MALAM SELASA KLIWON
(Part 3)
Pagi ini warung Yu Jum cukup ramai, di salah satu meja panjang yang terletak di depan warung paling kanan, Terlihat Ucok, Joko, Jalal, dan Sardi membicarakan hal yang serius sambil sesekali menyeruput kopi masing-masing.
"Jok! Apakah kamu tidak merasa ada yang aneh dengan kematian Bandi?" tanya Ucok.
"Iya, sih. Padahal yang minum miras oplosan kan kita semua, biasanya Bandi juga kuat."
Jawab Joko dengan mata menerawang ke depan, jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan di meja. Jalal hanya manggut-manggut. Sementara Sardi hanya diam, mulutnya menghembuskan asap rokok. Ia nampak sedikit gelisah. Tidak lama kemudian ia pamit meninggalkan warung Yu Jum.
----
Setelah Maghrib, Karso bersiap-siap menuju kuburan, ia telah mengatakan pada Mbakyu-nya untuk menjaga makam Bandi. Tanpa sepengetahuan Bu Sofia, Karso juga telah menyiapkan cangkul, ia bertekad malam ini tidak boleh gagal mengambil tali pocong Bandi.
Di saat yang hampir bersamaan, Mbah Dikun dan Sardi sibuk menyiapkan sesajen di rumahnya.
"Piye Sar, wes lengkap to? Ojo onok seng ketinggalan!" tanya Mbah Dikun.
"Sampun, Mbah. Kembang tujuh rupa, kemenyan, air dari tujuh mata air yang berbeda, dan darah dari ayam cemani," Jawab Sardi.
"Yo wes lek ngunu, ayo ndang mangkat nang kuburan. Ojo sampek kedisikan Karso utowo wong liyo."
"Inggih, Mbah. Monggo."
Benar saja, Karso sudah ada di dekat makam Bandi. Mbah Dikun dan Sardi segera mencari jalan lain, mereka menuju ke rimbunan pohon bambu di dekat sungai.
"Kita sembunyi dulu di sini, tunggu keadaan aman, aku akan mengusir Karso dari sini." Ucap Mbah Dikun tenang."
Malam semakin larut, angin kuburan menyebarkan wangi bunga kamboja. Deritan pohon bambu yang saling bergesekan menambah suasana sangat mencekam.
Karso mengeluarkan cangkulnya, ia bertekad segera membongkar makam Bandi.
"Assalamualaikum!"
Bugh!
Suara cangkul Karso yang terlempar karena kaget dan jatuh ke tanah. Perlahan ia membalikkan tubuhnya.
"E ... e ... Ki, Kyai Ruhyat!"
Karso gemetaran melihat Kyai Ruhyat tiba-tiba sudah ada di depannya.
"Kenapa kamu gemetaran gitu, bukannya jawab salam saya?"
"Anu, Kyai. Sungguh saya kaget saja tiba-tiba Kyai ada di sini, saya tidak mendengar langkah panjenengan."
"Kamu sih, terlalu sarius menatap makam Bandi. Oh ya, kamu sedang apa kok saya lihat tadi membawa cangkul?"
Karso menelan salivanya, degup jantungnya lebih cepat dari biasanya.
"Eeng ... anu Kyai, saya sudah bilang pada ibunya Bandi untuk menjaga makamnya malam ini, terus tadi pas saya tiba, saya sudah melihat cangkul itu di sini, makanya tadi mau saya pindahkan. Tiba-tiba Kyai datang mengagetkan saya," ucap Karso berbohong.
"Oh, begitu. Ya sudahlah, kalau begitu tolong, kamu gelar tikar saya, kita jaga makam Bandi bersama-sama."
Kyai Ruhyat dan Karso bercakap-cakap. Dalam hatinya, Karso mengumpat kesal karena usahanya malam ini harus gagal lagi, karena kehadiran Kyai Ruhyat.
Menjelang pukul 11 malam, tiba-tiba angin dingin berhembus tidak seperti biasanya. Bau kemenyan menguar menusuk hidung.
"Auuufftt!"
Bandi menguap lebar. Matanya tiba-tiba terasa berat, rasa kantuk begitu kuat membuat tubuhnya limbung.
"Astaghfirullah!"
Kyai Ruhyat segera menyadari apa yang terjadi. Karso sudah tersungkur di sampingnya, tertidur dengan pulas.
Kyai Ruhyat segera bersila. Tangannya menyilang di depan dada.
"Allohu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum. Laa takkhudzuhu sinatun wa laa nauum."
Dengan konsentrasi penuh, Kyai Ruhyat membaca ayat qursy.
Angin bertiup semakin kencang, membawa udara dingin dan aroma kemenyan.
"Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ' aliyyil 'adziem. Laa haula wa laa malja'a minallohi illaa ilaihi."
Berulang-ulang Kyai Ruhyat membaca kalimat-kalimat dzikir. Tubuhnya bergetar. Keringat mulai menetes satu persatu. Kemudian dengan satu hentakan, ia menyabetkan sorbannya ke depan.
Duaarr! Duaarr!
Terdengar suara ledakan dari arah rumpun bambu di tepi kuburan.
"Alhamdulillah". Kyai Ruhyat mengusapkan kedua tangan pada mukanya.
Di balik rumpun pohon bambu, Mbah Dikun terjungkal dan muntah darah. Sardi panik sendirian.
Setelah merapikan baju dan sorbannya, Kyai Ruhyat berjalan dengan tenang ke arah rumpun bambu. Sedikit sinar rembulan cukup menerangi kuburan dan sekitarnya.
"Kamu tidak usah khawatir, Sar. Besok kamu bawa Mbah Dikun ke rumahku, insyaalloh saya bisa membantu menyembuhkannya."
Ucap Kyai Ruhyat pada Sardi yang nampak ketakutan."
"Maafkan saya, Kyai. Saya khilaf." Ucap Sardi sambil mencium tangan Kyai.
"Minta maaflah pada Alloh, dan jangan diulangi lagi apa yang akan kamu perbuat malam ini bersama Mbah Dikun."
-----
Mbah Dikun dan Sardi sudah menunggu Kyai Ruhyat yang sedang sholat dluha. Tubuh Mbah Dikun masih nampak lemah dan nafasnya sesak. Dadanya membiru sebesar telapak tangan orang dewasa.
Tidak berapa lama, Kyai Ruhyat menemui mereka di ruang tamu.
"Saya tahu apa yang akan Mbah Dikun lakukan, makanya saya datang ke kuburan. Apa yang akan Mbah lakukan itu dosa, biarkan jenazah Bandi tenang di alamnya. Tidak manusiawi pula membongkar makam seseorang hanya untuk diambil tali pocongnya dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi."
"Iya, Kyai. Saya tahu apa yang saya lakukukan itu salah." Ucap Mbah Dikun lemah. Sementara Sardi hanya menunduk saja.
"Saya akan berusaha mengobati Mbah Dikun, tapi syaratnya Mbah harus bertobat dan tidak akan mengulangi hal-hal seperti ini lagi, kepada mayat siapapun."
"Iya, Kyai. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tapi sebenarnya saya melakukan ini tidak atas kemauan saya sendiri, semua terjadi begitu saja, akan tetapi tentang kematian Bandi sebenarnya itu kesengajaan, ada yang sengaja membunuhnya." Ucap Mbah Dikun agak memelankan suaranya.
"Benarkah? Siapa orang itu, apakah Sardi?"
Kyai Ruhyat menatap tajam Mbah Dikun dan Sardi bergantian. Sardi semakin menundukkan kepalanya.
"Bukan, Kyai."
"Lantas siapa?"
"Bu Sofia." Mbah Dikun menyebutkan nama itu setengah berbisik.
"Apa? Mana mungkin, itu kan anaknnya sendiri?"
Tanya Kyai Ruhyat dengan suara agak tinggi karena tidak percaya.
"Sungguh, saya tidak berbohong, Kyai."
"Jangan asal melempar batu sembunyi tangan kamu Mbah, apa lagi dengan memberi tuduhan kejam pada Ibunya Bandi."
Bentak Kyai Ruhyat.
"Sungguh saya tidak berbohong, saya berani dihadapkan pada Bu Sofia." Mbah Dikun menatap Kyai Ruhyat untuk meyakinkannya.
"Apa mungkin seorang ibu tega melakukan itu pada anaknya, sedangkan Bu Sofia itu orang yang baik." Kyai Ruhyat menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Semula berawal dari keputusasaan Bu Sofia terhadap Bandi. Ia merasa malu punya anak seperti Bandi yang pekerjaannya mabuk dan sering membuat onar.
Bu Sofia juga berfikir, jika Bandi mati, setidaknya ia tidak lebih lama melakukan dosa di dunia ini, maka ia menyuruh Sardi untuk mencampurkan bubuk biji kecubung pada miras oplosannya.
Dengan cara itulah, Bu Sofia bisa menyelamatkan Bandi dari semakin menumpuknya dosa, sebab berbagai nasehat sudah tidak diindahkan oleh Bandi. Dengan alasan itu pula, Sardi mau membantu Bu Sofia.
Waktu itu, ketika Bandi dan kawan-kawannya 'berpesta' minum-minuman keras yang dioplos, diam-diam Sardi memasukkan bubuk biji kecubung pada botol yang dipegang Bandi.
Bandi dan teman-temannya tidak mengetahui hal itu karena mereka sedang asyik bermain kartu sebelum mulai minum-minum. Sardi sendiri berpura-pura melihat permainan kartu mereka sambil memesan kopi.
Tanpa direncanakan sebelumnya, ternyata hari kematian Bandi tepat di hari selasa kliwon, maka Sardi tiba-tiba mempunyai inisiatif untuk mengambil tali pocong Bandi dengan meminta bantuan saya.
Sebelum meminta bantuan itu, Sardi menceritakan ikhwal kematian Bandi yang sebenarnya.
Sardi menjanjikan kepada saya, apabila ia berhasil terpilih menjadi lurah, dengan bantuan ritual menggunakan tali pocong Bandi, Saya akan diberi 3 ekor sapi.
Jadi begitulah Kyai, yang terjadi sebenarnya. Tetapi tentang niat Sardi dan saya mengambil tali pocong Bandi, Bu Sofia tidak tahu.
Bu Sofia hanya tahu, tugas Sardi selesai dengan baik."
Kyai Ruhyat, Mbah Dikun, dan Sardi kemudian terdiam. Hening.
"Baiklah, Mbah. Saya percaya kata-katamu. Sekarang minumlah air ini."
Kyai Ruhyat menyodorkan segelas air putih yang ia ambil dari kamarnya.
Setelah meminum air tersebut, Mbah Dikun terbatuk beberapa kali. Lalu ia merasakan dadanya tidak lagi sesak dan tubuhnya berangsur segar kembali.
"Kyai, kami sungguh menyesal atas semua ini. Bu Sofia pun sebenarnya juga menyesal, sepulang dari pemakaman Bandi, Bu Sofia sempat menemui saya dan menyatakan penyesalannya, ia merasa terlalu bodoh mengambil keputusan."
Ucap Sardi sambil menahan tangisnya.
"Ya sudah kalau begitu, kalian setelah ini saya sarankan sholat taubat, Bu Sofia juga akan saya temui untuk membicarakan tentang kebaikan penyelesaian kasus kematian Bandi."
T a m a t
Banyak sekali fenomena yg hampir sama spt kisah ini terjadi di sekitar kita y bu, ngeri
BalasHapusLingkungan di sekitar kita, adl bank ide yg takkan prnh habis
HapusSalat Tobat ya, baik mbah
BalasHapusHahahha
HapusKetagihan aku baca cerita horor gni 😍
BalasHapusWah, seneng nih py teman penyuka genre horor
BalasHapusSpesialis cerita horror nih mba Anis mah... 😁
BalasHapus*Beberapa kali baca tulisannya di Fb. ✌
Hidup adl bank ide, krn hidup lebih aneh dr fiksi 😔,
BalasHapusTop sperti biasanya, Kak Anis 😍
bagus. numpang nimbrung aja dulu ya.. hehe
BalasHapus.
.
Arsilogi.id :)
👍
HapusApa anda ingin memeras keringat dingin anda? Hubungi anis hidayati, spesialis pendongeng jantung copot tengah malam.
BalasHapusWow....iyakah...tersanjung sy.wkwkwk
Hapus