Langsung ke konten utama

PREDATOR

                   PREDATOR

#Thriller
#Mengandung adegan kekerasan

Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, Kang Daniel mempersiapkan seekor sapi untuk disembelih pada hari raya idul adha, seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai pemilik restoran bakso yang terkenal enak di seantero bumi Sangkuriang, omset penjualannya memang sangat tinggi. Sehingga mudah baginya untuk berkurban sapi di  setiap tahun.

Para tetangga dan teman-temannya sangat mengagumi Kang Daniel. Di mata mereka ia adalah sosok yang dermawan dan tidak sombong.

Tapi tidak denganku, bagiku Kang Daniel tidak lebih hanya topeng hidup yang bermuka baik.

Sebagai satu-satunya orang terdekat dan kepercayaannya, aku tahu betul siapa Kang Daniel sebenarnya.

Seperti hari ini, aku sudah diberi segepok uang bergambar proklamator RI, sebagai imbalan untuk tugas rutinku, mencarikan daging spesial untuk bahan baksonya.

Beruntung, di sebuah tempat lokalisasi  yang terletak di pinggir desa, aku melihat dua PSK sedang menunggu pelanggannya.

Dengan genit mereka mulai merayuku, lalu aku tawari mereka untuk makan bakso di restoran Kang Daniel yang terkenal itu, sebelum mereka akan 'menjamuku'.

Tentu saja kedua perempuan itu senang sekali menerima tawaranku.

Begitu mereka memasuki mobil, keduanya aku beri kue brownis yang lezat. Tidak lama kemudian, mereka lunglai tak sadarkan diri.

Tugas hari ini selesai. Dua kantung plastik besar berisi daging segar kuserahkan pada Kang Daniel. Ia menerima dengan senyum puas. Akupun bergegas pergi, segera kubersihkan sisa darah di tangan dan bagasi mobilku.

"Ah, biji matanya tercecer di sini rupanya." Aku mendengus kesal. Sejurus kemudian, biji mata itu aku telan, sebab aku malas jika harus membuangnya jauh-jauh. Aku sudah lelah.

"Beni, persediaan daging untuk bakso sudah menipis." Kata Kang Daniel tiga hari kemudian.

"Iya, Kang. Tapi saya kurang enak badan. mungkin baru besok akan saya carikan." Jawabku malas.

"Oke, Ben. Ngga apa-apa. Stok daging masih cukup untuk dua hari ke depan."

Aku mengangguk malas.

Kang Daniel meninggalkan segepok uang lagi padaku, sebelum ia pamit pulang untuk berlebaran idul adha di rumah ibunya.

Menjelang isya', bel di pintu rumah Kang Daniel berbunyi. Aku mengintipnya melalui cctv yang terkoneksi dengan handphonku.

Ternyata tamu itu adalah Amelia, ceweknya Kang Daniel.

"Kang Daniel ada, Ben?" Tanya Amel padaku.

" Eeemm, Kang Danielnya lagi di belakang tuh, susul saja ke sana." Jawabku.

Dengan santai, Amelia melenggang menuju taman belakang. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Sepucuk sapu tangan yang sudah aku lumuri obat bius, segera kubekapkan ke hidung Amel dari belakang.

Tidak sulit. Tubuh Amel yang pingsan segera kugendong, menuju meja khusus yang ada di salah satu ruang tersembunyi di rumah ini.

"Hemmm, lumayan cantik juga si Amel. Pasti dagingmu enak. Jika aku tidak punya kekasih, maka Kang Daniel harusnya juga tidak punya." Aku berkata pada diriku sendiri.

Pisau tajam yang dari tadi sudah di tanganku, pelan-pelan aku goreskan pada batang nadi di lehernya.

"Crot! Darah segar menyembur dari leher yang jenjang itu. Tubuh Amel mengelojot sebentar. Lalu diam tak bergerak.

Aku segera melanjutkan pekerjaanku. Pertama yang kuiris adalah bagian paha. Sebelum daging pahanya aku sayat memanjang, kulit mulusnya aku kelupas pelan-pelan.

Semua daging di tubuh Amel sudah aku iris, tinggal menyisakan bagian dadanya.

Sret!
Pisau tajamku mengiris dua bulatan di dadanya dengan sempurna. Irisan pada dada tersebut aku pisahkan dengan daging dari bagian tubuh yang lain.

Selanjutnya, matanya aku congkel dengan spatula, lidahnya kutarik keluar supaya memudahkan aku memotongnya.

Terakhir, aku harus memotong tulang-tulangnya supaya mudah menguburnya.

Hampir satu jam aku menyelesaikan pekerjaanku. Lemari es tempat penyimpanan daging untuk bahan bakso sudah terisi kembali. Besok Kang Daniel pasti senang melihatnya.
Aku tersenyum sendiri.

Restoran Bakso Kang Daniel hari ini sangat ramai. Aku dan Kang Daniel tersenyum senang di balik meja kasir.

"Beni, tumben Amel tidak menelponku, handphonnya juga ngga aktif. Kenapa ya ... firasatku kok ngga enak gini."

" Eh ... eh ..., ngga tau ya, Kang. Kemarin seharian saya berburu daging di desa seperti biasanya, setelah itu saya tidur, capek sekali.
Sebentar ya, Kang. Saya mau pergi dulu. Ke kolam renang di tempat biasanya."

Aku bergegas meninggalkan Kang Daniel yang masih kelihatan resah karena tidak dapat menghubungi Amelia, kekasihnya.

Sementara itu, ketika aku akan melangkah pergi, di salah satu sudut kafe, aku melihat seorang lelaki misterius sedang duduk sambil mengamati pengunjung restoran Kang Daniel.

Aku dapat mengenali lelaki misterius tersebut, tidak lain dia adalah Yarmus, seorang lelaki pemburu manusia.

Aku tersenyum kecil sambil terus melangkahkan kaki, untuk pergi menuju ke suatu tempat.

Komentar

  1. .....buset....


    Mba anis udah jago juga bikin titik-titik suspense cerpen thriller. Simak terus ah

    BalasHapus
  2. Ayo, bikin jg tulisan dg tema menantang, spy sy ada kawan😀😀😀

    BalasHapus
  3. Cerpen mbak anis selalu buat penasaran 😃🖒🤗
    Aku pernah baca cerita yg mirip dg cerita mbak anis
    Judulnya bumbu warisan, isi ceritanya bisa bikin org mual plus gk selera makan
    Semangat terus mbak 😍 di tunggu lanjutannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...