Langsung ke konten utama

CINTA PERTAMA YANG TERLAMBAT

CINTA PERTAMA YANG TERLAMBAT

Aku tidak mudah jatuh cinta, bahkan terhadap suamiku, sebab pernikahan kami karena dijodohkan.

Selama menjalani pernikahan, aku hanya berusaha menjadi istri yang baik walau tanpa cinta. Ya, aku hanya berusaha menjalani atas takdir yang sudah digariskanNya.

Tepat di usia pernikahan kami yang ke-13, suamiku telah dipanggil menghadapNya meninggalkan 2 orang anak.

Bukan perkara  mudah menjalani hidup sebagai single parent, bahkan pandangan negatif sebagai janda, acapkali kuterima. Namun aku masih bertahan sendiri karena takut kalau anak-anak tidak bahagia jika punya ayah baru lagi, itulah yang membuatku sulit jatuh cinta.

Tetapi, pertahanan itu akhirnya patah. Aku tiba-tiba jatuh cinta pada Pramudya. Cinta pertama  yang datang terlambat, karena usiaku  sudah tidak muda lagi dan status janda beranak dua.

Cinta itu berawal dari seringnya kami mendapat tugas kantor bersama. Pembawaannya tenang dan perhatian, sangat meneduhkan hatiku yang meranggas. Ia selalu bisa membuatku nyaman.

Usia Pramudya 5 tahun lebih muda dariku, dan ia masih perjaka.  Sedang aku janda beranak dua, kesenjangan itu membuatku sakit. Semakin aku berusaha membunuh cinta itu, semakin kuat  cinta itu memelukku.

"Lagi ngerjain apa, Ev?" tanya Pramudya sambil duduk di dekatku. Aroma parfumnya menguar membangunkan hormon oksitoksin di tubuhku.

Aku memejamkan mata, menikmati aroma tubuhnya, dan membayangkan tangan kekarnya memelukku.

"Hai, Eva! Di tanya kok malah melamun?" aku tergagap, mukaku terasa panas.

"Membuat laporan survey yang kemarin." Jawabku dengan salah tingkah.

"Sini aku bantu," tangan Pramudya tanpa sengaja menyentuh tanganku, saat ia akan mengambil laptop di depanku.

Jantungku berdesir, ada rasa hangat dan bahagia di sana. Dari samping aku mencuri pandang menatap garis mukanya yang tegas, seandainya aku tidak ingat menjaga harga diri, pasti kepala ini sudah kurebahkan di bahunya yang bidang.
----
Beberapa hari ini aku sulit tidur, bayangan Pramudya selalu menari-menari di depan mata. Oh, beginikah rasanya jatuh cinta? Ingin selalu dekat dan buta terhadap segala rintang yang akan datang.

"Hum tere bin abreh nahi sakte
Tere bina kya wajood mera
Tujhse nuda gar ho jaayenge
Toh khudse hinho jaayenge judaa
Kyunki tum hi ho, ab tum hi ho
Zindagi ab tum hi ho ...."

Lagu tum hi ho mengalun lembut, menemani hatiku yang membiru karena rindu pada cinta pertamaku.

Mungkinkah Pramudya juga mencintaiku,  sesak dada ini memikirkannya, mengapa cinta harus hadir di saat seperti ini, mungkinkah cinta itu salah, atau aku yang tidak tepat menempatkannya. Ternyata, memendam rasa cinta itu menyakitkan.

Aku menyungkurkan tubuh di atas sajadah, mengadu kepada Sang pemberi dan pemilik cinta.

Jika Khadijah diperisteri Rasulullah dengan selisih usia yang lebih tua juga berstatus janda, maka aku mohon kepadaMu wahai Robbul Izzatiku, jadikan aku Khadijah yang kedua, atas cinta yang Kau tumbuhkan kepadaku untuk Pramudya.

Jika Pramudya memang Kau hadirkan untuk membasuh segenap pedih dan lukaku, maka satukan hati kami dalam ridloMu. Sajadah ini  basah oleh air mata, kuluapkan semua beban hati dalam bait-bait doa di sepertiga malamku.

Pramudya, aku mencintaimu karena Alloh. Bersamamu aku berharap menjadi makmum yang kau tuntun menuju jannahNya. Semoga engkau adalah anugerah terindah dari Alloh untukku, yang melintas batas kesenjangan ini.

Pramudya, aku mencintaimu. Aku ingin menjadi Khadijahmu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...