MENGENAL PENYAKIT TIDUR
Pernahkah anda tahu bahwa ada penyakit yang namanya penyakit tidur?
Penyakit tersebut dapat menyerang manusia, penyebabnya adalah Trypanosoma brucei gambiense dan Trypanosoma brucei rhodesiense.
Keduanya merupakan spesies dari kelas flagellata dan masuk pada phylum protozoa atau protista mirip hewan. Mikroorganisme yang memiliki nama spesies Trypanosoma tersebut hidup pada kelenjar ludah lalat Tsetse (termasuk pada genus Glossina). Sehingga penularan yang sering terjadi adalah melalui gigitan lalat Tsetse sebagai vektornya.
Terdapat perbedaan ciri dan gejala pada kedua jenis Trypanosoma.
Pertama;
Trypanosoma brucei gambienze. Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi kronik, seseorang dapat terinfeksi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apapun. Biasanya penyakit ini dapat diketahui ketika sudah stadium lanjut dan sudah merusak sistem saraf.
Kedua;
Trypanosoma brucei rhodesiense. Mikroorganisme ini dapat menyebabkan infeksi akut, gejalanya dapat muncul setelah beberapa minggu terinfeksi.
Gejala yang muncul setelah terinfeksi ada beberapa tahap, yaitu:
Tahap awal (1-3 minggu setelah digigit lalat Tsetse). Pada tahap ini penderita akan mengalami demam, sakit kepala, gatal-gatal, dan nyeri sendi.
Tahap kedua (beberapa bulan kemudian setelah digigit lalat Tsetse). Penderita akan kebingungan, koordinasi tubuh mulai lemah, mati rasa, linglung, dan susah tidur, pada beberapa penderita terjadi sebaliknya yaitu rasa terus mengantuk tanpa bisa ditahan.
Bagian tubuh manusia yang diserang Trypanosoma ini adalah darah dan limfe (disebut tahap hemolimfatik). Pada saat itu penderita akan merasakan demam, nyeri pada sendi, sakit kepala, dan gusar.
Pada tahap selanjutnya Trypanosoma akan menginfeksi sistem saraf pusat (disebut neurologis). Gejala yang muncul pada tahap ini adalah penderita mulai linglung, terjadi perubahan tingkah laku, gangguan sensoris, dan kelemahan pada koordinasi gerak.
Gejala lain yang juga sering muncul adalah insomnia, pada beberapa penderita terjadi sebaliknya yaitu selalu ingin tidur yang tidak dapat ditahan.
Penyakit tidur ini banyak ditemukan di negara Afrika bagian Sahara (persebaran Trypanosoma brucei gambiense) dan Afrika bagian selatan (Trypanosoma brucei rhodesiense).
Populasi yang beresiko terjangkit di wilayah benua Afrika kurang lebih 70 juta orang di 36 negara, pada tahun 2010 dilaporkan penderita yang tidak tertolong mencapai 9000 orang.
Kemudian pada tahun 2012 diketahui sejumlah kurang lebih 30 ribu orang juga terinfeksi, jumlah tersebut lebih dari 80% terjadi di Republik Demokratik Kongo.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Apabila akan melakukan perjalanan ke Afrika, hendaknya bertanya pada penduduk lokal, daerah mana yang banyak terjangkit Trypnosoma.
2. Selalu menggunakan baju tebal dan berlengan panjang, sebab gigitan lalat Tsetse dapat menembus kain yang tipis.
3. Tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok dan cerah, sebab lalat Tsetse menyukai warna mencolok dan cerah.
4. Hindari semak-semak, sebab lalat Tsetse tidak suka panas, sehingga menyukai semak belukar untuk berlindung.
5. Menggunakan lotion anti gigitan serangga.
6. Pastikan kendaraan yang akan dinaiki tidak ada lalat Tsetse, karena lalat tersebut juga menyukai kendaraan dan debu yang bergerak.
Untuk memastikan ada tidaknya infeksi Trypanosoma adalah dengan melakukan tes darah atau cairan tubuh yang lain.
Penularan penyakit tidur selain oleh gigitan lalat Tsetse adalah dapat terjadi pada ibu hamil terhadap janin, sebab Trypanosoma dapat menembus plasenta. Selain itu penularannya dapat terjadi karena terkontaminasi darah yang terinfeksi, dan dapat juga melalui hubungan seksual.
Penderita yang sudah diobati dan dinyatakan sembuh, masih harus dipantau selama 24 bulan, hal tersebut untuk memastikan apakah Trypanosoma yang ada di dalam tubuh sudah benar-benar mati atau belum.
Oleh karena itu hendaklah selalu membiasakan hidup bersih mulai dari diri sendiri, agar segala penyakit enggan untuk menghampiri.
Komentar
Posting Komentar