Langsung ke konten utama
MERJUR
(Part-2)


Saat Ari memeras jeruk nipis di atas noda darah itu, ia dan teman-temannya tidak ada yang melihat, ada sepasang mata penuh amarah menatap mereka dari balik kegelapan.
-------
Dengan lunglai Ari memasuki kamarnya, ia masih terbayang-bayang pada apa yang dilakukan tadi. "Dari mana saja kamu, Le, kok baru pulang?" tegur Bu Fatma mengagetkan Ari.

"Eh, Ibuk. Dari rumah Dani, Bu ... ada PR matematika."

"Hati-hati ya, Le. Sekarang desa kita mulai tidak aman, jangan pulang terlalu malam kalau bepergian. Tadi pagi Bu Jarwo ditemukan tewas dengan mengenaskan di rumahnya." Bu Fatma bercerita dengan mimik muka yang serius. Ari hanya mendengarkan dengan malas, jauh di lubuk hatinya ada rasa menyesal dan takut atas apa yang dilakukan dengan teman-temannya tadi.

Malam sudah semakin larut, desau angin membuat udara semakin dingin, mencekam tidak seperti biasanya. Orang tua Ari sudah terlelap dalam kamarnya.

Kaok gagak memecah kesunyian malam, suaranya parau seolah membawa pesan kematian. Aroma bunga kamboja menguar, membuat bulu kuduk Ari meremang.

Sreet!
Sekelebat bayangan berlalu di belakang Ari. Begitu Ari menengok ke belakang, ia tidak mendapati apa-apa. Ari semakin ketakutan, tubuhnya ditenggelamkan semua di balik selimut. Detak jantungnya semakin berdegup kencang. "Toooloooong!..." samar ia mendengar suara parau perempuan dekat sekali dengannya.

Pelan-pelan Ari membuka selimutnya, ia tidak melihat siapapun, tetapi ada bau amis darah yang sangat tajam.

"Tidaaaaaakkk!!"
Ari melompat dari tempat tidur saat ia melihat darah mengotori bantalnya. Ari berlari menuju kamar orang tuanya. Ketika ia sampai di ruang tamu, jantung Ari nyaris berhenti berdetak karena kaget. Ada sosok perempuan duduk membelakanginya dengan baju penuh darah.

"Ari!"
Sebuah tangan menyentuh bahu dan memanggil namanya. Ari melompat kaget. "Ayah! Bikin kaget Ari saja."

"Kamu ada apa ketakutan gitu?" tanya Pak Firman ayah Ari.

"Itu, Yah ... ada perempuan duduk di ruang tamu," jawab Ari sambil menunjuk ke arah depan.

"Mana? Nggak ada siapa-siapa tuh ...."

Ari menatap nanar ke segala arah, tapi sosok perempuan yang tadi dilihatnya sudah tidak ada.

"Sudahlah, Nak. Mungkin yang kamu lihat tadi hanya ilusimu saja, sekarang balik ke kamar sana, subuh masih kurang beberapa jam lagi."

"Baiklah, Yah." Ari bergegas ke kamarnya kembali, tatapan sang ayah yang dingin membuat Ari tidak berani membantahnya.

Ketika Ari melewati kamar orang tuanya, dilihatnya pintu kamar itu setengah terbuka, Ari begitu saja melongokkan kepalanya melihat ke dalam kamar. Dalam keremangan ia melihat ibunya tengah tertidur pulas, dan ... di samping ibunya terlihat juga ayahnya sedang pulas memeluk guling.

Nyaris Ari menjerit, sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya,  Ari menengok ke belakang, tempat tadi ayahnya berdiri sebelum ia tinggal. Tidak ada siapa-siapa, hanya kesunyian di sana, tidak mungkin juga ayahnya mendahului Ari, sebab tadi jelas masih ada di dekat ruang tamu, lalu siapakah yang saat ini tidur bersama ibunya?


Bersambung....






   

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...