Langsung ke konten utama
MERJUR
(Part-4)



Dani berjalan terburu-buru menuju rumahnya, tidak biasanya ia merasa ketakutan melewati tepi jalan desa yang sepi. Pada malam hari, bayangan pucuk daun pohon-pohon besar menyerupai rambut raksasa melambai-lambai.

Dari kejauhan terdengar suara anjing mendengking. Angin berkesiur menggerakkan pohon bambu hingga saling keriang keriut. Dani semakin cepat mengayuh sepedanya, ia merutuki dirinya sendiri telah pulang terlalu malam dari berlatih basket.

"Tooolooong!...."
Terdengar suara perempuan merintih kesakitan di balik rimbunan pohon bambu. Dani menoleh ke arah suara, tidak ada siapa-siapa. Tengkuk Dani seketika meremang.

Sepeda yang dinaiki Dani terasa berat, ia mengayuhnya sekuat tenaga, tetapi laju sepeda itu tetap melambat, seolah ada beban berat yang membonceng di belakang.

Sesampainya di rumah, Dani segera membersihkan diri dan masuk ke kamarnya, ia sengaja menghindari orang tuanya.

Sementara Raka dan Dio yang tinggal di rumah kos, juga mengalami hal-hal aneh sejak merjur yang dilakukan pada darah Bu Karso.

Raka sejak sore sudah pulas di kamarnya, menjelang tengah malam ia terbangun, ada aroma amis darah menguar. Ia segera menyalakan lampu kamar.

"Auuuughh!!
Raka memekik ketakutan, di tempat tidurnya ada sepotong tangan yang berlumuran darah. Raka berlari menuju kamar Dio, begitu ia membuka kamar Dio yang memang tidak pernah dikunci, Raka melihat di sebelah Dio ada sosok perempuan dengan usus terburai, wajahnya tidak jelas karena tertutup rambut yang terurai ke depan.

Tubuh Raka mematung seketika melihat itu, keringat dingin bercucuran sementara mulutnya tidak mampu berkata apapun.

"Den Raka, Ada apa di sini? Wajah Aden pucat gitu," tegur Bi Ijah mengembalikan kesadaran Raka.

"Bib, Bbi Ijah! Aah ... bikin kaget saja. Coba lihat, siapa yang tidur di ranjang Dio?"

"Mana, Den? Ngga ada siapa-siapa, cuma den Dio dan guling." Jawab Bik Ijah kebingungan. Raka mengucek-ucek matanya, memastikan apa yang tadi dilihatnya tidak salah. Ternyata memang hanya ada guling di sana.

"Ya sudah, Bi. Aku balik saja ke kamarku. Dengan bingung Raka kembali ke kamarnya.
-----
"Ari! Tolong ke sini sebentar, ada yang ingin bertemu denganmu." Panggil Bu Fatma dari ruang tamu.

Ari yang sedang rebahan di kamar bergegas ke ruang tamu memenuhi panggilan ibunya.

Deg!
Ari tercengang melihat tamu yang datang. "Perempuan tua itu ... bukannya yang pernah datang beberapa malam yang lalu," gumam Ari.

"Kenapa, Ar. Kenalkan, nenek ini adalah Mak Nyik, tetangga baru kita."

Nenek yang dipanggil Mak Nyik itu mengulurkan tangannya kepada Ari. Ari menjabat tangan Mak Nyik dengan ragu.

"Kamu anak baik, mestinya ngga usah ikut-ikutan temanmu pada malam setelah kematian Bu Karso." Bisik Mak Nyik saat menerima jabat tanggan Ari.

Ari terbengong tidak mampu berkata-kata.

"Ari! Ada apa ini, tolong sana ambilkan minuman untuk Mak Nyik!" perintah Bu Fatma mencairkan ketegangan Ari dan Mak Nyik.

"Nggak usah repot-repot, Bu. Saya hanya ingin berkenalan saja dengan keluarga ibu. Sebagai tetangga baru saya ingin akrab dengan kalian.

Oh, iya Bu, saya mau pamit dulu, masih ada yang harus saya selesaikan di rumah." Pamit Mak Nyik.

Mak Nyik berdiri dari duduknya dan menyalami Bu Fatma, kemudian menyalami Ari. "Pasti banyak yang ingin kamu ketahui tentang kejadian akhir-akhir ini yang menimpamu, silahkan datang ke rumahku, ajak juga kawan-kawanmu." ucap Mak Nyik lirih.

Bu Fatma hanya terdiam tidak mengerti apa yang dikatakan Mak Nyik pada Ari. Melihat kebingungan Bu Fatma, Mak Nyik mengangguk dan tersenyum kepadanya, lalu berlalu dari rumah Bu Fatma.

Bersambung....







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...