DENDAM BERUJUNG MAUT
"Jangan lupa, nanti tepat jam 12 malam, saatnya kita bertindak. Kabeh uborampene kudu wes pepak, sampai kurang siji, nyawamu dewe taruhane."
"Inggih, Mbah," Marwoto manggut-manggut mendengarkan perintah Mbah Dikun.
-----
Laela terbaring lemah di ranjang lusuh berbau anyir, matanya kosong menatap langit-langit kamar. Perutnya membuncit serupa wanita hamil delapan bulan, hampir seluruh permukaan kulitnya ada borok yang bernanah.
"Auugghh ... haiiiisss ... aaaaa!!!"
Setelah mengerang sebentar, tiba-tiba Laela berteriak lantang. Matanya mendelik nyaris hanya menampakkan skleranya saja. Ada rasa sakit yang teramat sangat dibalik teriakannya yang memilukan.
Bu Linda yang tertidur ketika menunggui Laela tersentak kaget. Bergegas ia mengambil sebuah kendi di meja yang terletak di pojok kamar. Perlahan-lahan air dari dalam kendi dituangkan ke tubuh Laela dari ujung kepala hingga kaki.
Bau wangi kembang menguar di ruangan itu, beradu dengan bau anyir nanah dari tubuh Laela. Bu Linda nyaris berteriak. Tepat pada bagian kemaluan Laela, keluar darah kental merah kehitaman.
Bu Linda menutup mulut dengan tangan kanannya, air matanya bercucuran melihat penderitaan putrinya.
Laela yang tadi berteriak-teriak, sedikit agak tenang setelah tubuhnya disiram air dari kendi. Ia begitu lemah dengan badan yang kurus kering. Dengan telaten, Bu Linda membersihkan darah yang membasahi tubuh bagian bawah Laela.
Sementara di rumah Mbah Dikun, Marwoto menyeringai puas. Boneka yang terbuat dari pintalan jerami yang dipegangnya, ia letakkan perlahan-lahan di atas tempayan yang berisi darah ayam cemani. Sebuah paku masih terlihat menempel pada bagian kemaluan boneka itu.
"Sampai kapan akan kau siksa Laela?" tanya Mbah Dikun pada Marwoto.
"Sampai harta benda orang tuanya habis untuk mengobatkan dia, yang jelas aku tidak akan membuat Laela mati, tapi aku hanya akan membuatnya terus menerus kesakitan." Mata Marwoto berkilat penuh dendam ketika mengatakan itu.
" Hemmm ... kamu sungguh masih menyimpan dendam kesumat pada Pak Broto, ayah Laela."
"Iya, Mbah. Karena kesombongan Pak Broto, Ibuku harus kehilangan nyawanya. Mbah Dikun masih mau membantuku, kan?"
Hening.
Lalu Mbah Dikun hanya manggut-manggut. Malam semakin larut, bau dupa sudah mulai menghilang.
----
"Tolong, Pak. Pinjami saya uang tiga juta, ibuku sedang sakit parah." Marwoto memelas memohon bantuan Pak Broto.
"Cuih!!
Berani-beraninya kau meminjam uangku. Apakah kamu nanti sanggup membayarnya, dengan apa coba? sampai kapan kamu dapat mengumpulkan uang sebanyak itu, sedang untuk makan saja kalian tidak bisa!"
Pak Broto membuang mukanya dari tatapan nelangsa Marwoto. Sambil memilin kumis tebalnya, Pak Broto beranjak pergi tanpa memperdulikan Marwoto yang bersimpuh.
Tangan Marwoto mengepal memperlihatkan otot-ototnya. Giginya gemeletuk menahan amarah, tetapi saat itu ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sejak itu pula sebuah dendam terpatri jauh di lubuk hatinya yang terdalam.
Tubuh Bu Marlin semakin panas, otot-ototnya nyeri semua dan tidak bisa digerakkan, ruam-ruam merah hampir memenuhi tubuh kurusnya. Setiap apa yang dimakan, selalu dimuntahkan lagi.
Sepulang dari rumah Pak Broto, Marwoto nekat menggendong ibunya ke rumah sakit terdekat.
"Mas Marwoto, ibumu terserang chikungunya. Sayangnya Mas terlambat membawa ke sini, semoga masih belum terlalu terlambat," kata perawat yang memeriksa.
Marwoto hanya diam. Tangannya meremas ujung kaosnya yang kumal.
Beberapa jam setelah dirawat, ternyata Alloh beekehendak lain. Nyawa Bu Marlin tidak dapat diselamatkan lagi. Marwoto memukul-mukulkan kepalan tangannya pada tembok kamar mandi di rumah sakit.
"Huaaaaaahhhh!!"
Marwoto berteriak, acapkali ia berperilaku demikian jika mengingat peristiwa itu. Dendamnya pada Pak Broto semakin membuncah.
-----
"Piye, Pak. Wes nemu dukun sing biso nulong Nduk Laela?" tanya Bu Linda cemas sambil menggandeng lengan Pak Broto yang baru datang.
"Abot, Bu. Santet yang dikirim pada Laela itu berasal dari Banyuwangi. Menurut beberapa dukun yang saya datangi, yang bisa menangkal santet Banyuwangi adalah dukun dari Banten. Karena kedua ilmu santet dari kedua kota itu imbang kekuatannya."
"Njur terus piye, Pak? Mesti ongkose larang. Sebab Banten adoh banget teko kene, Pak." Bu Linda terlihat sangat cemas.
"Yo iku, Bu, sing dadi pikiranku. Bondone dewe wes entek, tinggal rumah ini saja, mosok yo arep didol pisan."
"La piye maneh, Pak. Kalau memang harus dijual untuk biaya Pengobatan Laela, ibu ngga apa-apa. Laela anak kita satu-satunya, ibu sudah ngga tega melihat penderitaannya. Masalah rumah kita nanti bisa membeli yang lebih kecil dari sisa penjualan rumah, yang penting sekarang Laela bisa sembuh."
Keduanya kemudian terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Malam jumat kliwon yang kesepuluh, Marwoto sudah datang di rumah Mbah Dikun, membawa kembang tujuh rupa, air dari tujuh sumber mata air yang berbeda, ayam cemani, kemenyan, dan kain mori putih yang tidak terlalu lebar.
"Mbah, sakderenge kulo nyuwun pangapunten."
"Ono opo, Mar?"
"Begini, Mbah. Saat ini saya masih kehabisan uang, jadi untuk malam ini mohon maaf saya belum dapat memberi Mbah imbalan, tapi saya janji, nanti akan saya beri kalau saya sudah mendapat uang lagi." Kata Marwoto sambil menunduk malu.
"Hahahahahaha!....
Ora usah mbok pikir iku, aku percoyo awakmu ora bakal lali karo aku. Sini aku beritahu, bagi orang sepertiku, bayaran itu nomer dua. Nomer satunya adalah, aku harus dapat membuang teluhku pada siapapun yang akan menjadi korban, sebab jika aku tidak dapat membuang teluhku, maka teluh itu akan kembali pada diriku sendiri."
"Ooo, ngaten nggih Mbah."
"Wes, ayo! Kita siap-siap melakukan ritual."
Ketika jam dinding tepat di angka 12 malam, Mbah Dikun mulai komat-kamit membaca mantra. Marwoto duduk bersila di belakangnya, boneka dari jerami yang dibungkus kain mori di buka Mbah Dikun, lalu dicelupkan pada darah ayam cemani yang diletakkan di ember.
Asap dupa mengepul memenuhi ruangan sempit yang hanya diterangi oleh sebatang lilin. Setelah dicelupkan pada darah ayam cemani, boneka jerami itu dimasukkan ke ember yang berisi kembang tujuh rupa dan air dari tujuh mata air yang berbeda.
Sementara Marwoto sudah memegang paku besar di tangan kanannya, siap menusukkan paku itu ke bagian tubuh boneka yang diinginkannya.
Kembali Mbah Dikun membaca mantra. Tubuhnya bergetar, boneka jerami yang ia pegangi ikut bergetar hebat.
Dduaarr!!
Terdengar ledakan yang cukup kencang bersamaan dengan melesatnya boneka jerami yang semula digenggam Mbah Dikun.
Bruk!!
Tubuh Mbah Dikun terpental dan menabrak meja kayu. Marwoto berdiri dengan panik. Ia segera berlari ke arah Mbah Dikun yang terkapar di bawah meja.
"Mbah ... Mbah ... Mbah Dikun tidak apa-apa?" tanya Marwoto cemas.
Mulut Mbah Dikun bergerak-gerak hendak berbicara, darah segar keluar dari hidung, telinga, dan mulutnya.
"Sepurane, Mar. Aku wes ra iso ngewangi awakmu. Aku wes kalah. Pesenku, hentikan dendammu, sebelum kamu mengalami nasib seperti aku."
Baru saja Mbah Dikun menyelesaikan kalimat itu, beberapa saat kemudian kepala Mbah Dikun lemas terkulai. Mbah Dikun telah mati.
Catatan:
- Uborampe: perlengkapan untuk sebuah ritual tertentu
-Chikungunya: virus yang dibawa oleh famili dari Aides aigepty .
-Bondo : harta benda.
Aku selalu suka cerita yg kya gini 😃😍
BalasHapusBagus mbak 🖒
Cuma ada beberapa typo
Tengkyu...
BalasHapusBetul jk ada typo, ngetiknya sambil ngantuk😀
BalasHapusCeritanya keren...ada pesan moralnya
Syukurlah, bisa menangkap pesan itu😘
HapusCeritanya mengerikan
BalasHapusLebih mengerikan mana dibandingkan tgl tua?😀
HapusAku paling suka cerita gini...
BalasHapuscum kurang klimak dibagian akhirnya Kak..hehe
Sdh kehabisan amunisi😀😀
HapusBalas dendam itu sia-sia😔
BalasHapusKak Anis sekali lagi mengangkat citra Banyuwangi😅, kereen!
Pingin mengangkat misyis nganjuk tp blm py bahan
Hapus