SIAPAKAH AKU?
#tantangan
#Odop
#pekan kedua
Susan Fletcher adalah wanita genius dengan IQ 170, ia juga seorang ahli crypto. Keahliannya tersebut ditantang untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara kebebasan personal dan keamanan Nasional Amerika.
Itulah cerita yang diusung pada novel Digital Fortress karya Dan Brown. Karya lainnya antara lain adalah Deception point yang mengisahkan intrik meraih kekuasaan tertinggi di Amerika dengan memanfaatkan NASA.
Da Vinci Code, Angels & Demond, juga termasuk novel Dan Brown dengan genre khasnya, thriller misteri.
Untuk memenuhi hasratku pada genre detektif dan horor, novel Abdulloh Harahap, Agatha Cristie, Alfred Hitchcock, dan lain-lain menjadi nutrisi bacaan favoritku yang wajib ada.
Berawal dari itulah aku akhirnya lebih menyukai tulisan fiksi, terutama genre thriller, detektif, dan horor. Bagiku, tulisan dengan genre tersebut membutuhkan nalar yang tinggi, sehingga mampu menjadi media untuk mengasah otak dan memacu adrenalin, yang dapat menciptakan kepuasan tertentu.
Sayangnya hingga saat ini aku belum mampu membuat tulisan fiksi yang seperti itu. Jadi, sejauh ini aku merasa lebih nyaman menulis fiksi dengan berbagai genre, baik itu horor, detektif, thriller, romantis dan sosial.
Bagiku, menulis fiksi itu bisa lebih dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Melalui cerita-cerita yang diusung, terdapat pesan-pesan positif yang mudah diterima dan tidak terkesan menggurui, sebab bahasa yang digunakan dalam tulisan fiksi adalah bahasa sederhana, konflik yang diangkatpun banyak terjadi di lingkungan masyarakat.
Ketika aku lebih menyukai tulisan fiksi, bukan berarti aku anti tulisan non fiksi. Hanya saja aku mengklasifikannya sendiri-sendiri.
Jika dalam lingkup pekerjaanku sebagai seorang pendidik, menulis non fiksi juga aku lakukan. Karya ilmiah untuk event-event perlombaan ataupun untuk tuntutan profesi.
Adapun di luar pekerjaan, untuk menyalurkan hobi menulis, aku lebih memilih fiksi.
Menulis adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagiku. Baik fiksi maupun non fiksi, keduanya mempunyai tantangan dan pembaca masing-masing.
Selain sebagai tempat untuk menyalurkan hobi, menulis juga menjadi media untuk menyuarakan pendapat, bahkan juga dapat dijadikan sebagai media trauma healing dan pelampiasan diri atas sesuatu hal.
Melalui ODOP, dengan 'pemaksaan' diri membuat tulisan hingga 60 judul tiap hari non stop, besar harapanku untuk dapat segera menemukan branding diri. Hingga kelak aku berani bersuara pada dunia bahwa aku adalah seorang penulis.
Hidup dengan ODOP, ODOP untuk menghidupkan gairah menulis.
Salam literasi.
Kertosono, 21 September 2019
Selalu ditunggu yang horor2 mbak hehe
BalasHapusKudu senedi dl di kuburan nih, spy dpt ide lg😀😀
HapusWah Bu Anis selama ini tulisannya banyak yang fiksi ya?
BalasHapusSya kira banyak imajinasinya,
Ngayalnya suka kebangetan😀😀
Hapus