MALAM SELASA KLIWON
(Part 2)
Badan Karso yang tinggi besar, nampak seperti monster dalam gelap malam. Setelah melepaskan jaketnya, ia meraih cangkul dan siap mengayunkan ke kuburan Bandi yang masih basah tanahnya.
Kaok, kaok, kaok!
Tiba-tiba seekor gagak hitam mengaok keras, membelah sunyinya malam. Gagak tersebut menukik tajam, nyaris menyentuh kepala Karso.
Karso yang sudah fokus hendak menggali makam Bandi, seketika meletakkan cangkulnya kembali. Gagak itu kemudian bertengger dengan angkuh di atas nisan dan terus bersuara.
Tidak saja kehadiran gagak hitam yang tiba-tiba, Angin pun ikut berhembus lebih kencang, menebarkan hawa panas di sekitar kuburan.
Karso mengusap tengkuknya yang meremang, ia menengok kanan kiri untuk memastikan situasi aman. Meski takut mulai menguasai nyalinya, Karso berjuang mati-matian melawan segenap rasa takut itu, tekadnya sudah bulat untuk dapat membawa tali pocong Bandi. Bayangan harta yang bergelimang membuat nyali Karso bangkit kembali.
Karso mengambil batu kecil dan melemparkan ke arah gagak.
Wuuusst....
Batu kecil itu melesat dan tepat mengenai gagak hitam yang dari tadi bertengger di atas nisan.
Kaokk, kaook, kaookk!
Lalu gagak tersebut terbang dan terus bersuara dengan keras.
Baru saja satu hentakan cangkul Karso mengenai kuburan Bandi, dari arah depan kuburan teedengar suara gemeretak. Angin kembali bertiup kencang.
Tidak lama kemudian, keranda mayat yang sebelumnya tertata rapi di tempatnya, terbang berputar-putar di atas kuburan Bandi.
Melihat hal itu, Karso hanya bengong, tak mampu mengucap sepatah katapun.
Belum hilang rasa terkejut Karso, sekarang keranda mayat itu terbang mengitari tubuhnya. Tak urung, keringat Karso mulai bercucuran, detak jantungnya semakin cepat. Ketakutan Karso semakin bertambah manakala melihat sosok putih ada di dalam keranda.
Bau daging busuk menguar kuat berasal dari sosok putih tersebut. Karso memegangi perutnya menahan supaya tidak muntah.
Hembusan angin yang kencang, menyingkap kain putih yang menutupi wajah sosok itu. Alangkah terjejutnya Karso melihat sebuah muka yang hancur dengan bola mata hilang sebelah, darah bercampur nanah memenuhi mukanya.
Mendapat teror tersebut, Karso berlari-larian tunggang langgang, beberapa kali ia terjerembab jatuh terantuk batu nisan, Karso menyerah, ia tidak sanggup lagi meneruskan mengambil tali pocong Bandi.
----
"Aku telah menggagalkan upaya Karso mengambil tali pocong Bandi, tapi besok kamu tidak boleh gagal mengambilnya," Suara Mbah Dikun serak kepada Sardi,
"Inggih, Mbah. Besok selepas Isya' saya akan melakukanya, Saya sudah tidak sabar untuk dipilih sebagai kepala desa dan akan menjadikan Rara, anak juragan Wahab sebagai isteriku."
"Ingat, besok sebelum subuh, kamu sudah harus berhasil membawa tali pocong Bandi, jangan sampai didahului oleh orang lain."
"Siap, Mbah. Cucumu ini pasti dapat diandalkan," ucap Sardi penuh semangat.
Mbah Dikun dan Sardi segera keluar dari rumpun bambu tempat persembunyiannya untuk mengawasi gerak gerik Karso. Kemudian keduanya beranjak pergi.
----
"Yu Sofiah! Wes nemu sing iso njogo kuburane Bandi opo durung?"
tanya Karso.
"Wah, yo iku lo, Le. Mbakyumu iki asline sedih, para tetangga tidak mau menjaga kuburan Bandi, karena aku juga tidak sanggup membayar."
"Ora usah sedih, Yu. Aku gelem kok menjaga kuburan Bandi, bagaimanapun dia adalah keponakanku."
"Syukurlah kalau kamu mau menjaga kuburan Bandi."
Tanpa sepengetahuan Bu Sofia, Karso tersenyum penuh arti.
"Aku harus memanfaatkan keadaan, besok malam akan kuambil tali pocong keponakanku."
Ucap Karso lirih menyemangati dirinya sendiri.
Kertosono, 19 September 2019
Bersambung....
horor untung bacanya sore2 😁
BalasHapusNgeri-ngeri sedap ya...
BalasHapusRebutan tali pocong 😄
BalasHapusMau ikutan rwbutan? Asyik lo kalo dapat...hhaahahah
BalasHapus