OASE SENJA
"Ba' jer bi-la jabar la-la jabar la-ha jer hi, billaahi"
Aku terkesima, ketika Mbah Khatminah mempraktikkan caranya belajar mengaji dulu.
Semula aku sangat asing dengan metode mengaji seperti itu, belum pernah mendengarnya bahkan.
Mbah Khatminah adalah seorang nenek-nenek yang sudah sangat sepuh, tinggal di Pare Kediri Jawa Timur.
Sosok Mbah Khatminah ini, meskipun dengan usia yang sudah sangat sepuh, tetapi masih sangat sehat, tidak pikun, penglihatannyapun masih cukup sempurna. Hanya saja, gigi-giginya yang sudah habis.
"Mbah, njenengan sampun yuswo pinten" ( Mbah, usianya sudah berapa?.
"Umurku wes 140 tahun."
"Whaatt!"
"Iyo, Ngger."
"Mbah kok pirso yuswone sudah 140 tahun dari mana?" (Mbah kok tahu usianya sudah 140 tahun dari mana?.
" Jaman Indonesia merdeka umurku wes 70 tahun."
"Kok pirso?"
"Aku ingat, ketika aku remaja, ratu belanda yang berkuasa adalah Ratu Hermina, berikutnya Yuliana. Dari situlah orang-orang mentaksir saat itu usiaku sudah 14 tahun, jadi kalau dijumlahkan hingga tahun sekarang berarti sudah sekitar 140 tahun."
"Terus Mbah sekolah apa tidak?"
Mbah Khatminah tertawa, nampak lucu sekali karena giginya sudah ompong.
"Ya ngga to, Ngger. Dulu yang bisa sekolah hanya anak pejabat, sedangkan anak petani seperti saya tidak boleh sekolah.
Untungnya saya dulu mau belajar ngaji di surau desa. Jadi meskipun saya itu bodoh, masih alhamdulillah bisa mengaji."
"Coba, Mbah ulangi lagi cara mengeja ngajinya dulu, supaya saya tahu," pintaku karena penasaran.
"Ba' jer bi-la jabar la-la jabar la-ha jer hi, billaahi"
Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk memahami metode yang digunakan mengeja bacaan arab pada zaman Mbah Khatminah dulu.
Akhirnya aku dapat memahami, jika harokat kasroh mengejanya diganti dengan "Jar", harokat fathah diganti dengan "Jabar", dan harokat dlomah diganti dengan "rofa".
Wow, tingkat kesulitannya cukup tinggi, karena untuk mengeja bacaan arab saja mesti digabungkan dengan "ilmu alat" dalam bahasa arab, yaitu nahwu dan shorof.
Metode seperti itu, saat ini tentu sudah tidak ada, karena sudah tergantikan dengan metode-metode yang lebih mudah untuk mempercepat membaca Al qur'an.
Penggabungan "ilmu alat" dalam mempelajari bacaan Al qur'an yang digunakan pada zaman Mbah Khatminah dulu, menurut saya meskipun tingkat kesulitannya cukup tinggi akan tetapi banyak kelebihannya.
Secara tidak langsung ketika mempelajari bacaan Al qur'an secara otomatis juga mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof.
Kedua ilmu tersebut mempunyai peranan yang sangat penting, dalam menterjemahkan ayat-ayat Al qur'an itu sendiri.
Sehingga jika benar-benar mampu menguasai ilmu nahwu dan shorof, maka tidak akan 'tersesat' ketika menafsirkan kandungan isi Al qur'an.
"Dulu para guru itu kan tegas sekali ketika mengajar murid-muridnya. Jika tidak bisa, akan dipukul penggaris atau kayu itu kan sudah biasa, tapi para santri atau murid apa tidak protes Mbah?"
"Itulah, Ngger perbedaannya. Meskipun dulu kami dipukul, kami tidak marah, kami ikhlas. Kami sudah pasrah dengan apapun yang akan guru lakukan, sebab kami yakin maksud guru memukul itu demi supaya kami pintar.
Satu lagi, Ngger. Mengapa santri-santri zaman dulu banyak yang berhasil jadi orang besar, hal itu karena ketawadlu'annya terhadap guru-gurunya.
Dengan demikian, guru menjadi ridlo, karena ridlo maka ilmu yang diberikan menjadi bermanfaat.
Demikian juga gurunya, meskipun keras dalam mendidik murid, tetapi setiap malam para guru itu tidak lupa bermunajat kepada Alloh mendoakan murid-muridnya supaya diberi ilmu yang barokah dan manfaat.
Jadi, jika sekarang menemui murid yang nakal, maka lihatlah dua hal. Satu, bagaimana akhlak murid tersebut terhadap gurunya. Dua, apakah gurunya sudah mendo'akan kebaikan untuk muridnya."
Plaakk!
Sampai di sini, aku merasa ditampar. Benar sekali apa yang dikatakan Mbah Khatminah. Untuk kebermanfaatan sebuah ilmu, ada dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan harus selalu bersinergi. Yaitu akhlak siswa dan do'a dari gurunya.
"Oh inggih, Mbah. Kalau resep supaya panjang umur, sehat, dan tetap giat beribadah apa ya?"
"Kalau saya tidak ada resep apapun. Makanan ya biasa, do'a wirid ya asal minta selamat dunia dan akhirat, itu saja. Cuma Mbah ini berusaha selalu bersyukur atas apapun yang Alloh berikan kepada saya. Dengan demikian hati ikhlas, tenang, dan bahagia."
Cukup simpel, menurutku. Akan tetapi bukan perkara yang mudah untuk menjadi hamba yang mukhlis dan selalu bersyukur. Godaan nafsu dan setan seringkali membuatku terjebak pada kufur nikmat, selalu dan selalu merasa kurang.
Sore ini, banyak 'ilmu jeru' ( ilmu yang mendalam) yang dapat aku peroleh dari sosok Mbah Khatminah.
"Mugi tansah pinaringan sehat badan wal iman nggih Mbah, pangestune dalem suwon, supados saget nglampahi jatah umur yang Alloh berikan dengan baik dan benar." Kucium tangan Mbah Khatminah dengan takdzim, sebelum aku pamit pulang.
MasyaAllah ... Mbah Khatminah udah sepuh banget. Tapi masih semangat. Malulah sayaaa
BalasHapusUsia boleh mendekati batas, tapi semangat menebar kebaikan adl seterusnya
HapusPernah baca tentang ini ... Salut untuk mbahe, semoga sehat selalu. 🙏😊
BalasHapusBerarti dl pernah bc di wall fb sy, ini sy daur ulang lg spy lbh 'nendang' .yg penting bkn plagiat, ok!
HapusSungkem ke mbah Khatminah, luar biasa
BalasHapusInsyaalloh kalau ketemu beliau lg
HapusSaya jadi merenung. Apa yang membuat generasi kita sekarang lemah meskipun lebih intelek dalam beberapa hal, karena terlalu banyak toleransi yang tidak mendidik.
BalasHapusKalau mnrt sy, krn pondasi akhlaq dan agama yg krg kuat, bs mjd sbb
Hapus