanjutkan sekolah di MAN 1 Jember, kabupaten sebelah barat Banyuwangi yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari desaku. Selama sekolah di MAN 1 Jember, aku dititipkan Abah di sebuah pesantren putri, milik teman beliau.
Tinggal di sebuah pesantren yang harus hidup bersama dengan banyak teman dari berbagai daerah, dan latar belakang yang berbeda bukanlah mudah. Konflik-konflik kecil acapkali terjadi pada kami yang sama-sama masih masa pubertas. Semua itu harus kuhadapi sendiri tanpa ada orang tua untuk mengadu dan berbagi cerita.
Ribuan kilo jarak yang memisahkan aku dan orang tua tanpa alat komunikasi yang canggih seperti saat ini, membuat aku benar-benar merasa menjalani hidup seorang diri. Seringkali aku menangis dalam hati, ketika teman-teman dijenguk orang tuanya di pesantren, sedang aku hanya mampu membuang jauh-jauh keinginan seperti itu.
Tiga tahun kemudian, aku lulus dari MAN 1 Jember dengan nilai yang memuaskan, masuk 10 besar terbaik dari sekian ratus siswa. Dengan prestasi ini aku percaya diri mendaftarkan diri pada Fakultas Kedokteran Universitas Brawijya Malang melalui jalur PMDK. Sebuah kesalahan pertama yang kulakukan, karena begitu percaya dirinya dapat lolos, sehingga aku mengabaikan banyak nasehat untuk mendaftar juga melui jalur UMPTN.
Akibat kesombongan itu, aku ternyata tidak lolos pada fakultas favorit yang menjadi impianku, sedangkan jalur UMPTN sudah ditutup.
Dengan penuh penyesalan, akhirnya aku berusaha berdamai dengan diri sendiri, tak apalah tidak jadi masuk ke Fakultas Kedokteran, karena kemudian aku nekat ke Malang seorang diri dengan naik bus selama 9 jam perjalanan untuk mendaftar di Akademi keperawatan Graha Taruna Malang.
Beberapa hari setelah aku mendaftar di Akademi keperawatan tersebut, ibu datang jauh-jauh dari Palu untuk memantau kelanjutan pendidikanku. Ternyata Ibu tidak setuju dengan pilihanku.
Dengan hati dongkol aku tetap mematuhi keinginan Ibu, aku diajak ke Malang lagi untuk mencari Universitas yang cocok menurut ibu.
Karena waktu pendaftaran di universitas negeri sudah tutup, aku diantar Ibu mendaftar di sebuah universitas swasta yang cukup dikenal di Malang saat itu.
Ketika disuruh mengisi pilihan fakultas yang akan dipilih, aku diam saja, sama sekali tidak bersemangat, atau lebih tepatnya aku pasrah. Cita-citaku masuk fakultas kedokteran kandas, bahkan untuk menjadi perawat saja aku tidak diperbolehkan Ibu.
Akhirnya ibu yang berinisiatif memilihkan fakultas untukku, pilihannya adalah Fakultas Pertanian. "Gila!" umpatku dalam hati, bagaimana bisa aku yang dari kecil tidak familiar dengan sawah, sekarang harus mengambil jurusan pertanian?
Dengan semangat 45, ibuku menjelaskan alasan pilihan fakultas pertanian, menurut beliau, kelak ketika aku lulus dari fakultas tersebut, aku akan menyandang gelar Insiyur Pertanian, Ir. Anis Hidayati, yang akan dipercaya mengelola kebun coklat milik orang tua di Palu.
Aku benar-benar sedih dan sungguh ingin berontak menolak pilihan Ibu, tapi entah, bibir ini tidak mampu mengeluarkan kata-kata penolakan itu.
Semester pertama kulalui perkuliahan dengan rasa terpaksa, dari pada tidak kuliah, ya sudahlah dijalani saja, begitu kira-kira aku menjalaninya.
Beruntung aku bertemu seorang kakak tingkat yang membangunkan ku dari kepasrahan. Sebuah buku karangan Dale Carnagie diberikan padaku. Ada satu kalimat yng ditandainya untuk aku baca.
"Di mana kamu ditanam, disitulah kamu harus tumbuh dan berkembang", begitulah bunyi kalimat tersebut. Saat ini aku sudah "ditanam" di fakultas pertanian, itu sudah takdir yang digariskan oleh Alloh untukku, bukan di fakultas kedokteran atau akademi perawat, maka sekuat apapun aku mencoba menolak semua akan percuma, sebaliknya jika aku bisa berdamai dengan keadaan, mencoba tumbuh dan berkembang dengan baik, maka bukan mustahil hikmah yang sudah disiapkan Alloh dapat kuraih.
Sampai pada semester kedua, atas suport dan pencerahan kakak tingkat tadi, semangat belajarku mulai bangkit, hampir semua kegiatan kampus aku ikuti, aku harus tumbuh dan berkembang, di fakultas pertanian pilihan ibu.
Perlahan-lahan prestasi dapat kuraih, beberapa beasiswa dapat kuperoleh seperti PPA (Pengembangan Potensi Akademik), Supersemar, dan dari ICMI. Pada saat semester lima, aku dipercaya sebagai ketua senat mahasiswa, sebuah jabatan yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa.
Selain dipercaya sebagai ketua senat, aku juga pernah dipercaya sebagai koordintor ISMPI (Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Seluruh Indonesia) untuk wilayah Jawa Timur, Bali, dan NTB. Dengan jabatan itu aku banyak mendapat kesempatan menghadiri acara-acara mahasiswa pertanian di berbagai kampus di Indonesia, dan yang lebih menyenangkan lagi kesempatan itu dibiayai oleh fakuktas, jadi uang sakuku tetap aman.
Meskipun kesibukan di organisasi sangat padat, aku dapat menyelesaikan kuliah selama 3,5 tahun dengan baik, yang membuat aku terkejut lagi adalah, aku dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude.
Tidak begitu lama aku menikmati masa "kelulusan", aku ditawari untuk mengajar di sebuah MAN di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur mengampu mata pelajaran Biologi.
Karena merasa belum linier, aku mengambil kuliah lagi untuk menyesuaikan, saat itu antara mengajar dan kuliah aku jalani secara bersamaan.
Atas izin Alloh, baru sekitar lima tahun mengajar, aku diterima sebagai PNS. Dengan demikian aku tidak jadi pulang ke Palu mengamalkan ilmu sebagaimana cita-cita ibu, tapi beliau akhirnya merestui. Tidak berapa lama, aku juga lolos penjaringan guru bersertifikasi.
Sampai di sini aku menyadari, satu pelajaran berharga yang dapat diambil, ridlo seorang ibu itu sungguh dahsyat melampaui nalar manusia. Aku yang bercita-cita menjadi seorang dokter, terpaksa kandas dan lebih memilih menurut pada pilihan ibu.
Atas ridlonya, meski aku pada akhirnya tidak menjalani profesi sebagai insinyur pertanian maupun tidak menjadi seorang dokter, tapi dengan menjadi seorang guru Biologi, aku dapat mencetak banyak calon insinyur, calon perawat, calon dokter, dan lain-lain.
Inilah kisahku, tersesat di jalan yang benar berkat ridlo dari seorang ibu. Seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter, tetapi kuliah di pertanian, dan berakhir sebagai guru biologi. Sungguh unik sekali rahasia dan skenario Alloh, jauh melampaui batas nalar manusia.
Tulisan ini bukan untuk pamer diri, sebab aku masih tetap seorang yang dloif, semoga kisah perjalananku ini dapat menjadi pelajaran bagi siapapun.
Kertosono, 14 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar