LEGENDA BATU MENANGIS
(Part-1)
Darmi mematut dirinya di depan cermin. Rambut hitam legam panjang terurai, berkulit kuning langsat, matanya tajam dan mempunyai bentuk muka yang khas seperti orang tionghoa, dengan tinggi badan semampai, sempurna sekali kecantikannya sebagai seorang gadis dayak.
Dahulu, kehidupan keluarga Darmi serba berkecukupan, akan tetapi sejak ayahnya meninggal ketika Darmi masih kecil, kemiskinan mulai mendera keluarga kecil itu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Ibu Darmi harus bekerja keras di ladang dengan sangat keras seorang diri. Panas matahari akrab menemani sang ibu, hingga kulitnya menjadi hitam legam, muka tidak terawat, dan badan menjadi kurus kering.
Darmi yang berparas cantik, tak sekalipun mau membantu ibunya, ia menjadi gadis yang sombong. Sehari-hari pekerjaannya hanya bersolek, jarang sekali keluar rumah.
"Darmi, Mamak harus segera ke ladang, pulangnya sampai sore, sebab waktunya memanen sayuran yang Mamak tanam, tolong Darmi masak sendiri ya, dan tolong mamak dikirim makanannya."
"Apa?! Masak?!
Mamak lihat kan, rambut Darmi baru saja dikeramasi, nanti bau asap dapur. Lagi pula mana mungkin Darmi harus ke ladang, nanti kulit Darmi jadi hitam. Nggak. Pokoknya Darmi tidak mau."
Darmi cemberut dan masuk ke kamarnya. Ibu Darmi dengan hati yang sedih, melangkahkan kakinya menuju ladang.
Segera Ibu Darmi memanen tanaman sayurannya. Terik matahari tidak dihiraukan, tangannya dengan cekatan memetik sayuran, sesekali tangan yang kurus kering itu mengusap peluh yang bercucuran dari keningnya. Ketika tubuh rentanya merasa lelah, Ibu Darmi istirahat sebentar dan hanya meminum air putih yang dibawanya.
Menjelang maghrib, Ibu Darmi baru dapat menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas pulang.
Baru saja Ibu Darmi memasuki rumah, Darmi sudah menyambutnya dengan amarah.
"Mamak! Kenapa Mamak pulang sore? Darmi lapar ... Mamak jahat, tidak sayang pada Darmi!"
Ibu Darmi hanya mengelus dada, badannya yang kecapekan, masih harus menerima omelan dari anaknya. Tetapi, Ibu Darmi tetap sabar menghadapinya, ia rela melakukan apa saja demi anak semata wayangnya.
"Kek Darmi, besok ikut Mamak ke pasar, ya. Bantu Mamak menjual hasil panen tadi." Kata Ibu Darmi sambil menyiapkan makan malam anaknya.
"Aduh, Mamak! Ngga mungkin lah Darmi ikut jualan. Nanti kulit Darmi kusam terkena sinar matahari. Pasarnya juga becek dan banyak orang-orang yang badannya bau."
Ibu Darmi sekali lagi hanya dapat mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Tengah malam ia selalu berdoa agar Darmi dapat berubah menjadi anak yang baik.
Pagi-pagi sekali Ibu Darmi berangkat ke pasar sendirian. Rumah mereka yang terpencil dan jauh dari kota, menjadikan keluarga itu jarang diketahui keadaan sebenarnya oleh orang-orang yang mengenalnya.
Sepulang dari berjualan, Ibu Darmi menyelonjorkan kakinya sambil menghitung uang hasil jualannya. Darmi mengintip dari sudut pintu kamar yang terbuka.
"Mak! Bedak dan shampo Darmi habis, tolong besok Mamak belikan, ya," Darmi merajuk kepada Mamaknya.
"Iya, boleh. Tapi Darmi besok harus ikut pergi ke pasar, Mamak khawatir nanti salah membeli bedak dan shamponya." Kata Ibu Darmi dengan sabar.
"Iya deh, Mak. Tapi besok Mamak harus janji, jalannya tidak boleh dekat denganku, Mamak harus di belakangku." Ibu Darmi hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Esok paginya, ibu dan anak itu bergegas ke pasar. Darmi membawa payung besar menaungi badannya, sementara ibunya berjalan di belakangnya sambil membawakan tas Darmi.
Sepanjang perjalanan, setiap orang yang berpapasan dengan mereka, melihat Darmi yang cantik dengan takjub. Darmi semakin jumawa dan melenggangkan kakinya dengan angkuh.
"Hai, Darmi! Tumben kamu keluar rumah, mau kemana?" tanya Sarita, salah satu kenalan Darmi.
"Mau ke pasar, perlengakapan riasku sudah menipis," jawab Darmi.
"Eehmm, yang di belakangmu itu siapa?" tanya Sarita sambil mengarahkan pandangannya pada Ibu Darmi.
"Ooh ... itu pembantuku." Sarita manggut-manggut lalu mereka berpisah. Mendengar pengakuan Darmi, Ibu Darmi hatinya sedih, tetapi ia sebisa mungkin menahan air matanya menetes.
Belum jauh mereka berdua melangkah, seorang pemuda tampan menyapa Darmi.
"Hai, Darmi. Mau kemana? Itu mamakmu, ya? Tanya Djata, pemuda tampan itu.
"Mau ke pasar, tapi itu bukan mamakku, masa sih mamakku hitam dan jelek gitu," jawab Darmi dengan melempar senyum sinis kepada Ibu Darmi.
Djata manggut-manggut, kemudian ia pergi. Ibu Darmi semakin tidak kuat menahan kesedihannya. Tetapi air mata itu tetap ditahannya agar tidak sampai jatuh.
Ketika hampir sampai di pasar, seorang pemuda gagah yang juga salah satu kenalan Darmi menyapa.
"Tumben kamu ke pasar, itu siapa yang di belakangmu?" tanya Ampong penasaran.
"Iya nih, bedakku habis. Itu pembantuku." Jawab Darmi acuh.
Hati Ibu Darmi semakin sakit, ia sudah tidak dapat menahan marah dan sedih. Lalu Ibu Darmi menepi dan bersimpuh di bawah pohon. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.
"Ya, Tuhanku. Aku selalu memohon kepadaMu, agar anakku berubah menjadi anak yang baik. Tetapi ternyata anakku semakin sombong, bahkan ia malu mengakuiku sebagai Mamaknya, ia menganggapku sebagai pembantu. Hatiku sakit, aku sudah tidak dapat bersabar lagi, sekarang aku berserah kepadaMu, berikan kutukanMu kepada Darmi Anakku." Ibu Darmi berdoa dengan air mata bercucuran, suaranya bergetar mengetuk semesta.
Bersambung....
Darmi sudah sangat ter-la-lu
BalasHapusMantapp Kak Anis 👍
11 12 dg si Malin kan?
Hapus