NILAI BAJU DI NEGERI INI
"Mari, Bu. Silahkan masuk, langsung saja ke ruang verifikasi data ya ...."
Sapa seorang pegawai perempuan dengan ramah.
Aku yang baru sekitar sepuluh menit tiba di kantor kecamatan bagian pembuatan KTP, sudah dilayani dengan cepat. Waktu itu memang tidak banyak yang antri.
Pada kursi deret keempat sebelah kiri dari tempat dudukku, seorang ibu paruh baya berperawakan kurus dan mengenakan pakaian lusuh, wajahnya penuh harap sambil sesekali melongok ke depan.
"Permisi, Ibu!"
Aku agak membungkukkan badan ketika melewati Ibu tersebut.
"Iya, silahkan," jawabnya sambil mengangguk.
Setelah selesai menyerahkan berkas pada pegawai catatan sipil aku keluar. Masih kulihat ibu tersebut makin gelisah.
"Nuwun sewu, Bu. Apakah ibu sedang menunggu seseorang?" tanyaku.
"Tidak, Mbak. Cuma heran saja, saya sudah hampir satu jam menunggu di sini kok belum dipanggil untuk dilayani ya."
"Ibu akan mengurus KTP juga?"
"Iya, Mbak. Saya juga heran kenapa malah Mbak yang dilayani duluan."
"Oh, maafkan saya, Bu. Jika saya tahu ibu antri dari tadi untuk mengurus KTP juga, pasti saya minta ibu didahulukan, mari kalau begitu saya antar ke dalam, nggak usah nunggu dipanggil."
Aku gemas sekali, ingin kulabrak para pegawai di situ yang tidak adil. Seorang ibu yang kurus dan berpakaian lusuh tidak segera dilayani, tetapi kenapa aku yang baru datang secepat itu dilayani.
Aku segera menyadari satu hal, bahwa saat itu aku masih berpakaian dinas lengkap dengan atributnya, bersepatu high heels dan membawa tas kerja. Karena Pakaian seragam dinas inikah mereka memperlakukanku dengan baik?
Saking jengkelnya, setelah ibu itu saya antar ke meja penerimaan berkas, para pegawai itu akhirnya aku omeli, jangan sesekali melayani masyarakat secara tidak adil, apalagi dengan hanya melihat baju yang dikenakan saja.
Aku juga meminta maaf pada ibu tersebut, karena tidak sengaja aku mendahului antriannya.
Kejadian seperti itu ternyata tidak hanya di kantor tempat pembuatan KTP saja. Pernah juga ketika aku memeriksakan anakku yang tiba-tiba panasnya tinggi, karena panik aku tidak sempat berdandan dan mengenakan pakaian yang lebih pantas, tetapi hanya mengenakan daster rumahan.
Jangan tanya, bagaimana pegawai rumah sakit bagian pendaftaran pasien melayaniku. Sedikitpun tidak ada senyum dan kata-kata yang disampaikan sangat ketus.
Tetapi beberapa hari berikutnya, saat hendak mengontrolkan lagi anakku di sela-sela jam kerja, aku masih berpakaian dinas. Sungguh berbeda 180 derajat cara melayaninya, kata-katanya sangat sopan dan ramah.
"Bu! Jika misalnya saya saat ini hanya mengenakan daster rumahan saja, apakah saya masih akan diperlakukan dengan baik seperti ini?" sindirku.
Mendapat pertanyaan seperti itu, ibu petugas itu mukanya memerah malu, ia hanya nenunduk dan mengatakan kata maaf dengan lirih.
Wahai para petugas apapun dan di manapun, jika melayani masyarakat jangan hanya melihat penampilan luarnya saja. Tapi lihatlah mereka sebagai sesama makhluk Alloh.
Kemuliaan seseorang itu tidak dilihat dari harta, tahta, dan rupa, tetapi mulia di sisi Alloh adalah dari kwalitas dan tingkat ketaqwaannya.
Semoga tulisan sederhana ini, dapat menjadi kritik sosial yang membangun dan membawa kebaikan untuk keberlangsungan hablumminalloh dan hablumminannaas.
Kertosono, 23 September 2019
Setuju, bahkan kadang seragam tidak digubris klo tidak menyebutkan asal 😪
BalasHapus😀😀😀
HapusSetuju dengan tindakannya kalau punya kekuatan pakailah kekuatan itu untuk keadilan dan kemaslahatan umat
BalasHapusJoss, berani bertindak.
BalasHapusSaking gregeten,hehe
HapusIkutan geram bacanya...
BalasHapusBtw, geram sama siapa nih??....😀😀
HapusBenar Bu Anis miris sekali, apalagi kalau lihat mengurus KTP yang seolah dipersulit, padahal kalau mereka tau pemilik Google pakaiannya kayak gimna mungkin bakal kaget, seharusnya lebih bisa menghargai sesama, maafkan ya Bu jadi ikut keluar unek" 😅
BalasHapusMonggo...
HapusHebat ...
BalasHapusWkwkwk
Hapusmantap labrakannya
BalasHapusHahaha
HapusTerlalu sering fenomena seperti itu di negeri kita 😔
BalasHapusHancurkan mental spt itu! 😀😀
HapusNegara kita masih mempermasalahkan tingkat kasta, miris 😢😠😠
BalasHapusSedih gue...
Hapusnis, tulisanmu bagus. Kalau saya bikin tulisan serupa tapi berbeda nada, boleh?
BalasHapusKnp tdk, monggo, sy akn ikut senang bacanya..
HapusEh..kalo di WAG grup, namamu siapa sih..
Duuuh..kepo😀😀
Ikutan geram buuu
BalasHapusMemandang orang dari penampilan saja sungguh sombong sekali manusia😤
Keep calm bu...hahaha
HapusSedihnya memang itu yang jamak terjadi, tampilan memang jadi ukuran padahal sering salah takaran
BalasHapusItulaaah
HapusKeadilan memang sudah miris
BalasHapusAyo, kt tegakkan lg bersama²
HapusMiris...
BalasHapusSedih ya, lht kek gituan
HapusDarurat mental. Ayo segera berbenah, dimulai dari rumah, semoga sedikit dari kita akan mampu menjalin perubahan
BalasHapusYups, semangat!
Hapus