SENGKUNI DI BUMI PERTIWI
Menurut pitutur kitab Jawa kuno, Sengkuni adalah seorang pemuda yang sangat tampan, cerdas dan bagus tutur katanya. Ia bernama asli Taruna Harya Suman dari Plasajenar.
Tapi sayangnya, Taruna yang tampan itu akhirnya tidak mampu menjaga segala kebaikan pada dirinya. Ia berubah menjadi seorang yang suka mengadu domba dan menebar fitnah dengan keahlian berbicara yang dimiliki.
Karena kepiawaiannya menghasut dan memfitnah, mulutnya dirobek oleh Patih Gandamana yang menjadi salah satu korban fitnahnya.
Semua itu berawal dari songko uni yang artinya berawal dari kata-kata. Dari kata songko uni inilah kemudian lebih dikenal dengan Sengkuni.
Sengkuni menjadi simbol perwatakan seseorang yang berlidah ular berbisa, artinya seorang yang sangat pandai memutarbalikkan fakta, pandai menghasut, mencari muka untuk kepentingan pribadi, dan pandai memfitnah.
Seseorang dengan watak seperti Sengkuni hampir ada di seluruh belahan bumi manapun. Tak luput di bumi pertiwi Indonesia.
Sengkuni-sengkuni ada hampir di seluruh bagian lingkungan masyarakat. Seperti di perusahaan, di lembaga-lembaga pendidikan, di lembaga pemerintahan, dan lain-lain.
Orang-orang seperti itu sanggup melakukan apa saja demi kepentingan diri sendiri, baik di permukaan tapi menelikung dari belakang, ibarat kata manis di mulut tetapi pahit di hati.
Sengkuni yang artinya berawal dari kata-kata, tidak hanya sesuatu yang terucap melalui lisan. Akan tetapi melalui jari-jari tanganpun bisa terjadi.
Di abad serba canggih sekarang ini, media sosial tidak lagi untuk ajang menjalin komunikasi dan silaturrahim, tetapi juga mampu menjadi wadah yang subur untuk para Sengkuni menebar bisa.
Berita-berita hoax dan saling ghibah mudah sekali dilakukan di media sosial. Maka, Sengkuni abad ini tidak saja menggunakan lisannya untuk bertutur kata, tetapi menjelma melalui jari-jari tangan yang lincah menari di atas keypad handphone atau alat elektronik yang lain.
Dalam sejarah ceritanya, Sengkuni yang katanya tidak bisa mati, akhirnya kelemahannya dapat diketahui oleh Bima. Sengkuni kebal karena permukaan tubuhnya dibalur oleh minyak tala. Oleh karena itu, untuk dapat membunuh Sengkuni, Bima harus menguliti tubuhnya.
Akan tetapi, sebelum Sengkuni menemui ajalnya di padang Kurusetra saat terjadi perang Bharatayudha, ia sempat mengkloning dirinya. Karena itulah Sengkuni-sengkuni akan tetap ada di bumi pertiwi dan belahan bumi yang lain.
Meskipun demikian, Sengkuni bukan berarti digdaya tanpa terkalahkan. Sebab semua makhluk mempunyai kelemahan. Jika Sengkuni di Mahabharata dapat diketahui kelemahannya oleh Bima, maka Sengkuni di abad ini pasti pada titik tertentu juga akan diketahui kelemahannya.
Intinya, setiap kebathilan pasti akan kalah oleh kebenaran. Oleh karena itu, teruslah menebar kebenaran dan kebaikan untuk terciptanya kedamaian pada semesta.
Kertosono, 17 September 2019
wah jadi tahu awal kisah si sengkuni. dan bener banget dunia ini penuh dengan sengkuni di mana-mana. semoga kita tidak menjadi kloningan sengkuni ya.. naudzubillah
BalasHapusSkrg Sengkuni byk berseliweran di jagad maya😀
HapusYiba2 aq terinspirasi 😶
BalasHapusIyakah...wow!
HapusAku jadi ingat dengan kisah para pandawa Versi inda tapi yak
BalasHapusVersi Indonesia maksudnya tepatnya pewayangan jawa
HapusIntinya tdk jauh beda
HapusWalaupun kebaikan sebesar biji bayam
BalasHapusTull
Hapus👍👍🤩
BalasHapusSemoga sengkuni-sengkuni nusantara segera taubat
BalasHapus