TEROR NINJA DI TAPAL KUDA
(Part-4)
Libur akhir semester sudah usai, mau tidak mau aku harus kembali ke Malang. Jadwal praktikum dan kegiatan Senat Mahasiswa sudah menantiku.
Meski sudah hampir dua bulan, tetapi teror tentang ninja belum surut, anehnya lagi belum ada tindakan pemerintah untuk menyelesaikan keadaan tersebut.
Berbagai spekulasi dari masyarakat bermunculan. Ada yang mengaitkan bahwa teror ninja di Banyuwangi dan daerah tapal kuda lainnya, adalah upaya pengalihan isu dari banyaknya siswa yang terluka dan beberapa terbunuh saat demo mahasiswa menuntut reformasi.
Sekitar lima bulan sebelum marak teror ninja, tepatnya bulan Mei 1998 terjadi demo besar-besaran yang dilakukan mahasiswa hampir di seluruh Indonesia.
Puncak demo yang menuntut reformasi dan turunnya presiden yang berkuasa saat itu adalah kericuhan, akibatnya sekitar 681 mahasiswa dari berbagai daerah luka-luka, empat mahasiswa di Universitas Trisakti Jakarta tewas terkena tembakan di kepala, dada, dan tenggorokan.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
Aku mengumpat dalam hati, apapun tujuan dan latar belakangnya, atas apa yang terjadi di Banyuwangi dan sekitarnya, tetaplah itu perbuatan yang keji dan biadab.
Cerita temanku kembali menari-nari dalam ingatan, dimana Pakdhenya yang seorang tukang pijat, dibantai sekelompok orang dengan tuduhan dukun santet.
Tubuhnya diseret dengan sepeda motor hingga hampir semua kulitnya mengelupas menjadi remahan-remahan. Merah darah membasahi seluruh tubuh, beberapa warga yang melihat tidak berani berbuat apa-apa.
Tidak hanya sampai di situ, setelah tiba di pinggir kuburan desa, tubuh lemah penuh luka tersebut, dikepruk kepalanya dengan batu besar, kepala itu remuk hingga otaknya berceceran, kemudian ditinggal pergi begitu saja oleh pelaku. Aku bergidik ngeri mengingat cerita itu.
Setelah kejadian tersebut, pembantaian demi pembantaian makin sering terjadi, tetapi sasarannya beralih pada ulama, kyai, dan guru ngaji.
Pelakunya di duga manusia dengan baju hitam bercadar seperti ninja. Gerakannya gesit dan sistematis, pada beberapa kejadian, lampu akan dipadamkan dan berikutnya akan ditemukan mayat yang sudah diincar para ninja itu dalam keadaan mengerikan. Ada yang kepalanya hampir putus, tulang-tulangnya dipatahkan, dan ada yang digantung dengan posisi kepala di bawah.
------
Teriakan kondektur membuyarkan lamunanku, rupanya bis yang kutumpangi sudah sampai di terminal Arjosari Malang.
Suasana di kota malang masih cukup mencekam di malam hari, anak-anak kos sepertiku, lebih sering tidur bersama-sama dari pada tidur di kamar masing-masing.
Jalan-jalan yang biasanya ramai oleh lalu lalang mahasiswa ataupun masyarakat menjadi sangat lengang, penjual makanan tidak ada yang berani berjualan melebihi jam sembilan malam.
Selain itu, ada yang tidak biasanya terjadi di beberapa ruas jalan utama di Malang, yaitu munculnya banyak orang gila berkeliaran yang entah dari mana datangnya.
Orang-orang yang berpenampilan seperti gila tersebut akan mudah diajak komunikasi dengan jelas, tetapi ketika ditanya tentang nama dan identitasnya mereka akan berubah seperti orang yang benar-benar gila.
Spekulasi baru bermunculan lagi, orang gila itu diduga bagian dari komplotan para ninja untuk menggali informasi tentang sasaran berikutnya
----
Pagi ini, aku dan dua orang teman mendapat tugas meliput sebuah acara di daerah malang selatan.
Sebelum sampai di lokasi, aku dan temanku mampir ke sebuah warung di dekat rel kereta api.
Ketika aku akan menyendok mi goreng yang kupesan, tiba-tiba ada suara yang sangat riuh dari arah timur. Puluhan orang bergerak sambil berteriak-teriak.
Dari tempat dudukku di dalam warung, aku melongokkan kepala keluar untuk ikut melihat apa yang terjadi.
"Ini dia pelakunya!"
"Rasakan pembalasannya bangs*t!"
"Ayo, para ninja keluarlah, teman kalian sudah kami habisi!"
Teriakan orang-orang itu penuh amarah sambil mengacung-acungkan kepalan tangan dan tongkat.
Nampak di barisan paling depan, seorang mengangakat batang bambu tinggi-tinggi dengan terus berteriak. Di pucuk tongkat itu adalah sepotong kepala manusia!
Darah kering terlihat menggumpal di ujung rambut kepala tersebut, matanya melotot hampir keluar, lidahnya menjulur, bambu yang digunakan sebagai penyangga berlumuran darah dan sudah mengering, demikian juga pada tangan orang yang membawa tongkat tersebut.
Mendadak perutku mual, lidahku kelu tak mampu berkata apapun, mataku nanar melihat dengan penuh kengerian. Keringat dingin bercucuran, tanganku meremas sendok yang dari tadi kupegang.
"Ya Alloh, apakah yang terjadi pada negeri tercinta ini?" hanya kalimat itu yang akhirnya keluar lirih dari mulutku. Mi goreng yang sudah terhidang di depanku, akhirnya tetap saja di tempatnya tanpa kusentuh.
Sejak melihat kejadian itu, setiap malam aku dihantui mimpi buruk. Tidur tidak pernah nyenyak, meski ditemani oleh teman kos yang peduli padaku.
Bayangan kepala yang diarak diatas batang bambu, terus tidak bisa hilang dari ingatan, bahkan setiap aku melihat seorang laki-laki berambut ikal, jantungku langsung berdebar kencang, keringat dingin bercucuran, dan tangan ini akan meremas apapun yang ada di dekatku. Sungguh aku sangat trauma.
Hingga bapakku memberi kabar, bahwa teror ninja di Banyuwangi sudah mereda. Akan tetapi data korban hasil investigasi membuat aku tercengang, ada 147 orang yang tewas tersebar hampir di seluruh kecamatan yang ada di Banyuwangi. Di kecamatan tempat tinggal orang tuaku hanya ada satu korban, sedangkan di kecamatan songgon yang paling banyak, ada 20 orang.
Teror ninja juga mulai menghilang dengan sendirinya, tanpa penyelesaian dan tidak pernah terungkap apa motif dan siapa dalang di balik semua itu. Entah sampai kapan, rahasia berdarah ini akan tetap menjadi rahasia.
Fiksi basic on true
Memorial Mei-September 1998
End
Ini dari cerita nyata ya, Mbak. Semengerikan itu tragedinya 😭
BalasHapusLbh ngeri fakta saat itu
HapusMasih ada tipo mbak... Bisa di edit ulang😁
BalasHapusOk, mungkin bs diberitahu bagian mana yg typo, mataku sdh tak sanggup mencarinya😀😀
HapusSadisnya 😯
BalasHapusBangeet
Hapus☹ padahal sebegeti ngerinya, tapi bisa lenyap tanpa ada kebenaran yg terungkap
BalasHapusGemmeezz bin kessell
HapusZaman ninja itu aku masih SD, tp ngeri karna ketakutannya masih mengalir d nadiku. Nyawa mereka yg mjd korban terbalaskan dg reformasi, meski kedepannya alot juga.
BalasHapusDu kejadian itu ada kaitannya atau tidak, hmmmm..entahlah.
HapusYg kutahu semua biadab
Untung saya baca ini bukan ketika begadang kemarin. Aduh saya juga ikut terbayang ngerinyaaa.
BalasHapusTau ga? Hbs nulis part terakhir sy tdk bs tdr bbrp hr, terbayang lg kepala dikirap yg sy lht sktr 20 th yll
Hapus