TUNAS-TUNAS NEGERIKU
#Pelit pangkal kaya
#Semangat pulang pagi
-----
Aku dikejutkan oleh dua kalimat afirmasi yang terpampang jelas di mading kelas. sepintas kalimat tersebut memang keluar dari jalur semestinya. Tetapi aku mencoba berpikir positif tentang maksud tulisan itu, tidak mungkin siswa siswiku menulis tanpa tujuan.
"Siapa yang menulis kalimat itu?"
Semua menunduk. Hening
"Lho, kenapa ini? Saya menghargai kok pada ide yang ditulis itu, jangan takut. Saya tidak marah, sebaliknya justru penasaran."
"Itu Abhista, Bu, yang menulis." Teriak Wildan dari belakang.
"Oh, ya! Keren kok, sebab berani melawan arus. Coba tolong dijelaskan maksudnya."
Abhista memperbaiki posisi duduknya, badannya ditegakkan. Pandangannya lurus ke depan. Dia menghembuskan nafas dengan pelan dan kuat, lalu mulai menjelaskan.
"Kalimat yang pertama, pelit pangkal kaya. Maksudnya, pelitlah ketika mengeluarkan harta yang dimiliki jika untuk kepentingan pribadi, sebaliknya keluarkan sebanyak-banyaknya jika untuk shodaqoh dan amal baik lainnya. Sebab harta sesungguhnya di akhirat nanti adalah harta yang dishodaqohkan."
"Wah, benar sekali, Bhi. Ibu sangat setuju. Kalau kalimat yang kedua apa maksudnya?"
"He he, saya malu Bu."
Kenapa mesti malu, saya yakin maksud tulisan itu juga keren."
"Kalau kalimat yang kedua itu, untuk semangat kami saja kok, Bu."
"Lho, kok bisa semangat pulang pagi?"
"Di sekolah kita pulangnya setiap hari kan sore, biasanya kalau sudah mulai jam dua siang rasanya lelah dan mengantuk. Jadi Saya menulis seperti itu, supaya kami yang membaca selalau merasa pagi, badan kami seolah masih segar, dan semangat karena masih pagi, walau sebenarnua sudah siang. Siang yang rasanya seperti pagi."
"Wow! Keren sekali kalian." Saya sangat salut. Tepuk tangan dong untuk kelas kita!"
Sontak kelasku X IPA 2 ramai dengan suara tepuk tangan siswa. Begitulah sehari-hari aku menjalani peran sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Aku berusaha tidak membangun jarak, komunikasi yang terjalin menjadi akrab laiknya orang tua dan anak-anaknya.
Setiap rasa lelah dan kadang marah melihat polah tingkah mereka yang sesekali menjengkelkan, saat seperti itu pula aku tatap mereka satu-persatu.
Ku katakan pada diri sendiri, kelak salah satu dari mereka, atau bahkan semuanya, adalah anak-anak hebat yang akan meneruskan estafet perjuangan negeri ini. Begitulah aku menasehati diri untuk selalu bisa semangat mendampinginya.
Kepada mereka, kutitipkan pesan doa, semoga mereka menjadi anak-anak yang dapat bertanggung jawab pada diri sendiri, agama, dan tanah airnya.
Semangat untuk tunas-tunas negeriku.
Kertosono, 22 Agustus 2019
Aaamiiiin ... Doa2 kita sangat dibutuhkan untuk masa depan mereka 😊💪
BalasHapusAamiin
HapusAamiin setuju ya kita harus berusaha dekat dengan anak-anak dan selalu berdoa agar ilmu yang kita ajarkan bermanfaat
BalasHapusKeren, siswi yang inspiratif.
BalasHapusInggih
Hapus