Langsung ke konten utama
MERJUR
(Part-5)


Bu Fatma hanya terdiam tidak mengerti apa yang dikatakan Mak Nyik pada Ari. Melihat kebingungan Bu Fatma, Mak Nyik mengangguk dan tersenyum kepadanya, lalu berlalu dari rumah Bu Fatma dan menyisakan misteri.
-----
Ari, Dio, Dani, dan Raka sudah berkumpul di pos ronda. Mereka berempat akan ke rumah Mak Nyik yang letaknya berjarak 5 rumah di sebelah barat rumah Ari.

Banyak hal yang ingin mereka tanyakan tentang kejadian aneh yang menimpanya akhir-akhir ini. Kedatangan Ari dan kawan-kawannya sudah ditunggu oleh Mak Nyik.
----
"Mari anak-anak, silahkan masuk!" ajak Mak Nyik ramah. Dengan ragu-ragu keempat anak itu masuk ke rumah Mak Nyik.

"Silahkan duduk anak-anak, Mak buatin minum dulu."

Ari dan kawan-kawan duduk di sebuah kursi kayu yang panjang. Perabotan yang ada di rumah Mak Nyik sebagian besar barang-barang kuno, sangat serasi dengan model bangunan yang juga kuno .

Di sudut ruangan tengah terdapat jam dinding berukuran besar seperti almari, jarum penunjuk detiknya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, jika waktu sudah menunjukkan jam tertetu, loncengnya akan berbunyi dengan keras, menimbulkan suara mistis.

Selain Jam dinding yang besar, ada juga kepala banteng yang dijadikan hiasan menggantung di dinding ruang tamu. Di dinding yang lain tergantung lukisan seorang perempuan dalam balutan kebaya yang anggun.

"Mari silahkan minum anak-anak!" suara Mak Nyik mengagetkan mereka.

"Terimakasih, Mak." jawab mereka hampir bersamaan.

Setelah mempersilahkan minum anak-anak itu, Mak Nyik memilih duduk di kursi goyang yang terletak di bawah lukisan.

"Anak-anak! Mak adalah saudara sepupu Bu Karso, tapi sebelum ini, Mak tinggal bersama anak Emak di desa sebelah." Mak Nyik berbicara tenang, matanya menerawang kosong ke depan di atas kursi goyang yang ia ayun-ayunkan.

Sejurus kemudian Mak Nyik menatap Ari dan kawan-kawan dengan tajam.

"Kalian telah melakukan kesalahan besar, mengapa kalian menetesi darah Bu Karso dengan jeruk nipis? Kalian bukannya prihatin atas apa yang terjadi padanya, tetapi malah menjadikannya permainan, itu tidak manusiawi, anak-anak!"

"Kk ... kka ... kkami minta maaf, Mak. Semua itu terjadi karena kami penasaran dengan merjur yang diterangkan pada buku yang kami temukan." Jawab Ari gugup.

"Apapun alasan kalian itu tidak benar!"

"Iya, Mak. Kami salah, kami minta maaf." Dani menyaut dengan lirih.

Mak Nyik kembali menatap mereka satu persatu. Kemudian pandangannya berhenti pada satu titik, tepat di belakang Ari.

"Asal kalian tahu, sejak peristiwa itu, sepupuku Bu Karso, selalu datang kepadaku, ia mengadu kalau kecewa atas perbuatan kalian yang tidak memiliki empati, makanya ia mengikuti kalian terus."

"Iya, Mak. Kami menyesal, kami minta maaf. Sekarang bagaimana caranya kami meminta maaf pada Bu Karso?"

Mak Nyik menunduk dengan mata yang terpejam, seolah ia sedang berkomunikasi dengan seseorang di dunia lain.

"Begini anak-anak. Bu Karso dulu sangat suka dengan kidung wahyu kolosebo, nanti Mak akan menyanyikan kidung itu, saat Mak melantunkan kidung itu, kalian harus tenang dan fokus ke Emak. Nanti jika Mak seperti tertidur, kalian segera minta maaf kepadaku, karena saat itu ruh Bu Karso telah masuk ke ragaku, kalian mengerti?"

Ari dan kawan-kawannya mengangguk. Mak Nyik  membetulkan posisi duduknya lalu memejamkan mata, suasana tiba-tiba menjadi hening.

"Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubedo hinggo pupusing jaman
Hamateg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardaning ponco saben ulesing netro
Linambaran sih kawelasan ingkang paring kamulyaan
Sang hyang Jati Pangeran
Jiwanggo balbu, samudro pepuntoninh laku
Tumuju dateng gusti, dzat kang amurbo dumadi."

Sampai pada bait itu, angin tiba-tiba berhembus kencang, tirai di rumah Mak Nyik sampai berkibar-kibar. Suasana semakin mencekam, tidak lama kemudian suara kidung Mak Nyik berhenti, kepalanya bersandar pada kursi goyang yang terus berayun-ayun.

"Aku sudah dataaang...." terdengar suara parau dari mulut Mak Nyik dengan mata yang masih terpejam rapat.

Ari menepuk bahu Dani dan memberi isyarat kepada teman yang lain. Mereka berempat saling pandang, wajah mereka pias ketakutan.

Kemudian Dani beringsut mendekati Mak Nyik, Ari mengikuti Dani setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Dio dan Raka juga ikut beringsut di belakang Ari.

"Maafkan kami, Bu." Ucap Dani sambil mencium tangan Mak Nyik. Satu persatu Ari, Dio, dan Raka mengikuti mencium tangan Mak Nyik sambil meminta maaf.

Angin yang tadi sempat berhembus kencang, kemudian berhenti. Pelan-pelan Mak Nyik membuka matanya.

"Syukurlah, Bu Karso mau memaafkan kalian, sekarang ia tenang di alamnya. Pesanku, jangan sekali-kali mengulangi perbuatan itu, hormatilah manusia meski ia sudah mati, sebab sejatinya manusia itu mati hanya berpindah alam saja."

Ari dan kawan-kawannya mengangguk mengerti, di belakang Mak Nyik, Bu Karso tersenyum dalam balutan baju yang masih berlumuran darah.

End.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...