RESENSI BUKU
Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Republika)
Tebal buku: 392 halaman
Cetakan keenam, Juli 2012
Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini. Prof. Dr. Dahlan Iskan, beliau adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya.
Karirnya semakin gemilang ketika diangkat sebagai Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Setelah itu, pada masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dahlan Iskan dipilih sebagai Menteri Negara BUMN pada jajaran Kabinet Indonesia Bersatu.
Di balik kesuksesan Dahlan Iskan, ada sejarah perih yang menyertai perjalanan hidupnya. Buku yang berjudul Sepatu Dahlan ini, mengupas tuntas lika-liku perjuangannya.
Laki-laki yang lahir di Magetan pada tanggal 17 Agustus 1951 ini, mempunyai orang tua yang sangat miskin. Bahkan mengenai tanggal lahir Dahlan tersebut hanya rekaan orang tuanya supaya mudah diingat karena bertepatan dengan hari kemerdekaan RI, sebab waktu kelahirannya orang tua Dahlan tidak mampu mengurus akta kelahiran dan tidak pula mencatatnya, semua itu karena kemiskinan yang teramat sangat.
Namun demikian, orang tua Dahlan sangat sadar tentang pentingnya pendidikan. Demikin juga dengan Dahlan yang tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah.
Demi untuk bisa melanjutkan sekolah di MTs Takeran, Dahlan kecil rela berjalan kaki puluhan kilo meter tanpa bersepatu. Kaki -kaki yang lecet baginya sudah biasa, pun dengan perut yang lapar keroncongan.
Sepulang sekolah ia harus menggembalakan kambing, makan dengan menu thiwul itu sudah istimewa, karena saking miskinnya membeli beras pun tidak mampu dilakukan oleh orang tua Dahlan.
Selain menceritakan tentang perjuangan Dahlan menimba ilmu, buku ini juga menggambarkan tentang keinginan Dahlan untuk memikiki sepatu. Jatuh bangun perjuangannya demi dapat memiliki sepatu.
Sejak kecil Dahlan mempunyai pemikiran yang visioner. Hal itu nampak ketika akan memasuki gerbang Pesantren di Takeran, Ia ditanya oleh bapaknya "pilih ngendi, sugih tanpa iman opo mlarat ananging iman?"
Jawaban Dahlan adalah sugih ananging iman. Pilihan jawabannya adalah menjadi orang kaya dan beriman.
Cerita tentang Sepatu Dahlan ini sangat menarik karena penuturannya menggunakan POV 1, sehingga pembaca seolah-olah dihadapkan langsung pada kehidupan masa lalu Dahlan Kecil.
Pembaca akan merasakan emosi yang diaduk-aduk saat membaca bagaimana Dahlan menjalani masa ABG, ia bersahabat dekat dengan Maryati, anak juragan buah yang cukup kaya.
Di saat Dahlan berjuang dengan sekolahnya, ia juga harus dihadapkan pada kematian ibunya yang sakit lever parah.
Lalu bagaimana perjuangan Dahlan meraih mimpi-mimpinya dalam kondisi yang sangat miskin dan ditinggal mati ibunya?
Apakah akhirnya Dahlan mampu membeli sepatu?
Bagaimana pula kisahnya si anak desa itu akhirnya mampu mencapai karir yang gemilang di percaturan politik Indonesia?
Semua pertanyaan itu akan terjawab di buku Sepatu Dahlan.
Kekurangan buku ini adalah pada penggunaan bahasa yang banyak memakai bahasa daerah tepatnya bahasa jawa. Dengan demikian pembaca yang tidak bisa bahasa jawa akan kesulitan memahami isinya.
Adapun kelebihan buku ini adalah, dapat menularkan semangat kepada pembaca khususnya anak muda, tentang keteguhan, keuletan, dan pantang menyerah dalam menggapai cita-cita.
Secara umum buku ini sangat bagus karena penuh inspirasi dan pesan-pesan hidup yang bijaksana.
Sip
BalasHapusMsh jelek, sy asal membuat resensinya, jujur sy tdk mahir membuat resensi
BalasHapusGambar bukunya mana?
BalasHapusGambar bukunya mana?
BalasHapusGa bs caranya posting gambar😭😭
Hapusberarti seakan-akan penulisnya Dahlan Iskan ya, Mbk ...
BalasHapusBegitulahmnrtku, krn penutur menggunakan kata AKU
HapusHmmmm.....
BalasHapusSemangat trus mbak
BalasHapusSemangat Kak Anis,😆
BalasHapusApiiik
BalasHapusTanpa ada covernya, saya sudah melihat kedalaman materi resensi mba anis. Sukses selaluuu....
BalasHapus