KEPUTUSAN TERAKHIR
"Aisya, aku sungguh mencintaimu karena Alloh, aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu dan ikut mengantarkannya menjadi penghafal Al Qur'an, aku ingin hubungan kita segera dihalalkan, ibuku sudah merestui kita."
Suara Mas Ilham begitu serius di ujung telpon. Ia sebenarnya teman waktu SMA dulu, hanya saja karena berbeda jurusan, sehingga kami tidak saling kenal.
Baru sekitar satu bulan ini kami secara tidak sengaja bertemu, ketika Mas Ilham mengisi sebuah seminar dan aku sebagai audiens.
Sejak saat itu kami saling dekat, Mas Ilham sering bercerita kalau tidak bahagia dengan isterinya yang pembangkang dan sangat pemarah, sementara aku hanya tetap berusaha menjadi pendengar yang baik.
Akan tetapi, lama-lama aku juga merasa nyaman dengan perhatiannya, begitupun dengan anak-anakku. Hingga akhirnya aku mau ketika akan dijadikannya isteri yang kedua, sebab aku yakin Mas Ilham akan dapat berlaku adil, sebab di mataku Mas Ilham orang yang berilmu dan bijak.
"Aisy! Hallo ... kok diam?"
Suara Mas Ilham membuyarkan lamunanku.
"I, iya, Mas. Aku denger kok Mas bicara apa."
"Kalau begitu, kapan aku bisa menemui orang tuamu?"
"E... tentang itu, aku belum siap, Mas."
"Aisy. Mengapa? Bukannya kamu juga mencintaiku?"
"Tidak dapat dipungkiri, bahwa aku juga mencintaimu, tetapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakiti hati perempuan manapun."
Hening.
"Tidak ada yang kamu sakiti, Aisya. Mirna isteriku sudah bersedia menerimamu sebagai madunya."
"Benarkah? Mbak Mirna bisa menerimaku?"
"Begitulah, Aisy. Jadi tolong sampaikan pada ayahmu, kalau aku ingin menemui beliau untuk meminangmu."
-----
Akhirnya Ayah merestui pernikahan kami dengan satu syarat, yaitu sebelum akad nikah, Mas Ilham harus menunjukkan surat persetujuan menikah lagi dari isteri pertamanya, dan Mas Ilham menyetujuinya.
Waktu pernikahanku dengan Mas Ilham tinggal beberapa hari lagi. Tidak banyak tamu yang diundang, hanya 100 orang saja dari keluarga dan teman dekat. Acara akad nikah juga sederhana, sebab ini bukan pernikahan pertama kami. Aku akan menjadi isteri kedua Mas Ilham setelah beberapa tahun sempat menjanda.
Semakin mendekati hari pernikahan, aku semakin gelisah. Ada rasa senang berbaur dengan ketakutan yang sangat, bagaimanapun cintanya Mas Ilham kepadaku, apakah aku sanggup menjadi isteri kedua, dan apakah Mbak Mirna benar-benar bisa tulus menerimaku?
Dalam kegamangan yang menyesakkan, Mas Ilham selalu dapat meyakinkanku bahwa ini adalah sudah ketetapan dariNya, kami akan baik-baik saja menjalani rumah tangga secara poligami, selama selalu mendekat kepadaNya.
Hari pernikahanku dengan Mas Ilham tiba, kursi-kursi dan semua hidangan sudah tersaji dengan rapi di tempat masing-masing. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, riasanku masih tinggal sedikit lagi diselesaikan.
Lamat-lamat dari dalam kamar aku mendengar rombongan keluarga Mas Ilham datang. Hatiku semakin berdebar tidak karuan, ada semacam firasat yang tidak mengenakkan.
Tidak lama kemudian petugas yang akan menikahkan kami juga datang. "Ya Alloh, kenapa aku semakin berdebar-debar seperti ini?" Tanyaku pada Mbak Neti yang meriasku.
"Wajar saja Mbak Aisy, setiap calon pengantin pasti akan merasakan seperti itu, percayalah, insyaAlloh tidak akan terjadi apa-apa," jawab Mbak Neti.
"Aamiin, semoga semua baik-baik saja ya, Mbak." Jawabku sambil terus menekan tasbih digital yang melingkar di jari tengahku.
Prosesi akad nikah akan segera dimulai, aku dipanggil ibuku untuk keluar kamar dan mendekat ke meja tempat akan dilakukan akad nikah.
Sekilas aku melihat Mas Ilham, ia terlihat gelisah dan beberapa kali menghapus keringat di keningnya. Saat pandangan kami sempat bertemu beberapa detik tadi, tidak ada senyum menghias wajah Mas Ilham yang tampan. Sebaliknya aku melihat sorot mata yang tidak seperti biasanya.
"Nak Ilham, sebelum akad nikah dimulai, sebagaimana permintaanku yang harus kamu penuhi, sekarang tolong tunjukkan terlebih dahulu surat izin menikah lagi dari istrimu!" Tanya Ayah tenang.
Dari sudut mataku, aku melihat Mas Ilham semakin gelisah, beberapa kali ia merubah posisi duduknya, sesekali ia juga menghapus keringat di keningnya dengan tissue yang tersedia di meja.
"Bagaimana, Nak Ilham? Tidak ketinggalan kan surat itu?" Tanya ayahku sekali lagi.
"Maaf, Ayah. Surat itu kemarin sudah saya persiapkan di tas kecil yang akan dibawa, tetapi saat tadi akan berangkat ke sini, surat itu tidak ada di tas, dan saya menemukan pesan dari Mirna bahwa surat itu telah dibawanya pergi, isteri saya mungkin berubah pikiran tidak siap dipoligami, bahkan ia telah pergi entah kemana dengan membawa beberapa pakaiannya."
"Uuuuft...." Ayahku menghela nafas dalam-dalam, lalu beliau meletakkan tangannya ke pundak Mas Ilham.
"Nak, Ilham! Karena akhirnya isteri pertamamu telah berubah pikiran, maka tidak akan baik jika pernikahan ini dilanjutkan. Anakku tidak akan bahagia jika tidak ada izin dari isteri pertamamu. Kalian bertiga nanti akan banyak menghadapi masalah karena tidak ada keikhlasan dari kalian untuk menjalani pernikahan secara poligami."
Aku menunduk, menekuk muka dalam-dalam, wajahku terasa memanas, degup jantungku semakin keras. Sendi-sendi tubuh terasa lumpuh, akhirnya mata ini basah dan airnya terus membanjiri pipi tanpa isak. Mulutku seperti terkunci rapat, jari-jari tanganku meremas ujung jilbab putih yang kukenakan. Semakin dalam aku menundukkan wajah, rasanya aku ingin segera menghilang dari dunia.
"Aisyah, anakku! Bagaimana dengan kamu, Nduk? Apakah masih ingin meneruskan pernikahan ini?" Tanya ayahku, jelas sekali ada lara di balik suaranya yang tegas dan bergetar.
"Aisy tetap pada prinsip Ayah, bahwa tidak akan menyakiti hati perempuan manapun, karena itu, Aisy rela pernikahan ini dibatalkan."
Dengan segenap upaya menguatkan hati, bibirku bergetar mengatakan keputusan yang sangat menyakitkan. Air mata ini tidak lagi tumpah, aku menangis dalam diam, jauh di lubuk hati yang dalam, tiada isak tangis terdengar, tetapi ada lara yang sangat mencabik-cabik hatiku, bercampur dengan malu yang tak terkirakan.
Sekilas aku masih sempat menangkap kasak kusuk tamu yang hadir, aku juga sempat melihat ibuku menangis sambil memelukku.
Pelan-pelan aku melepaskan pelukan Ibu, aku ingin segera menenggelamkan diri di kamar, dengan lunglai aku berusaha berjalan menuju kamar, dalam hati aku menjerit, "tolong jangan tanyakan lagi, kapan aku nikah, karena aku tidak tahu apakah setelah ini hatiku bisa sembuh."
Beberapa saat setelah itu, aku merasa berkunang-kunang lalu semua menjadi gelap, seolah aku sudah terbang ke dunia lain.
"Aisya, aku sungguh mencintaimu karena Alloh, aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu dan ikut mengantarkannya menjadi penghafal Al Qur'an, aku ingin hubungan kita segera dihalalkan, ibuku sudah merestui kita."
Suara Mas Ilham begitu serius di ujung telpon. Ia sebenarnya teman waktu SMA dulu, hanya saja karena berbeda jurusan, sehingga kami tidak saling kenal.
Baru sekitar satu bulan ini kami secara tidak sengaja bertemu, ketika Mas Ilham mengisi sebuah seminar dan aku sebagai audiens.
Sejak saat itu kami saling dekat, Mas Ilham sering bercerita kalau tidak bahagia dengan isterinya yang pembangkang dan sangat pemarah, sementara aku hanya tetap berusaha menjadi pendengar yang baik.
Akan tetapi, lama-lama aku juga merasa nyaman dengan perhatiannya, begitupun dengan anak-anakku. Hingga akhirnya aku mau ketika akan dijadikannya isteri yang kedua, sebab aku yakin Mas Ilham akan dapat berlaku adil, sebab di mataku Mas Ilham orang yang berilmu dan bijak.
"Aisy! Hallo ... kok diam?"
Suara Mas Ilham membuyarkan lamunanku.
"I, iya, Mas. Aku denger kok Mas bicara apa."
"Kalau begitu, kapan aku bisa menemui orang tuamu?"
"E... tentang itu, aku belum siap, Mas."
"Aisy. Mengapa? Bukannya kamu juga mencintaiku?"
"Tidak dapat dipungkiri, bahwa aku juga mencintaimu, tetapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakiti hati perempuan manapun."
Hening.
"Tidak ada yang kamu sakiti, Aisya. Mirna isteriku sudah bersedia menerimamu sebagai madunya."
"Benarkah? Mbak Mirna bisa menerimaku?"
"Begitulah, Aisy. Jadi tolong sampaikan pada ayahmu, kalau aku ingin menemui beliau untuk meminangmu."
-----
Akhirnya Ayah merestui pernikahan kami dengan satu syarat, yaitu sebelum akad nikah, Mas Ilham harus menunjukkan surat persetujuan menikah lagi dari isteri pertamanya, dan Mas Ilham menyetujuinya.
Waktu pernikahanku dengan Mas Ilham tinggal beberapa hari lagi. Tidak banyak tamu yang diundang, hanya 100 orang saja dari keluarga dan teman dekat. Acara akad nikah juga sederhana, sebab ini bukan pernikahan pertama kami. Aku akan menjadi isteri kedua Mas Ilham setelah beberapa tahun sempat menjanda.
Semakin mendekati hari pernikahan, aku semakin gelisah. Ada rasa senang berbaur dengan ketakutan yang sangat, bagaimanapun cintanya Mas Ilham kepadaku, apakah aku sanggup menjadi isteri kedua, dan apakah Mbak Mirna benar-benar bisa tulus menerimaku?
Dalam kegamangan yang menyesakkan, Mas Ilham selalu dapat meyakinkanku bahwa ini adalah sudah ketetapan dariNya, kami akan baik-baik saja menjalani rumah tangga secara poligami, selama selalu mendekat kepadaNya.
Hari pernikahanku dengan Mas Ilham tiba, kursi-kursi dan semua hidangan sudah tersaji dengan rapi di tempat masing-masing. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, riasanku masih tinggal sedikit lagi diselesaikan.
Lamat-lamat dari dalam kamar aku mendengar rombongan keluarga Mas Ilham datang. Hatiku semakin berdebar tidak karuan, ada semacam firasat yang tidak mengenakkan.
Tidak lama kemudian petugas yang akan menikahkan kami juga datang. "Ya Alloh, kenapa aku semakin berdebar-debar seperti ini?" Tanyaku pada Mbak Neti yang meriasku.
"Wajar saja Mbak Aisy, setiap calon pengantin pasti akan merasakan seperti itu, percayalah, insyaAlloh tidak akan terjadi apa-apa," jawab Mbak Neti.
"Aamiin, semoga semua baik-baik saja ya, Mbak." Jawabku sambil terus menekan tasbih digital yang melingkar di jari tengahku.
Prosesi akad nikah akan segera dimulai, aku dipanggil ibuku untuk keluar kamar dan mendekat ke meja tempat akan dilakukan akad nikah.
Sekilas aku melihat Mas Ilham, ia terlihat gelisah dan beberapa kali menghapus keringat di keningnya. Saat pandangan kami sempat bertemu beberapa detik tadi, tidak ada senyum menghias wajah Mas Ilham yang tampan. Sebaliknya aku melihat sorot mata yang tidak seperti biasanya.
"Nak Ilham, sebelum akad nikah dimulai, sebagaimana permintaanku yang harus kamu penuhi, sekarang tolong tunjukkan terlebih dahulu surat izin menikah lagi dari istrimu!" Tanya Ayah tenang.
Dari sudut mataku, aku melihat Mas Ilham semakin gelisah, beberapa kali ia merubah posisi duduknya, sesekali ia juga menghapus keringat di keningnya dengan tissue yang tersedia di meja.
"Bagaimana, Nak Ilham? Tidak ketinggalan kan surat itu?" Tanya ayahku sekali lagi.
"Maaf, Ayah. Surat itu kemarin sudah saya persiapkan di tas kecil yang akan dibawa, tetapi saat tadi akan berangkat ke sini, surat itu tidak ada di tas, dan saya menemukan pesan dari Mirna bahwa surat itu telah dibawanya pergi, isteri saya mungkin berubah pikiran tidak siap dipoligami, bahkan ia telah pergi entah kemana dengan membawa beberapa pakaiannya."
"Uuuuft...." Ayahku menghela nafas dalam-dalam, lalu beliau meletakkan tangannya ke pundak Mas Ilham.
"Nak, Ilham! Karena akhirnya isteri pertamamu telah berubah pikiran, maka tidak akan baik jika pernikahan ini dilanjutkan. Anakku tidak akan bahagia jika tidak ada izin dari isteri pertamamu. Kalian bertiga nanti akan banyak menghadapi masalah karena tidak ada keikhlasan dari kalian untuk menjalani pernikahan secara poligami."
Aku menunduk, menekuk muka dalam-dalam, wajahku terasa memanas, degup jantungku semakin keras. Sendi-sendi tubuh terasa lumpuh, akhirnya mata ini basah dan airnya terus membanjiri pipi tanpa isak. Mulutku seperti terkunci rapat, jari-jari tanganku meremas ujung jilbab putih yang kukenakan. Semakin dalam aku menundukkan wajah, rasanya aku ingin segera menghilang dari dunia.
"Aisyah, anakku! Bagaimana dengan kamu, Nduk? Apakah masih ingin meneruskan pernikahan ini?" Tanya ayahku, jelas sekali ada lara di balik suaranya yang tegas dan bergetar.
"Aisy tetap pada prinsip Ayah, bahwa tidak akan menyakiti hati perempuan manapun, karena itu, Aisy rela pernikahan ini dibatalkan."
Dengan segenap upaya menguatkan hati, bibirku bergetar mengatakan keputusan yang sangat menyakitkan. Air mata ini tidak lagi tumpah, aku menangis dalam diam, jauh di lubuk hati yang dalam, tiada isak tangis terdengar, tetapi ada lara yang sangat mencabik-cabik hatiku, bercampur dengan malu yang tak terkirakan.
Sekilas aku masih sempat menangkap kasak kusuk tamu yang hadir, aku juga sempat melihat ibuku menangis sambil memelukku.
Pelan-pelan aku melepaskan pelukan Ibu, aku ingin segera menenggelamkan diri di kamar, dengan lunglai aku berusaha berjalan menuju kamar, dalam hati aku menjerit, "tolong jangan tanyakan lagi, kapan aku nikah, karena aku tidak tahu apakah setelah ini hatiku bisa sembuh."
Beberapa saat setelah itu, aku merasa berkunang-kunang lalu semua menjadi gelap, seolah aku sudah terbang ke dunia lain.
Huwa, poligami dari sisi pandang lain.
BalasHapusKeren
Tengkyuuu
HapusBegitu menarik minat pembaca, tapi ada Miss kata di alenia ke lima. Overall is nice writing
BalasHapusMungkin sy bs dibantu, kesalahan tulis nkengn tunjukkan yg mana y?
HapusMungkin sy bisa dibantu ditunjukkan, letak kesalahan tulisnya yg mn?
HapusAs always, very nice, Bu Anis 👍😍
BalasHapusMaturnuwun, panjengn jg sip kq
HapusSedih ya hiks
BalasHapusSedih di awal, selamat seterusnya, mungkin begitu
Hapus