MERJUR
(Part 1)
Ari, Raka, Dani, dan Dio mengelilingi meja belajar yang berbentuk bulat. Keempat anak itu baru belajar bersama mengerjakan PR matematika.
"Teman-teman! Aku menemukan ini." Ucap Dani mengagetkan teman-temannya. Lalu ia mengeluarkan buku tulis yang sudah sangat usang, banyak tulisan berbahasa jawa di dalamnya, sangat mirip dengan buku kuno jaman kerajaan dulu.
"Buku apa itu, Dan?" tanya Raka.
"Buku tentang petualangan alam ghaib, aku menemukannya secara tidak sengaja ketika membeli buku di toko loak!" jawab Dani setengah berbisik.
"Ah, ada-ada saja kamu!" sanggah Raka.
"Beneran, aku ingin kita berempat mencoba untuk membuktikan apakah benar tulisan yang ada di buku ini."
"Gila kamu, Dan! Protes Ari.
"Hallah ... ngga apa-apa, ini cuma permainan uji nyali, untuk membuktikan apakah mitos atau fakta. Bagaimana kamu Ka, Dio, Ari, setuju?" pertanyaan Dani menantang teman-temannya.
Dio dan Raka lalu mengangguk setuju, tetapi Ari masih diam, ia sibuk membaca buku biologi. Ketiga temannya itu memang dikenal anak-anak pemberani dan nekat, hanya Ari yang paling kalem pembawaannya di antara teman-temannya.
Dani menepuk bahu Ari. "Hai! Bagaimana, mau ikutan ngga? Jangan bilang kamu takut, hahahahaha...."
Ari sedikit tersentak kaget, lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Eemmm ... bagaimana ya?"
"Udaah, ikutan aja. Itung-itung supaya kamu punya pengalaman seru di dunia nyata, tidak saja seperti di buku-buku yang selalu kau baca itu." Tantang Dani.
"Baiklah. Kali ini aku ingin mencoba, tapi apa sih yang akan kita lakukan?" tanya Ari.
"Sini, mendekat semua kawan. Kalian pernah dengar Merjur ngga?"
Ari, Dio, dan Raka menggelengkan kepala hampir bersamaan.
"Menurut di buku ini, merjur adalah meneteskan jeruk nipis pada darah orang yang meninggal. Katanya orang yang meninggal itu akan terus kesakitan dan mengikuti orang yang menetesi. Nah ... inilah yang ingin kita buktikan. Sebab orang yang sudah meninggal ruhnya kan menghadap Alloh, lalu apa mungkin terus merasakan kesakitan dan mengikuti manusia?
Raka, Dio, dan Ari manggut-manggut, antara penasaran dan takut jika itu benar. "Baiklah, kita akan uji nyali untuk membuktikan ini." Raka menjawab dengan tegas diikuti dengan tos keempat anak-anak tersebut.
-----
Minggu pagi ini rumah juragan Karso ramai oleh orang-orang dengan wajah penasaran. Garis polisi sudah di pasang di depan pintu rumah. Dani dan kawan-kawannya berhenti sejenak ikut mencari tahu apa yang terjadi.
Dua orang polisi berpakaian sipil mengangkat kantong jenazah dan segera memasukkan ke dalam mobil ambulan. Beberapa polisi yang lain masih sibuk melakukan olah TKP.
Menurut kabar dari beberapa saksi, Bu Karso terbunuh dengan kondisi mengerikan, perutnya robek memanjang hingga ususnya terburai, tangan kanannya nyaris putus. Diduga Bu Karso korban perampokan, sebab banyak harta benda orang terkaya di desa itu yang hilang, sementara pembantunya ditemukan dalam keadaan pingsan di sekap di gudang belakang.
Dani mengedipkan mata ke arah teman-temannya, memberi isyarat bahwa inilah saat pembuktian itu.
----
Sepulang dari mengaji di mushola Kyai Sayuti, Ari, Dio, Dika, dan Raka bergegas ke rumah Bu Karso. Beberapa buah jeruk nipis telah disiapkan oleh Dani. Mereka mengendap-endap sesampainya di depan gerbang rumah Bu Karso.
"Bagaimana ini, apakah kita tetap nekat? Bagaimana kalau nanti sidik jari kita ditemukan polisi pada penyelidikan berikutnya?" tanya Ari ragu.
Dani, Dio, dan Raka saling pandang."
Benar juga kata Ari, tapi kita nanggung, sudah di sini. Begini saja, kita tidak usah masuk terlalu jauh di halaman rumah, kita amati saja dari sini. Barangkali nanti kita menemukan jejak darah di halaman ini bisa kita manfaatkan, jika tidak, ya sudah kita pulang. Kapan-kapan lagi kalau ada kesempatan." Ujar Dani bijak.
"Hei, coba lihat lantai di dekat garis polisi ini! sepertinya ada bekas darah, tadi sebelum jenazah Bu Karso dimasukkan ambulan, sempat diletakkan di situ bukan? Bisa jadi itu darahnya Bu Karso yang menempel pada kantong jenazah lalu mengotori lantai." Dio menjelaskan dengan semangat.
"Baiklah kawan-kawan. Ayo cepat kita mulai, sebelum ada orang lain yang melihat kita. Ari! Cepat ambil jeruk nipis ini dan peras di atas noda darah itu." Dani memberi intruksi dengan tegas.
"Kenapa mesti saya?" Ari merasa keberatan.
"Ah, sudahlah, cepat sana, kami memilihmu karena diantara kita hanya kamu yang paling penakut, jadi anggap saja ini latihan kamu supaya lebih berani." Jawab Dani sambil menyodorkan jeruk nipis yang sudah dibelahnya menjadi dua kepada Ari.
Melihat tatapan mata teman-temannya, dengan ragu-ragu Ari melangkah ke noda darah itu, lalu ia memeras jeruk nipis hingga keluar beberapa tetes. Pekerjaan mereka telah selesai, dengan segera keempat anak itu meninggalkan rumah Bu Karso.
Bersambung ....
(Part 1)
Ari, Raka, Dani, dan Dio mengelilingi meja belajar yang berbentuk bulat. Keempat anak itu baru belajar bersama mengerjakan PR matematika.
"Teman-teman! Aku menemukan ini." Ucap Dani mengagetkan teman-temannya. Lalu ia mengeluarkan buku tulis yang sudah sangat usang, banyak tulisan berbahasa jawa di dalamnya, sangat mirip dengan buku kuno jaman kerajaan dulu.
"Buku apa itu, Dan?" tanya Raka.
"Buku tentang petualangan alam ghaib, aku menemukannya secara tidak sengaja ketika membeli buku di toko loak!" jawab Dani setengah berbisik.
"Ah, ada-ada saja kamu!" sanggah Raka.
"Beneran, aku ingin kita berempat mencoba untuk membuktikan apakah benar tulisan yang ada di buku ini."
"Gila kamu, Dan! Protes Ari.
"Hallah ... ngga apa-apa, ini cuma permainan uji nyali, untuk membuktikan apakah mitos atau fakta. Bagaimana kamu Ka, Dio, Ari, setuju?" pertanyaan Dani menantang teman-temannya.
Dio dan Raka lalu mengangguk setuju, tetapi Ari masih diam, ia sibuk membaca buku biologi. Ketiga temannya itu memang dikenal anak-anak pemberani dan nekat, hanya Ari yang paling kalem pembawaannya di antara teman-temannya.
Dani menepuk bahu Ari. "Hai! Bagaimana, mau ikutan ngga? Jangan bilang kamu takut, hahahahaha...."
Ari sedikit tersentak kaget, lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Eemmm ... bagaimana ya?"
"Udaah, ikutan aja. Itung-itung supaya kamu punya pengalaman seru di dunia nyata, tidak saja seperti di buku-buku yang selalu kau baca itu." Tantang Dani.
"Baiklah. Kali ini aku ingin mencoba, tapi apa sih yang akan kita lakukan?" tanya Ari.
"Sini, mendekat semua kawan. Kalian pernah dengar Merjur ngga?"
Ari, Dio, dan Raka menggelengkan kepala hampir bersamaan.
"Menurut di buku ini, merjur adalah meneteskan jeruk nipis pada darah orang yang meninggal. Katanya orang yang meninggal itu akan terus kesakitan dan mengikuti orang yang menetesi. Nah ... inilah yang ingin kita buktikan. Sebab orang yang sudah meninggal ruhnya kan menghadap Alloh, lalu apa mungkin terus merasakan kesakitan dan mengikuti manusia?
Raka, Dio, dan Ari manggut-manggut, antara penasaran dan takut jika itu benar. "Baiklah, kita akan uji nyali untuk membuktikan ini." Raka menjawab dengan tegas diikuti dengan tos keempat anak-anak tersebut.
-----
Minggu pagi ini rumah juragan Karso ramai oleh orang-orang dengan wajah penasaran. Garis polisi sudah di pasang di depan pintu rumah. Dani dan kawan-kawannya berhenti sejenak ikut mencari tahu apa yang terjadi.
Dua orang polisi berpakaian sipil mengangkat kantong jenazah dan segera memasukkan ke dalam mobil ambulan. Beberapa polisi yang lain masih sibuk melakukan olah TKP.
Menurut kabar dari beberapa saksi, Bu Karso terbunuh dengan kondisi mengerikan, perutnya robek memanjang hingga ususnya terburai, tangan kanannya nyaris putus. Diduga Bu Karso korban perampokan, sebab banyak harta benda orang terkaya di desa itu yang hilang, sementara pembantunya ditemukan dalam keadaan pingsan di sekap di gudang belakang.
Dani mengedipkan mata ke arah teman-temannya, memberi isyarat bahwa inilah saat pembuktian itu.
----
Sepulang dari mengaji di mushola Kyai Sayuti, Ari, Dio, Dika, dan Raka bergegas ke rumah Bu Karso. Beberapa buah jeruk nipis telah disiapkan oleh Dani. Mereka mengendap-endap sesampainya di depan gerbang rumah Bu Karso.
"Bagaimana ini, apakah kita tetap nekat? Bagaimana kalau nanti sidik jari kita ditemukan polisi pada penyelidikan berikutnya?" tanya Ari ragu.
Dani, Dio, dan Raka saling pandang."
Benar juga kata Ari, tapi kita nanggung, sudah di sini. Begini saja, kita tidak usah masuk terlalu jauh di halaman rumah, kita amati saja dari sini. Barangkali nanti kita menemukan jejak darah di halaman ini bisa kita manfaatkan, jika tidak, ya sudah kita pulang. Kapan-kapan lagi kalau ada kesempatan." Ujar Dani bijak.
"Hei, coba lihat lantai di dekat garis polisi ini! sepertinya ada bekas darah, tadi sebelum jenazah Bu Karso dimasukkan ambulan, sempat diletakkan di situ bukan? Bisa jadi itu darahnya Bu Karso yang menempel pada kantong jenazah lalu mengotori lantai." Dio menjelaskan dengan semangat.
"Baiklah kawan-kawan. Ayo cepat kita mulai, sebelum ada orang lain yang melihat kita. Ari! Cepat ambil jeruk nipis ini dan peras di atas noda darah itu." Dani memberi intruksi dengan tegas.
"Kenapa mesti saya?" Ari merasa keberatan.
"Ah, sudahlah, cepat sana, kami memilihmu karena diantara kita hanya kamu yang paling penakut, jadi anggap saja ini latihan kamu supaya lebih berani." Jawab Dani sambil menyodorkan jeruk nipis yang sudah dibelahnya menjadi dua kepada Ari.
Melihat tatapan mata teman-temannya, dengan ragu-ragu Ari melangkah ke noda darah itu, lalu ia memeras jeruk nipis hingga keluar beberapa tetes. Pekerjaan mereka telah selesai, dengan segera keempat anak itu meninggalkan rumah Bu Karso.
Bersambung ....

Setia menunggu lanjutannya mbak
BalasHapusMakasih cin...
HapusYou are hortor expert, we salute you..
BalasHapusTengkyu...horor, thriller and detektif is my favourite genre
HapusKeren
BalasHapusTrims
HapusHorrorr
BalasHapusUntung aku baca siang hari 🙊
BalasHapusEmang knp kalo malam?
HapusJd ingat dlu ada larangan,ngasih air jeruk ke bekas darah kecelakaan😶
BalasHapusHu um
HapusLanjutannya ditunggu 😊😊
BalasHapusPart 2 sdh sy up
BalasHapus