MERJUR
(Part-3)
Tidak ada siapa-siapa, hanya kesunyian di sana, tidak mungkin juga ayahnya mendahului Ari, sebab tadi jelas masih ada di dekat ruang tamu, lalu siapakah yang saat ini tidur bersama ibunya?
"Le! Ada apa?" baru saja Ari akan meninggalkan kamar itu, suara ibunya yang terbangun mengagetkannya.
"Ngga ada apa-apa. Ari hanya akan menutup pintu kamar ibu yang terbuka, tadi Ari terbangun karena haus, Bu."
Ari bergegas pergi sambil melirik ayahnya yang masih tetap pulas di tempatnya.
----
"Dani, Dio, Raka! Apakah kalian semalam tidak mengalami kejadian aneh?" tanya Ari pada teman-temannya saat mereka berkumpul di kantin sekolah.
"Ngga ada apa-apa tuh, aneh bagaimana?" saut Dani.
"Aku didatangi sosok perempuan, wajahnya tidak jelas, bajunya penuh darah dan darah itu juga ada di bantalku." Jelas Ari setengah berbisisik.
"Ah ... itu efek ketakutanmu saja kaliii!" sanggah Raka.
"Sudah-sudah, lupakan saja. Percaya deh, tidak akan terjadi apa-apa. Ayo kita masuk kelas, sudah bel tuuh ...." ajak Dani.
Tanpa mereka sadari, seorang nenek-nenek sedari tadi mengamati Ari dan kawan-kawan. Tatapannya aneh dan misterius. Begitu Ari dan teman-temannya masuk kelas, nenek itu juga pergi, menjauh dari kantin sekolah.
----
"Ari! Nanti Ibu dan Ayah akan menjenguk nenekmu, mungkin akan menginap di sana."
"Kenapa mesti menginap sih, Bu? Ari kan sendiri nanti."
"Sekalian meyelesaikan urusan ayahmu, kenapa? Kamu takut sendirian?"
"He he, iya, sedikit."
"Tumben anak ibu takut?" Bu Fatma mengacak-acak poni Ari.
"Masih teringat kejadian yang menimpa Bu Karso."
"Ooh ... itu sudah ditangani pihak yang berwenang, insyaalloh ngga akan terjadi apa-apa. Ajak saja teman-temanmu menginap di sini. Nanti Ibu siapkan makanan ringan di kulkas."
"Baiklah, Bu. Ari akan ajak Dani dan teman-teman ke sini."
-----
Suara Ari dan teman-temannya sangat riuh, mereka sedang bermain mobil legends, Raka melonjak kegirangan ketika ia dapat mengalahkan teman-temannya.
"Bosen ah, bagaimana kalau kita bermain yang lebih seru lagi?" ajak Raka.
"Main apaan?" tanya Dio.
"Jaelangkung!"
"Ayo, pasti seru nanti." Dio bersemangat, demikian juga dengan Dani dan Raka.
"Kenapa sih main itu, ngga ada permainan lagi apa?" protes Ari sambil mengambil novel Dan Brown.
"Permainan yang lain banyak, tapi ini lebih seru." pungkas Raka.
"Terserah kalian sajalah, aku tidak ikut." Ari melanjutkan membaca novelnya.
"Ya sudah nggak apa-apa, kalau gitu kamu lihat kami saja, taruh dulu novelmu itu kutu buku!" pinta Raka.
"Jadi begini kawan-kawan. sebelum permainan dimulai, kita akan bersama-sama memanggil Jaelangkung sambil memegang pulpen ini. Nanti kalau pulpen ini sudah bergerak sendiri, kalian lepas pegangan kalian, biar aku saja yang memegang pulpen. Kalian silahkan bertanya apa saja, nanti tangan saya akan bergerak sendiri untuk menulis, kemudian baca tulisan dari pulpen yang saya pegang ini." Jelas Raka.
Keempat anak itu sudah duduk melingkar, di tengahnya terdapat satu lembar kertas dan satu pulpen. Dika, Dani dan Raka mulai memegangi pulpen di atas kertas.
"Jaelangkung jaelangse, di sini ada pesta, pestanya kecil-kecilan. Datang tak diundang, pulang tak di antar."
Jaelangkung jaelangse, di sini ada pesta, pestanya kecil-kecilan. Datang tak diundang, pulang tak di antar."
Tiba-tiba pulpen itu bergeta. Dani dan Dio melepaskan pegangannya. Raka semakin memperkuat pegangan pada pulpen.
"Apakah kamu sudah hadir?" tanya Dio.
Tangan Raka berputar- putar mengikuti gerakan pulpen. Lalu pulpen itu membuat tulisan, 'iya'.
"Kamu laki-laki atau perempuan?"
Pulpen itu kembali berputar-putar dan membuat tulisan, 'Perempuan'.
"Kamu kapan matinya?" tanya Dani.
Pulpen yang dipegang Raka kembali bergerak-gerak, lalu membuat tulisan 'belum lama'.
"Siapa namamu?" tanya Ari agak ketakutan.
"Karso."
Keempat anak itu saling pandang. "Kamu matinya karena apa?" sela Dani.
"Di bunuh."
Ari terhenyak, ingatannya atas Bu Karso muncul. "Maaf, Bu. Kami tidak bermaksud mengganggumu, kami hanya bermain-main saja."
"Teman-teman, kita harus menyudahi permainan ini, bukannya apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja." Pinta Ari.
Tok, tok, tok!
Tiba-tiba suara ketukan di pintu depan mengagetkan mereka.
"Siapa?" tanya Dio lirih.
Ari hanya mengedikkan bahunya. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju pintu.
Dengan pelan pintu di buka, di luar cahaya remang-remang dari pendar lampu teras. Tidak ada siapa-siapa di sana. Perasaan mereka mulai tidak enak.
Krosaaak!
Suara langkah kaki mengagetkan Ari dan kawan-kawan. Dari balik pohon mangga yang cukup besar di samping kanan rumah Ari, muncul seorang nenek berkebaya dan berkerudung putih. Nenek itu berjalan tenang melewati depan rumah Ari, kemudian ia menoleh ke arah Ari dan teman-temannya. Nenek tersebut menatap mereka dengan tatapan tidak suka dan misterius. Lalu nenek itu pergi begitu saja, mengabaikan keempat anak itu mematung dalam ketakutan.
Bersambung....
(Part-3)
Tidak ada siapa-siapa, hanya kesunyian di sana, tidak mungkin juga ayahnya mendahului Ari, sebab tadi jelas masih ada di dekat ruang tamu, lalu siapakah yang saat ini tidur bersama ibunya?
"Le! Ada apa?" baru saja Ari akan meninggalkan kamar itu, suara ibunya yang terbangun mengagetkannya.
"Ngga ada apa-apa. Ari hanya akan menutup pintu kamar ibu yang terbuka, tadi Ari terbangun karena haus, Bu."
Ari bergegas pergi sambil melirik ayahnya yang masih tetap pulas di tempatnya.
----
"Dani, Dio, Raka! Apakah kalian semalam tidak mengalami kejadian aneh?" tanya Ari pada teman-temannya saat mereka berkumpul di kantin sekolah.
"Ngga ada apa-apa tuh, aneh bagaimana?" saut Dani.
"Aku didatangi sosok perempuan, wajahnya tidak jelas, bajunya penuh darah dan darah itu juga ada di bantalku." Jelas Ari setengah berbisisik.
"Ah ... itu efek ketakutanmu saja kaliii!" sanggah Raka.
"Sudah-sudah, lupakan saja. Percaya deh, tidak akan terjadi apa-apa. Ayo kita masuk kelas, sudah bel tuuh ...." ajak Dani.
Tanpa mereka sadari, seorang nenek-nenek sedari tadi mengamati Ari dan kawan-kawan. Tatapannya aneh dan misterius. Begitu Ari dan teman-temannya masuk kelas, nenek itu juga pergi, menjauh dari kantin sekolah.
----
"Ari! Nanti Ibu dan Ayah akan menjenguk nenekmu, mungkin akan menginap di sana."
"Kenapa mesti menginap sih, Bu? Ari kan sendiri nanti."
"Sekalian meyelesaikan urusan ayahmu, kenapa? Kamu takut sendirian?"
"He he, iya, sedikit."
"Tumben anak ibu takut?" Bu Fatma mengacak-acak poni Ari.
"Masih teringat kejadian yang menimpa Bu Karso."
"Ooh ... itu sudah ditangani pihak yang berwenang, insyaalloh ngga akan terjadi apa-apa. Ajak saja teman-temanmu menginap di sini. Nanti Ibu siapkan makanan ringan di kulkas."
"Baiklah, Bu. Ari akan ajak Dani dan teman-teman ke sini."
-----
Suara Ari dan teman-temannya sangat riuh, mereka sedang bermain mobil legends, Raka melonjak kegirangan ketika ia dapat mengalahkan teman-temannya.
"Bosen ah, bagaimana kalau kita bermain yang lebih seru lagi?" ajak Raka.
"Main apaan?" tanya Dio.
"Jaelangkung!"
"Ayo, pasti seru nanti." Dio bersemangat, demikian juga dengan Dani dan Raka.
"Kenapa sih main itu, ngga ada permainan lagi apa?" protes Ari sambil mengambil novel Dan Brown.
"Permainan yang lain banyak, tapi ini lebih seru." pungkas Raka.
"Terserah kalian sajalah, aku tidak ikut." Ari melanjutkan membaca novelnya.
"Ya sudah nggak apa-apa, kalau gitu kamu lihat kami saja, taruh dulu novelmu itu kutu buku!" pinta Raka.
"Jadi begini kawan-kawan. sebelum permainan dimulai, kita akan bersama-sama memanggil Jaelangkung sambil memegang pulpen ini. Nanti kalau pulpen ini sudah bergerak sendiri, kalian lepas pegangan kalian, biar aku saja yang memegang pulpen. Kalian silahkan bertanya apa saja, nanti tangan saya akan bergerak sendiri untuk menulis, kemudian baca tulisan dari pulpen yang saya pegang ini." Jelas Raka.
Keempat anak itu sudah duduk melingkar, di tengahnya terdapat satu lembar kertas dan satu pulpen. Dika, Dani dan Raka mulai memegangi pulpen di atas kertas.
"Jaelangkung jaelangse, di sini ada pesta, pestanya kecil-kecilan. Datang tak diundang, pulang tak di antar."
Jaelangkung jaelangse, di sini ada pesta, pestanya kecil-kecilan. Datang tak diundang, pulang tak di antar."
Tiba-tiba pulpen itu bergeta. Dani dan Dio melepaskan pegangannya. Raka semakin memperkuat pegangan pada pulpen.
"Apakah kamu sudah hadir?" tanya Dio.
Tangan Raka berputar- putar mengikuti gerakan pulpen. Lalu pulpen itu membuat tulisan, 'iya'.
"Kamu laki-laki atau perempuan?"
Pulpen itu kembali berputar-putar dan membuat tulisan, 'Perempuan'.
"Kamu kapan matinya?" tanya Dani.
Pulpen yang dipegang Raka kembali bergerak-gerak, lalu membuat tulisan 'belum lama'.
"Siapa namamu?" tanya Ari agak ketakutan.
"Karso."
Keempat anak itu saling pandang. "Kamu matinya karena apa?" sela Dani.
"Di bunuh."
Ari terhenyak, ingatannya atas Bu Karso muncul. "Maaf, Bu. Kami tidak bermaksud mengganggumu, kami hanya bermain-main saja."
"Teman-teman, kita harus menyudahi permainan ini, bukannya apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja." Pinta Ari.
Tok, tok, tok!
Tiba-tiba suara ketukan di pintu depan mengagetkan mereka.
"Siapa?" tanya Dio lirih.
Ari hanya mengedikkan bahunya. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju pintu.
Dengan pelan pintu di buka, di luar cahaya remang-remang dari pendar lampu teras. Tidak ada siapa-siapa di sana. Perasaan mereka mulai tidak enak.
Krosaaak!
Suara langkah kaki mengagetkan Ari dan kawan-kawan. Dari balik pohon mangga yang cukup besar di samping kanan rumah Ari, muncul seorang nenek berkebaya dan berkerudung putih. Nenek itu berjalan tenang melewati depan rumah Ari, kemudian ia menoleh ke arah Ari dan teman-temannya. Nenek tersebut menatap mereka dengan tatapan tidak suka dan misterius. Lalu nenek itu pergi begitu saja, mengabaikan keempat anak itu mematung dalam ketakutan.
Bersambung....

Komentar
Posting Komentar