KOPI ISTIMEWA YU JUM
Warung Yu Jum selalu ramai, dari pagi, siang, sampai malam. Pelanggan warung itu semua laki-laki, jika pun ada pembeli perempuan, paling-paling juga suruhan suaminya untuk membelikan pisang goreng atau jenis gorengan yang lain.
Warung yang terletak di pinggiran Kali Brantas itu hanya terbuat dari gedhek bambu dan beratap genting usang. Bangunan semi permanen yang hanya berukuran 3x4 meter itu sebenarnya hanya mampu menampung sekitar tidak lebih dari 15 orang. Tetapi di halaman belakang warung serta di bagian sisi kanan dan kirinya diberi alas tikar plastik. Di situlah para pembeli lain mengantri sambil menikmati pemandangan Kali Brantas yang konon banyak menyimpan cerita mistis.
Yu Jum sendiri adalah seorang janda dengan 4 anak, usianya 35 tahun. Wajahnya biasa saja, sedikit hitam manis dan bentuk tumbuh yang gembrot. Suami Yu Jum sudah sejak lama meninggalkannya karena kepincut dengan Markonah, seorang penyanyi dangdut koplo di acara-acara hiburan kampung atau yang lain.
Sejak itulah, Yu Jum membuka warung kopi dan gorengan dengan modal kalung pemberian si Mboknya dulu.
Setiap kali aku melewati warung Yu Jum, warung itu tidak pernah sepi. Para lelaki begitu betah duduk-duduk di sana sambil menyeruput kopi sedikit demi sedikit, tentunya diselingi dengan menyesap rokok dan memakan aneka gorengan yang tersaji.
Rasa penasaran membuat aku hari ini membelokkan motor CB yang kunaiki ke warung Yu Jum. Di sana sudah ada berpuluh laki-laki lesehan di luar warung, sementara di dalam warung hanya ada 5 orang. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi.
Aku memarkir motor CB butut kesayanganku di bawah pohon waru, tidak jauh dari warung, lalu ikut duduk di samping warung sambil menatap sungai Brantas.
"Permisi, Mas. Monggo pinarak dateng lebet mawon," (mari masuk ke dalam saja). ajak seorang pemuda tanggung pembantu Yu Jum.
"Di sini saja, Mas. Lebih nyaman, jawabku."
"Di dalam saja, karena untuk pembeli yang baru pertama kali ke sini akan diberi menu kopi spesial sama Yu Jum, rugi lo Mas kalau tidak diicipi," rayu pemuda itu.
Aku semakin penasaran, akhirnya aku masuk dan memilih duduk di dekat pintu tengah warung yang langsung menghubungkan pada dapur sempit. Yu Jum tersenyum ramah saat melihatku.
"Baru pertama ke sini ya, Mas?" tanya Yu Jum.
"Iya, penasaran dengan kopi njenengan, pasti enak. Sebab saya setiap akan ke Kediri selalu lewat sini dan warung Yu Jum tidak pernah sepi." Jawabku jujur.
Yu Jum hanya tersenyum.
"Begitulah, lumayan. Dari warung reot ini saya bisa menyekolahkan 4 anak saya, bisa punya rumah yang cukup besar, dan sudah punya 2 mobil, Brio dan CRV," kata Yu Jum. Ada binar bangga di matanya.
"Waaah! Hebat, Yu. Barokah itu namanya.
Setelah mengajakku ngobrol sebentar, Yu Jum pamit untuk membuatkan kopi pesananku di dapur.
Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi kayu. Saat aku merilekskan tubuh, ada sesuatu yang aneh di warung Yu Jum.
Aku memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Beberapa ayat dari surat An-Naml kubaca, setelah itu ragaku seperti tertidur, jiwaku berjalan menuju dapur tempat Yu Jum membuat kopi.
Di sudut dapur ada meja kecil yang di atasnya terdapat kotak kayu terkunci dengan rapat. Setelah Yu Jum menyiapkan cangkir yang berisi bubuk kopi dan gula, ia membuka kotak kayu tersebut.
Ternyata dalam kotak kayu tersebut terdapat toples berukuran sedang yang berisi beberapa pembalut masih penuh dengan darah. Satu toples lagi berukuran agak kecil, di dalamnya terdapat seperti bubuk hitam, tetapi setelah aku lihat, ternyata itu bukan bubuk, melainkan rambut kemaluan yang digunting dengan sangat kecil.
Yu Jum mengambil satu pembalut yang penuh darah, memerasnya hingga darah keluar beberapa tetes di dalam cangkir kopi, lalu menambahkan sejumput 'bubuk' rambut kemaluan tadi. Setelah semua ramuan masuk ke dalam cangkir, baru diseduh dengan air panas dan jadilah secangkir kopi 'istimewa'.
Rupanya ini yang dimaksud kopi istimewa khusus untuk pembeli yang baru pertama kali ke warung Yu Jum, setelah itu ... dipastikan akan terus menjadi pelanggan setia kopi di warung Yu Jum.
Dengan perut mual, aku memasuki ragaku kembali, tepat di saat Yu Jum menghidangkan secangkir kopi istimewa di depanku. Kopi yang dicampur darah haid dan sejumput 'bubuk' rambut kemaluan.
Duh kok sampe segitunya si
BalasHapusIya sih, tp emang ada yg sampe spt itu
BalasHapusSering mendengar kisah-kisah sejenis ini.
BalasHapusIndonesia,memang sangat kaya dg cerita mistisnya
HapusHuwooo... Keren ceritanya, alurnya, diksinya, sederhana tapi membungkus cerita dengan bagus. Pesan yang hendak disampaikan pun, tersampaikan dengan baik.
BalasHapusKeren, Kak
Terimakasih
Hapus