MULIAKAN TAMUMU
"Sesok ojo dibaleni maneh, ngunu iku ora apik. Tamu iku kudu dihormati, tanpo dibedak-bedakne." Ujar Ayah menasehatiku.
(Besok jangan diulangi lagi, itu tidak baik. Tamu harus dihormati, tanpa dibeda-bedakan).
"Inggih, Yah." Jawabku sambil menundukkan wajah.
Begitulah ayah, beliau orang yang sangat sabar, rendah hati, dan peduli pada semua orang. Aku sangat segan pada beliau, sehingga ketika sedang dinasehati tidak berani menatapnya.
Seperti sore ini, aku ditegurnya atas sikapku yang kemarin. Ada tetangga yang berkunjung ke rumah. Kami berbincang-bincang santai, selama itu aku tidak membuatkannya minuman, apa lagi memberi sekedar suguhan.
Sebenarnya ada beberapa makanan ringan di kulkas. Gula, teh, dan kopi juga ada. Tapi aku merasa malas membuatkannya, "ah ... tetangga yang sehari-hari bertemu saja," pikirku. Kebodohanku itu dilihat oleh ayah.
Saat itu beliau ikut nimbrung sebentar dengan kami. "Salma, mana minuman untuk tamunya?" ujar Ayah.
"Boten usah repot-repot, Pak. Saya sudah biasa kok main ke sini." Jawab Ina, tetanggaku.
"He he, betul Yah. Mbak Ina sudah sering ke sini kok, kami hanya ngobrol-ngobrol saja," kataku.
Ayah menatapku sebentar, lalu beliau beranjak ke ruang tengah. Aku tidak dapat melihat tatapan tidak suka Ayah kepadaku.
Setelah Mbak Ina pulang, aku dipanggil Ayah ke kamarnya.
"Kalau ada tamu, siapapun itu hormatilah ia. Suguhkan apa yang dimiliki, jika ada kopi atau teh, buatkan. Akan lebih bagus lagi kalau ada makanan ringan. Jika tidak ada apa-apa, minimal segelas air putih. Jangan dibiarkan begitu, meskipun dengan tetangga sendiri."
"Iya, Yah. Maafkan Salma."
"Sini, Nduk. Dengar nasehat ayah. Seandainya manusia bisa mendengar makanan berbicara, pasti manusia akan merasa malu. Sebab makanan itu akan saling berebut untuk bisa disajikan kepada tamu, itulah keberkahan dari makanan itu.
Selain itu, makanan yang disuguhkan kepada tamu bernilai shodaqoh. Setiap 1 kali shodaqoh Alloh akan menggantinya dengan lebih baik dan berlipat ganda, juga dosa-dosa yang diampuniNya.
Setiap rumah sebenarnya ada bahaya yang mengintai, seperti karena adanya ular berbisa, kalajengking, dan hewan-hewan berbisa lainnya. Hewan-hewan berbisa yang membahayakan itu, akan ikut keluar dari rumah seiring dengan keluarnya tamu dari rumah kita.
Rumah yang selalu tertutup dan tidak pernah dikunjungi tamu, akan menjadi rumah yang tidak ada keberkahan di dalamnya."
Begitulah Ayahku, rumah beliau tidak pernah sepi dari tamu, bahkan anak-anak kecil sangat suka bermain ke rumah beliau. Pada usianya yang sudah senja, beliau masih terlihat sehat, mungkin itu salah satu berkah karena beliau sangat pandai menghormati tamu, tidak seperti diriku yang masih sering kalah dengan ego sendiri.
Kertosono, 14 Oktober 2019
Aku pernah jg gtu 😁
BalasHapusAku jg
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTamu... Datang membawa berkah. Pergi mambawa masalah.... Mantap kak tulisannya
BalasHapusMba anis, why do you write something that deeply JLEB into my heart? Sekarang aku malah makin menerawang setelah salah satu rumah milik ayahku tidak ada yang menempati sama sekali
BalasHapus