LEGENDA BATU MENANGIS
( Part-2)
Ya, Tuhanku. Aku selalu memohon kepadaMu, agar anakku berubah menjadi anak yang baik. Tetapi ternyata anakku semakin sombong, bahkan ia malu mengakuiku sebagai Mamaknya, ia menganggapku sebagai pembantu.
Hatiku sakit, aku sudah tidak dapat bersabar lagi, sekarang aku berserah kepadaMu, berikan kutukanMu kepada Darmi Anakku." Ibu Darmi berdoa dengan air mata bercucuran, suaranya bergetar mengetuk semesta.
Tiba-tiba, petir menyambar-nyambar, cuaca menjadi gelap, angin bertiup sangat kencang.
"Mamaaaakkk!! Sakiiiit!"
Suara Darmi berteriak histeris. Ia terlihat sangat kesakitan. Kakinya tidak dapat digerakkan. Perlahan-lahan bagian tubuh yang lain juga tidak dapat digerakkan dan berubah menjadi batu.
"Ampun, Maak! Maafkan aku...."
Darmi terus menangis dan memohon ampun pada ibunya. Tetapi Ibu Darmi hanya diam saja. Darmi terus menangis menghiba, hingga tubuhnya semua berubah menjadi batu. Tetapi batu itu tetap mengeluarkan air mata pada bagian muka Darmi. Air mata penyesalannya. Batu itu kemudian dikenal sebagai batu menangis.
----
Beberapa bulan telah lewat sejak peristiwa itu, Ibu Darmi juga telah pindah rumah entah kemana, tak seorang pun yang mengetahuinya.
Suatu petang, seorang saudagar melewati batu itu, ia sedang istirahat dengan menyandarkan tubuhnya pada batu menangis yang ada di tepi jalan.
Ketika saudagar itu sedang menikmati istirahatnya, tiba-tiba ia mendengar ada suara tangis memohon ampunan.
Saudagar itu mengucek-ngucek mata dan menajamkan pendengarannya.
"Kau kah itu yang menangis, wahai sebongkah batu?" tanyanya kebingungan.
"Ia, akulah yang menangis."
Saudagar itu tercengang, ia nyaris tidak percaya, tetapi apa yang dilihatnya sangat nyata.
"Wahai saudagar, aku adalah anak durhaka yang telah berani dan menghinakan Mamakku, aku malu mengakuinya sebagai Mamak, tapi aku menyebutnya sebagai pembantu." kembali batu itu menangis lagi.
Saudagar yang bernama Labih itu manggut-manggut. Lalu ia megambil sorban yang dililitkan ke lehernya.
"Siapa namamu?" tanya saudagar Labih.
"Namaku Darmi."
"Darmi, mungkin aku bisa membantumu dengan sorban ini, tetapi ada syaratnya, jika kamu sanggup, maka insyaalloh kamu akan berubah menjadi manusia lagi."
"Baiklah, apa pun syaratnya aku terima. Asalkan aku kembali menjadi manusia, katakan ... apa syarat yang harus kupenuhi?"
"Perkenalkan dulu, namaku Labih. Aku dari desa seberang. Syarat yang harus kamu terima adalah pertama, kamu harus benar-benar tulus menyesali perbuatanmu. Syarat yang kedua adalah, sekalipun kamu tidak boleh menanyakan dan membantah apa pun yang akan kulakukan padamu. Apakah kamu sanggup?"
Darmi menyatakan kesanggupannya. Lalu saudagar Labih mengusapkan sorbannya pada batu menangis itu.
Seberkas cahaya terang menyelimuti batu menangis beberapa detik, sesaat kemudian cahaya itu hilang, dan batu tersebut kembali berubah menjadi Darmi.
"Alhamdulillah," saudagar Labih mengusapkan kedua tangan pada mukanya.
"Terimakasih, saudagar, telah mengembalikan aku sebagai manusia." Darmi membungkukkan badannya hendak mencium kaki Labih. Tangan Labih meraih bahu Darmi dan menyuruhnya berdiri.
----
Pernikahan antara Labih dan Darmi telah dilangsungkan dengan sederhana. Labih juga telah menyiapkan satu rumah mungil yang hanya akan ditempati oleh Darmi, sementara semua pekerja Labih, ditempatkan di rumah utama.
"Darmi! Mulai saat ini, tugas kamu adalah membersihkan semua rumah utama dan rumah tempat tinggalmu, kamu harus menyiapkan makanan untukku juga seluruh pegawai, setelah itu, kamu juga harus menyuci semua baju dan peralatan dapur setiap hari entah sampai kapan, selama itu pula, aku belum bisa menyentuhmu sebagai isteriku," dengan tegas Labih memberi perintah pada Darmi.
"Iya, saya akan berusaha sebaik mungkin." Darmi menjawab dengan suara lirih, hatinya berontak, mengapa ia diperlakukan seperti pembantu oleh Labih, yang sekarang menjadi suaminya. Ia juga ingin menyangkal karena tidak diperlakukan sebagaimana pengantin di malam pertamanya.
Akan tetapi, Darmi tidak berani menanyakan itu, karena ia telah menyepakati sebuah syarat. Darmi tidak mau menjadi batu lagi. Ia akan ikhlas menjalani semua syarat yang diberikan Labih sebagai penebus dosa pada ibunya. Meski ia tidak tahu, sampai kapan ia akan menjalani seperti ini.
----
Tiga purnama telah berlalu, Darmi menjalani semua syarat dengan baik.
"Juragan putri, diminta menemui tuan Labih di rumah utama sekarang juga." Seorang pegawai menyampaikan pesan Labih pada Darmi.
Tanpa bertanya, Darmi bergegas menemui Labih.
"Ada apa memanggil saya?" tanya Darmi sambil menunduk.
Labih tidak menjawab. Ia memegang dagu Darmi dan menengadahkan wajahnya.
"Kamu tidak usah takut seperti ini, aku memanggilmu karena ada yang ingin menemuimu, sana temui dia di ruang tamu."
Sampai di ruang tamu, Darmi melihat sosok perempuan tua yang menundukkan mukanya.
"Mamak!! Benarkah kau Mamakku?!"
Mendengar panggilan itu, perempuan tersebut mengangkat muka, sejurus kemudian menghambur memeluk Darmi.
Ibu dan anak itu saling berpelukan disertai tangis bahagia.
"Darmi! Hukumanmu telah selesai, selama 3 purnama ini, kamu telah menunjukkan ketulusan untuk berubah menjadi orang yang baik." Kata Labih sambil memegang bahu Darmi.
"Benarkah??"
Labih menganggukkan kepalanya.
Darmi menangis bersimpuh di kaki ibunya, ia memohon maaf.
Kemudian ia juga bersimpuh di kaki Labih. "Terimakasih, atas segala yang kamu lakukan padaku."
"Jangan berterimakasih kepadaku, tapi berterimakasihlah pada Mamakmu, yang telah siang malam mendoakanmu."
Labih, Darmi, dan Ibunya saling berpelukan. Tangis kebahagian ikut pecah mewakili hati mereka masing-masing.
END
Legenda ini berasal dari Kalimantan Barat, karena itu nama-nama tokoh dan panggilan, penulis ambil dari nama dan panggilan di suku Dayak, salah satu suku yang ada di Kalimantan Barat.
Bagian akhir cerita telah dirubah karena untuk memenuhi tantangan keempat ODOP Batch 7
Salam kenal dari group london. Mantap. Semangat
BalasHapusSalkenju, tq sdh berkenan manpir, btw siapa sih namanya, kq halaman sekolah?😀
BalasHapusBaper
BalasHapusOuh. Sini peluk ..
HapusSedih ,..endingnya bagus saya suka
BalasHapusTengkyuuu
HapusBu Anis ada saja idenya 👍
BalasHapusAlhamdulillah
HapusAhh ada ternyata batu menangis
BalasHapusMnrt ceritanya ada memang, bahkan sampai sekarang
HapusMantap kak #semangat
BalasHapusTengkyu om, masama, hehe
HapusWahhhh cerita yg kita angkat sama ka tp improvnya banyak kaka kayakny hii nanti dibaca ulang salam kenal dr konstantinopel
BalasHapusIyakah...minta linknya dunk...ikut baca sy.
HapusSalkenju...
Keren, kak, salam dari London 🤗
BalasHapusSalam kenal balik, tengkyuu sdh berkenan mampir
HapusMantap kakak, endingnya bagus. Salam kenal amanda dari grup london 😊
BalasHapusSalam kenal juga, tengkyu sdh berkenan mampir
HapusKeren👍👍👍 Endingnya jos, salam dari Konstantinopel😊
BalasHapusMakasih, salkenjuu
HapusKeren...
BalasHapusAkhirnya semua bahagia
Semoga yg berkenan membaca jg bahagia
HapusKeren.. semangat menulis
BalasHapusTengkyuuu..semangat bareng² yuuks..
HapusTengkyuu
BalasHapus3 purnama menjadi orang baik itu bukan hal yg mudah loh
BalasHapusBagi saya sih ini udah sangat keren. Mantap mba anis
BalasHapusGoodjob
BalasHapusCikgu😭😭😥
BalasHapus